Author POV
"Sin, kita keluar yuk, bioskop kek, cafe kek, atau kemana aja deh, yang penting keluar. Suntuk nih di apartemen trus."
“Yakin lo?”
“Iyalah, emang kenapa?”
“Ini bener Siska temen gue kan?”
“Menurut lo?”
“Lo nggak salah makan kan kemarin, badan lo baik-baik aja kan? Nggak panas kan?”
“Apaan sih lo, Emang kenapa?”
"Ya dari kemarin sikap lo aneh banget tau nggak sih. Dan sekarang tumben lo ngajak keluar, biasa nya kalo diajak selalu aja nolak dengan seribu alasan."
"Iya nih, gue lagi bosen banget dirumah, butuh hiburan."
"Ya udah nanti siang gue jemput, apa sih yang nggak buat kesayangan gue ini. Soalnya sekarang gue masih di kasur, masih mager banget nih."
"Dasar lo ya. Ya udah gue tunggu."
Pagi ini Siska menelpon Sinta buat ngajak keluar, karena memang hari ini adalah hari minggu. Hari untuk melepaskan segala kepenatan yang berurusan dengan pekerjaan dan kantor.
Siska berpikir dia memang butuh refressing. Jika dia berdiam diri di rumah, bisa-bisa dia gila karena di otaknya selalu berputar-putar wajah boss nya. Emang nggak capek ya.
Sekitar jam 2 siang, Siska sudah siap dengan dengan dress merahnya, rambut terurai, dan make up tipis. Tinggal menunggu Sinta datang menjemput. Siska memang selalu tampil sederhana, tanpa make up yang menor kayak tante-tante.
Tanpa menunggu lama, Sinta akhirnya datang dan mereka langsung berangkat. Planning mereka hari ini mau ke bioskop dulu dan kebetulan ada film yang bagus hari ini.
"Gilaaaaa, sumpah parah banget. Film nya bikin baper banget. Gue sampai bisa ngerasain kisah cinta mereka. Apalagi pemeran cowoknya. Perfect banget. Sisakan satu cowok seperti itu untuk hamba ya Tuhan." Ucap Sinta.
"Gue aminin aja deh, soalnya kalau dipikir-pikir kalau emang beneran ada cowok seperti itu, cowoknya nggak mungkin mau sama lo." Ejek Siska sambil tertawa jahat.
"Sial lo ya, sahabat macam apa kau?"
"Harusnya lo berterima kasih dong sama gue, gue udah menyadarkan lo dari mimpi yang terlalu tinggi, dari pada nanti tambah ketinggian kan jatuhnya tambah sakit dan bisa berakibat fatal."
"Serah lo deh. Orang kelamaan jomblo otaknya agak sengklek."
"Yah,,, situ nggak ngaca neng?"
"Tapi kan mendingan gue, udah pernah ngerasain yang namanya pacaran. Nah kalo lo, boro-boro pacaran, deket sama cowok aja nggak pernah." Ejek Sinta.
"Eh tunggu, apa jangan-jangan lo nggak suka cowok, atau jangan-jangan..... Lo suka ama gue???" Lanjut Siska.
"Sialan lo ya, gue masih normal kali." Jawab Siska kesal, sambil melempar kertas menu makanan ke arah Sinta.
Mereka sekarang berada di sebuah cafe, setelah hampir satu setengah jam menonton film bergenre romantis di bioskop.
"Eh Sin, gue mau ngomong sesuatu."
"Paan? Bukannya dari tadi lo udah ngomong ya."
"Rese lo ya. Maksud gue, pengen curhat."
"Kenapa? Kayaknya serius amat?"
"Lo inget nggak waktu gue sama boss meeting diluar kota beberapa hari yang lalu?"
"Iya gue inget."
"Waktu itu kan gue bangun kesiangan, nggak sempet buat mompa ASI gue, dan sialnya gue juga lupa bawa itu alat pompa. Dan lo tau nggak kita meeting nya dimana?
"Nggak."
"Kita meetingnya di perbukitan. Sepanjang jalan hanya ada hutan belantara. Dan masih sedikit banget penduduknya. Dan sialnya kita pulang sampe malem."
"Trus?"
"Ya lo tau sendiri kan kalo gue sehari nggak mompa s**u gue, rasanya sakit banget."
"Iya gue tahu, lha trus lo gimana?"
"Pak Devan bantuin gue meminum s**u gue."
"Uhuk ..... Uhuk ..... Uhuk." Sinta keselek makanan yang telah dipesannya.
"Nih minum dulu, makanya kalo makan ati-ati." Ucap Siska sambil menyodorkan minuman pada Sinta.
"Ini gara-gara lo kampret. Maksudnya bantu minum s**u lo gimana? Yang jelas dong jangan ambigu."
"Ya dia meminum s**u gue pakek mulutnya dia langsung."
"Haaaaaahhhhhhhh????"
"Pelan-pelan woy, noh orang-orang pada liatin lo."
"Iya iya sorry. Kok Pak Devan mau bantuin lo?"
"Mungkin karena dia nggak tega kali ngeliat gue kesakitan."
"Trus habis itu kalian ngapain?"
"Maksud lo?
"Ya mungkin lanjut ketahap selanjutnya."
"Dasar otak m***m. Ya nggak ngapa-ngapain lah. Kita langsung pulang."
"Yah sayang banget. Trus sekarang lo sama Pak Devan gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, kita biasa aja seperti sebelum-sebelumnya."
"Yah nggak seru dong."
“Jadi ini yang ngebuat tingkah lo aneh akhir-akhir ini.” Lanjut Sinta.
“Hehehe…. Iya.”
“Pasti karena ini juga kan, lo tumben-tumbenan ngajak hang out.”
“Eeemmm… nggak juga sih. Karena emang gue lagi suntuk aja di rumah.”
“Alah, nggak usah ngeles lo, pasti karena lo kepikiran terus kan sama Pak Devan. Ngaku aja. Gue tu kenal lo bukan baru itungan hari atau minggu, tapi gue kenal lo udah bertahun-tahun. Jadi gue paham banget luar dalam lo.”
“Iya iya. Tebakan lo bener semua.”
“Tuh kan.”
"Udah ah, cepet habisin makanan lo, lalu kita pulang. Gue pengen istirahat, gue nggak mau telat bangun lagi."
"Iya iya."
"Eh lo jangan-jangan bilang siapa-siapa ya soal tadi, apalagi sama temen kantor."
"Siap neng, rahasia aman bersama Sinta."
Devan POV
"Lo mau pesen apa Dev?"
"Samain lo aja deh."
Gue sama Riko sedang makan malam di Cafe. Tadi tiba-tiba Riko telepon gue ngajakin makan diluar. Katanya dia nggak punya apa-apa di apartementnya. Kasihan banget, kayak rakyat jelata aja. Padahal gaji yang gue kasih udah lebih banyak dari gaji asisten pribadi di kantor lain. Tapi gue iyain aja lah, lagian gue juga bosen banget seharian di rumah.
"Eh bukannya itu sekretaris lo?"
Gue mencari kearah yang ditunjuk Riko. Sial, kenapa dia disini. Gue kesini tujuannya biar gue bisa ngelupain dia, karena seharian di otak gue isinya cuman dia dan nggak mau pergi.
Sebenarnya kemarin waktu kita ketemu di kantor jantung gue rasanya ingin memisahkan diri dari tubuh gue. Karena saking cepetnya berdetak. Tapi untungnya gue bisa nahan diri dan berlagak sok cuek. Kan kalau ketahuan Siska bisa malu tujuh turunan gue.
"Eh ternyata sekretaris lo cantik juga ya, apalagi pakek dress warna merah gitu, terlihat sangat menggoda. Wah kemana aja gue selama ini, nggak menyadari ada bidadari cantik dideket gue."
Jiwa keplayboyan Riko udah keluar kayaknya. Gue dari tadi diem sih, tapi sambil ngelirik ke arah Siska juga sebenarnya. Tapi yang di bilang Riko emang semua nya bener. Dia terlihat sangat cocok dengan warna merah. Gue juga baru sadar ternyata Siska emang bener-bener cantik.
"Kita samperin yuk bro?" Ajak Riko.
"Nggak ah, di sini aja."
"Lo mah nggak asyik."
Tiba-tiba si Riko udah nyelonong pergi aja. Gue ditinggal sendiri, gini amat nasib gue, kayak jones. Gue juga pengen banget ikut nyamperin mereka. Tapi gue takut nggak bisa mengendalikan diri gue. Kan bisa berabe kalau ketahuan sama mereka.
Gue lihat mereka udah asyik ngobrol aja, katawa-ketiwi. Apalagi Siska keliatan nyaman banget ngobrol sama Riko.
"Emang sialan tu si kampret Riko."
TBC
******