“Kenapa Freya tidak mencariku?” tanya Leana pelan, suara itu nyaris seperti bisikan.
“Dia ingin. Tapi dia merasa tak pantas. Katanya, dia sudah merebut segalanya darimu … cinta, persahabatan, dan masa depan. Dia merasa bersalah karena kamu pergi karena dirinya.”
Leana menunduk. Air matanya mulai menetes, jatuh satu per satu ke pangkuannya.
“Tidak. Aku yang harusnya minta maaf. Aku pergi tanpa bertanya, tanpa bertahan .…”
Kiandra beranjak dari duduknya untuk menghampiri Leana dan mengulurkan tangan, menggenggam jemari Leana yang dingin. “Freya ingin kamu tahu ... bahwa dia tidak pernah membencimu. Bahkan hingga akhir hayatnya.”
Tangis Leana pecah. Beban yang selama ini dia pikul meledak dalam diam, di hadapan seseorang yang baru dia kenal, namun membawa pesan paling penting dalam hidupnya.
Takdir itu … lucu, ya, kan? Takdir itu, adalah semesta. Sesuatu yang diyakini memiliki banyak lapisan misteri yang tak terungkap.
Usapan lembut di tangan dan bahu Leana dari Kiandra itu membuatnya tenang. Untuk pertama kalinya, selain kedua sahabatnya yang jauh, Leana ditenangkan oleh orang lain yang baru dia kenal itu.
“Apa Melvin tahu?” tanya Leana mendongak, menatap Kiandra lagi.
Kiandra menggeleng pelan. “Entah. Tapi firasat aku mengatakan, tidak mungkin jika Melvin tak tahu. Bagaimanapun juga, Melvin yang menampung Freya, yang menjadi saksi jatuh dan hancurnya dia. Aku gak tahu banyak, tapi aku yakin Melvin tahu lebih banyak daripada aku.”
Penuturan itu membuat Leana bungkam, teringat kembali dengan kesepakatan yang mereka buat. Demi apa itu? Leana merasa apa yang Melvin lakukan itu tidak wajar. Bagaimanapun, Freya belum lama meninggal.
Keduanya saling diam sampai suara tangis bayi terdengar, mencuri perhatian mereka ke sofa di mana bayi itu berada. Alvaro terbangun.
Leana segera bangkit menghampiri Alvaro. Kiandra tersenyum melihat bayi itu.
“Dia mirip Dion,” bisiknya.
Leana mengangguk pelan. Dia akhirnya sadar akan berbeda apa dari wajah Alvaro dan Melvin. Memang beda. Teramat sangat beda. “Tapi hatinya ... hatinya seperti Freya. Lembut dan hangat.”
Kiandra berdiri, lalu membelai kepala Alvaro yang mungil. “Kalau begitu, jaga dia. Jaga dia seperti Freya menjagamu dulu.”
Leana memeluk Alvaro sesaat lalu menatap Kiandra dengan mata yang sembab namun penuh tekad.
“Aku berjanji. Aku akan menjaga Alvaro. Apapun yang terjadi.”
Kiandra tersenyum dan mengangguk.
“Kau tidak berencana untuk segera pergi, ‘kan? Bagaimana kalau makan siang dulu di sini? Aku sendirian, Melvin akan pulang malam itu pun sedikit terlambat,” tawar Leana.
“Oh, ide bagus. Tentu. Kebetulan sekali, aku sedikit lapar,” kekeh Kiandra yang membuat Leana ikut tertawa.
Setelah menyusui Alvaro, Leana menitipkan bayi itu pada Kiandra dan dia sibuk memasak di dapur sedangkan Kiandra di meja makan yang memang tidak begitu jauh dari dapur, masih satu ruangan hanya saja tanpa penghalang.
“Leana, kapan kau kembali?” tanya Kiandra.
“Belum lama ini, sekitar satu minggu lalu,” jawab Leana sembari sibuk memasak.
“Ke mana kau pergi?” tanya Kiandra lagi.
Pertanyaan itu sempat menghentikan gerakan Leana membalik masakan menggunakan spatula.
“Jauh, jauh sekali untuk melarikan diri,” jawab Leana.
“Kau berencana tinggal di sini, Leana?”
“Mungkin. Soalnya aku pindah kerja di sini. Sahabatku mengundangku ke perusahaannya,” jawab Leana sambil berbalik dan tersenyum pada Kiandra. “Tapi, aku belum membahasnya lebih lanjut dengan Melvin. Dia itu … gila,” katanya mengatai sang sahabat yang memaksanya untuk terikat satu sama lain. Bukankah itu masuk definisi gila?
Kiandra tertawa, paham betul apa maksudnya.
“Kalau begitu, bisakah kita tetap berhubungan? Siapa tahu mungkin aku bisa membantumu, atau hanya sekadar menjaga Alvaro dan menjadi temanmu?”
Tawaran itu membuat Leana terdiam beberapa saat, memikirkannya.
“Tentu, dengan senang hati.” Menilai bagaimana Kiandra, Leana pikir itu tidak masalah. Mengingat wanita itu mengenal Freya, mungkin Leana bisa mencari tahu tentang sahabatnya itu lebih jauh lagi melalui Kiandra.
Masakan Leana sudah selesai dan kini terhidang di atas meja makan. Leana meminta Kiandra untuk mencicipi masakannya dan wanita itu memuji masakannya enak.
“Freya benar, kau ternyata jago sekali memasak, Leana. Ah, andai bisa mengenalmu jauh sekali, aku pasti akan menjadikanmu koki di restoran aku,” kata Kiandra dengan mata berbinar senang.
Leana tertawa. “Jangan bercanda. Aku hanya bisa memasak, tapi tidak sejago koki.” Dia berkilah sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. Orang-orang kenapa selalu berkomentar setinggi itu tengang masakannya?
“Aku serius, Leana. Ini seperti masakan restoran bintang lima,” sahut Kiandra.
Mereka tertawa dan memilih untuk menyantap makanannya lebih dulu lalu kembali mengobrol.
Hingga sebuah panggilan masuk ke ponsel Kiandra, seseorang menghubungi dan memintanya untuk datang.
“Kau yakin untuk pulang sekarang, Kiandra?” Leana bertanya cemas saat wanita itu pamit pulang karena ada urusan. Di luar sedang hujan.
“Iya, Leana. Restoran membutuhkan aku. Lagi pula, tidak begitu jauh, kok. Sesekali kamu mampirlah ke tempat aku. Jaraknya tidak begitu jauh, hanya sekitar 10 sampai 15 menit dari sini,” balas Kiandra seraya bersiap untuk keluar dari rumah.
“Tentu. Akan aku usahakan,” sahut Leana.
Kiandra tersenyum dan menatap Leana kemudian mendekat.
“Bolehkah aku memelukmu, Leana?”
Mata Leana mengerjap, tapi kemudian dia mengangguk. Kiandra pun mendekat dan memeluk Leana erat.
“Senang bertemu denganmu, Leana. Kau seperti yang selalu Freya ceritakan. Tolong jadilah ibu untuk Alvaro. Aku akan membantumu sebisa mungkin. Jangan sungkan padaku, ya,” tutur Kiandra dalam pelukan itu.
Leana mengangguk dan tersenyum.
“Akan aku usahakan. Terima kasih sudah datang hari ini, Kiandra. Aku akan datang kalau ada waktu,” kata Leana.
Pelukan itu dilepas. Kiandra mengangguk.
“Ini kartu namaku. Ada nomor telepon di sana, hubungi saja ya,” pesan Kiandra. Leana mengangguk lagi setelah menerima kartu nama itu. “Kalau begitu, jaga dirimu ya. Jaga Alvaro juga. Aku pergi sekarang.”
“Hati-hati di jalan, Kiandra.”
Leana mengantar Kiandra hingga teras rumah. Wanita itu berlari kecil hingga ke depan, pada mobilnya. Sebelumnya Leana telah lebih dulu membukakan pintu gerbang lewat interkom, dia berdiri di teras untuk mengantarkan kepergian Kiandra, teman baru yang dia kenal hari ini terhubung dengan Freya. Ada rasa penasaran yang menyusupi hatinya tengang sahabatnya itu.
Setelah memastikan Kiandra pergi, Leana kembali masuk ke rumah dan menghampiri Alvaro. Bayi itu terbangun, matanya yang bening menghangatkan Leana. Tiba-tiba saja dia rindu Melvin.
Membawa Alvaro ke pangkuannya, Leana mengusap lembut wajah bayi itu. Mata, hidung, dan alisnya terberbeda. Ada sentuhan bule dari wajah itu, sedangkan Melvin tidak ada. Wajahnya lokal sekali dengan kulit putih bersih dan mata indahnya yang beriris hitam itu. Surainya pun hitam alami sedangkan Alvaro, sedikit merah bawaan. Hidung dan mata itu mengingatkan Leana akan Dion.
“Apakah itu sungguh? Bagaimana mungkin?” Leana menelisik wajah bayi itu berkali-kali hanya untuk memastikan perbedaan itu. “Perpaduan Freya dan Dion, ya? Aku samar ingat bagaimana Freya, tapi aku lupa soal Dion.”
10 tahun itu bisa mengaburkan ingatan seseorang akan wajah, bukan? Kecuali setiap hari setor muka di layar ponsel, mungkin itu bisa masuk pengecualian.
“Aku nyaris tak mengenali Melvin juga,” katanya pada bayi dalam gendongannya itu. “Bagaimana dia jadi ayahmu? Kamu … lahirmu dengan selusin rahasia, Nak.”
Leana tak tahu harus apa, tapi kedatangan Kiandra tadi itu membuatnya ingin memastikan hal itu pada Melvin.
“Sialan! Aku semakin rindu saja dengan papamu itu, Cil.”