DI TENGAH HUJAN

1150 Words
Wajahku memerah, merasa malu dengan kelakuan yang baru saja dilakukan dengan Leonite. Kami berdua berbagi ciuman yang lembut, sejujurnya itu juga memabukkan. Tapi, ketika aku ingat bagaimana status Luisa dan Leonite, ciuman itu seakan menjadi racun. Sebagai wanita dewasa, aku jelas merasa sedikit terhibur dengan ciuman itu. Andai saja tidak berada di tubuh Luisa, aku pasti akan sangat senang. Siapa yang menolak malam panjang dengan seorang pria tampan? Jelas tidak ada, kan? Yah, itu pendapat yang aku lontarkan secara umum, karena memang hal pertama yang aku lihat dari seseorang adalah wajahnya. Tidak munafik, aku suka orang tampan, dan Leonite sudah sangat memenuhi standar. Tapi lagi dan lagi, fakta jika Luisa Montpensier adalah adik kandung Leonite membuatku gerah. Walau Leonite mengatakan jika perilaku semacam itu sudah biasa dilakukan, tetap saja aku merasa canggung. Luisa, apa hidupmu dipenuhi orang gila? Jangan salahkan aku atas nasibmu, aku tidak memberikan deskripsi yang seperti ini pada jalan ceritamu dan keluarga. Hah ... memikirkannya saja membuat sebagian kewarasanku hilang. Hal yang terjadi juga semakin menekanku untuk segera pergi dari sisi pria-pria peran utama, tentunya para pendukung yang disebutkan di novel aslinya. Sebenarnya ... sehancur apa dunia yang kuciptakan? Ah, pantas saja tak ada yang bisa menandingi Tuhan. Ternyata beginilah jika aku mencoba menjadi sosok Tuhan walau hanya di buku saja. Jika diingat lagi, aku bahkan tak tahu berapa usia Luisa saat ini. Kesalahanku cukup fatal karena tidak memberikan detail yang cukup pada tiap karakter. Ternyata memang masih banyak kekurangan dalam hal remeh, dan mungkin alasanku berada di sini untuk memperbaikinya. Tapi, jika memang banyak kekurangan editorku bisa langsung mengatakannya! Kenapa aku harus dikirim ke dunia ini? Ternyata tulisan yang aku buat dan anggap sempurna, cacat hanya karena tidak menerangkan hal kecil secara spesifik. Haruskah bertanya pada Leonite tentang banyak hal? Tapi, jika harus bertanya. Apa yang akan aku tanyakan padanya? Tidak! Aku masih begitu malu karena ciuman di atas ranjang tadi, ditambah juga akan aneh jika aku sampai menanyakan hal-hal tidak masuk akal. Leonite yang pergi tanpa sepatah kata saja sudah membuatku agak canggung. Hah ... kenapa bibirku seenaknya saja bergerak dan melakukan hal gila itu. Setelah aku bertanya apa dia ingin melanjutkan atau tidak, pria itu, Leonite, langsung pergi dari kamar dengan wajah memerah dan tubuh yang sedikit gemetar. Aku tahu dia berusaha mati-matian menahan birahinya yang memuncak, menahan tubuhnya agar tidak kehilangan kendali. Tapi, sebagai wanita normal aku juga menginginkan adegan 21+ dengannya. Mengingat kehidupan pertamaku yang lumayan bebas, dan termasuk sering melakukan olahraga ranjang, aku jadi ... yah, aku benar-benar jadi ingin disentuh dan dimanjakan tubuh seorang pria. Tapi ... Ah, sial! Rasanya ujung jemari Leonite yang menyentuhku tadi bagai aliran listrik, membuat reaksi aneh pada sekujur tubuhku. Ini rasanya sangat menyiksa, tapi sialnya tak bisa dituntaskan dengan mudah. Huaaaaa ... Memalukan. Tak terasa pula kedua tanganku, menutupi wajahku yang sudah memerah. Bisa-bisanya celana dalamku basah hanya karena disentuh sedikit saja. Leonite, maafkan aku. Seharusnya aku membuat alur cerita yang jelas untuk keluarga Duke Montpensier. Seharusnya aku menambahkan keterangan cinta seperti apa yang kalian semua tanam untuk Luisa, wanita yang aku rasuki ini. Sudahlah, lebih dari itu ada baiknya menahan diri. Jangan sampai kejadian seorang kakak menghamili adik kandungnya membuat keluarga hancur lebur. Aku sebaiknya segera pergi, menuju ke tempat yang aman untuk menghindari masalah. Tidak hanya kabur dengan elegan, tentunya banyak hal yang harus diperhatikan dengan baik. Penyamaran saat menikmati waktu adalah hal sempurna, semua bagian dari diri Luisa sangat mencolok, membuat orang mengenalinya dengan mudah walau mendengar ciri-ciri fisik saja. Yah, itu rencana yang sempurna. Setelah memikirkan dan bersiap, aku akan segera pergi. Ada banyak hal yang harus diperhatikan, bahkan harus menunggu semua orang lengah. Jam dua belas malam, para penjaga akan berganti tugas untuk berpatroli dan mengamankan vila. Aku punya kesempatan sekitar lima belas menit, keluar dari jalur rahasia vila, dan tiba di jalan utama dengan selamat. Leonite pastinya tidak akan menyangka hal ini, dia sudah memilih kamarnya yang nyaman untuk menenangkan diri, bahkan tidur dengan lelap. •••• “Hah, akhirnya bebas juga. Baiklah kudaku Diones yang tampan, mari kita liburan dengan gaya paling estetik.” Di sinilah aku sekarang, menunggangi kuda jantan di tengah guyuran hujan. Hanya membawa tubuhku, lalu ada banyak uang juga yang aku simpan. Ngomong-ngomong, apa kuda bisa terkena penyakit seperti demam hanya karena hujan? Hah ... salahkan saja cuaca ini, aku berharap bisa cepat keluar dari wilayah Linion, dan menghindari semua hal merepotkan. Tubuh ditutup dengan jubah hitam yang langsung memiliki tudung kepala dengan warna senada, tak lupa di tubuhku juga banyak perhiasan mahal. Tujuannya sudah jelas, akan kujual begitu koin emasku habis. Benar, ini cara bertahan hidup ala bangsawan yang melarikan diri. Aku sungguh pintar, kan? Beruntung saja perhiasan Luisa lumayan banyak yang tertinggal di vila, dan bisa diselundupkan dengan mudah menggunakan tubuhku sendiri. Ah ... aku merasa seperti pedagang perhiasan berjalan. Jika bertemu perampok, mereka tak akan tergoda kecantikan Luisa, tapi tergiur dengan semua perhiasan mahal yang melekat dan bergelantungan di tubuh ini. Aku sudah memikirkan dengan sempurna setiap rencana, semoga saja bisa menemukan tempat yang nyaman setelah ini. Tujuan pertama ke sebelah utara Linion, mencari salah satu Penyihir Kekaisaran yang sudah pensiun dan membuka usaha di desa kecil, Vernox. Informasi ini aku dapatkan dari salah satu surat yang datang kemarin. Temanku, salah satu bangsawan yang memberikan informasi. Dia memintaku untuk segera melarikan diri ke mana pun, dia juga memberikan informasi yang sempat kuminta saat mengirim surat dari kastil di Ibu Kota waktu itu. Kabarnya Putra Mahkota mengerahkan banyak kekuatan untuk mencariku. Berita pernikahan yang batal pastinya menjadi tamparan kuat untuknya, rasa malu karena beritanya sampai menyebar ke mana-mana. Hah ... secara tidak langsung aku sudah menghancurkan reputasi peran utama pria. Baik bagi kalangan bangsawan Kekaisaran ini, atau juga dari negara monarki lainnya. “Kuharap ini berhasil.” Bicara sendiri seperti orang gila, menunggangi kuda di tengah guyuran hujan, lalu pergi dengan cepat tanpa peduli pada suara guntur atau pun petir yang menggelegar. Hah, aku tak bisa mendeskripsikan kegilaan macam apa ini. Jika memang harus sakit, mungkin itu sudah nasib yang harus diterima. Masalah akan semakin banyak jika hanya berdiam diri, walau harus sakit sehari atau dua hari itu sudah cukup sebagai balasan bermain hujan. Semoga saja aku bisa melakukan semuanya dengan baik. Walau Luisa wanita bangsawan yang harus selalu diikuti oleh pelayan dan ksatria, jangan lupa juga jika jiwanya adalah milikku. Aku yang sudah biasa hidup sendiri di dunia modern, pastinya bisa dengan mudah mengurus diri sendiri. Andai di sini sudah ada pesawat, pastinya melarikan diri ke negara yang sangat jauh akan menjadi solusi paling baik dan masuk akal. Baiklah, Desa Vernox. Aku akan datang, bersiaplah menyambut orang kaya yang kurang pekerjaan melarikan diri. Sepertinya aku bisa memiliki usaha baru sekarang. Mengajari para nona-nona bangsawan melarikan diri dengan sempurna. Sudahlah, cukup dengan pemikiran yang aku ucapkan sejak tadi dalam otakku. Sekarang aku hanya bisa berlari dengan cepat, mencari tempat beristirahat, lalu berdoa agar tidak bertemu perampok atau penjahat lainnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD