“Ma?” Leana memanggil kala makanannya sudah habis. Lili yang duduk berseberangan dengan Leana mengangkat wajah dan menatap putrinya itu. “Iya, kenapa?” Lili menjawab sambil membereskan piring di atas meja, menyatukan makanan yang belum habis. “Kalau aku mau nginep di sini, boleh?” tanya Leana hati-hati. Gerakan Lili sempat terhenti. Lantas wanita itu tertawa kemudian. Leana menatapnya aneh, begitu pula Nala. Lili menghentikan aktivitasnya sepenuhnya dan memusatkan perhatian pada sang puteri. “Yang mau harus kamu mintai izin itu bukan Mama, tapi Melvin, Na,” katanya dengan wajah yang serius. “Kasihan juga itu anak. Sudah menunggu sampai bertahun-tahun untukmu,” lanjutnya tanpa tatapan menghina atau semacamnya. Hanya tatap lembut yang penuh pengertian. “Jadi, kalau kamu mau nginep di

