Leana tak menyangka pernikahannya itu akan diadakan pesta walaupun hanya dihadiri keluarga dan kerabat saja, terbatas tapi itu sudah lebih dari cukup baginya. Usai mengenakan gaun pengantin impiannya, Leana menerima hadiah gaun pesta dari Melvin. Orang-orang bergembira. Meski sempat juga membahas hal serius dengan Nala dan Avena, Leana ikut berbaur dan menikmati pesta itu hingga malam kian larut. Alvaro sendiri lelap dalam boks bayinya.
“Aku mau tidur dulu, Na.” Nala berpamitan dengan kesadaran yang tinggal setengah. Dia minum banyak sekali.
“Aku akan mengantarnya ke kamar. Selamat malam, Na. Nikmati malam pengantinmu,” kata Avena menggoda sembari terkekeh kecil. Dia memapah Nala yang tampak mabuk, Avena sendiri tidak banyak minum, mungkin hanya minum soda dan menikmati euforia pestanya sebab ada kemungkinan mendapatkan panggilan darurat.
Leana hanya melambaikan tangannya pada kedua sahabatnya itu yang berlalu dari sana. Satu per satu orang-orang memilih masuk ke kamar hotel yang telah disediakan oleh Melvin. Bahkan, keluarganya pun ikut berpamitan.
“Alvaro bersama kami dulu, ya, Na. Besok pagi kami akan mengembalikannya,” kata Fira saat hendak berpamitan.
“Eh? Tapi —”
“Tidak apa-apa. Kami bisa menjaganya, kok. Nikmati saja waktunya, Na,” sambar suami Fira sambil terkekeh kecil lantas berlalu dari sana dengan Alvaro dalam gendongan wanitanya.
“Vin … ,”
“Tidak apa-apa, Leana. Lagi pula, mereka kakek dan neneknya Alvaro.” Bukan Melvin yang menanggapi tapi ibunya Leana sendiri. “Mama mau tidur, udah malem. Selamat istirahat, Sayang. Bahagialah dalam kehangatan,” ucapnya sembari memberikan pelukan singkat.
Ayahnya Leana tak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum kecil dan mengusap lengan Leana sesaat sebelum meninggalkannya.
“Ayo, Na. Kita istirahat juga,” ajak Marsha, mengapit lengan Leana dan membawanya masuk ke hotel.
“Ibu saja dulu. Aku masih —”
“Jangan terlalu lama di luar, nggak baik, Na. Ayo masuk saja, Melvin tidak akan pergi juga, kok. Dia pasti sedang berpikir untuk melakukannya dengan lembut atau tidak,” kata Marsha pun dengan kekehan yang sama sekali tidak Leana pahami.
Pada akhirnya dia pun diam saja, membiarkan ibu mertuanya itu mengapit lengannya hingga masuk ke lift. Melvin ternyata mengekor bersama ayahnya di belakang. Mereka berempat saling diam di ruang sempit lift.
“Leana … ,” Marsha tiba-tiba berkata selagi menunggu lift tiba di tujuannya. Leana menoleh pada wanita yang menyandarkan kepalanya di lengan Leana itu. “Ibu nggak tau seberapa besar kau berjuang sendirian di luar sana, tapi kamu hebat. Hebat sekali, Na, bertahan sejauh ini, nggak mudah, ‘kan?”
Hening. Leana tidak paham apa maksudnya.
“Tapi mulai sekarang, lupakan masa lalu dan bahagialah, hm? Berjanjilah, kau akan bahagia, Sayang?” Marsha menegakkan tubuhnya, menatap Leana yang terpaku. “Ya, Leana?”
“I-iya, Bu,” sahurnya tak yakin. Lebih tepatnya, Leana bingung.
Marsha terkekeh. “Hei, ayolah, berjanjilah padaku, hm?”
Pada akhirnya Leana hanya menganggukkan kepalanya cepat karena kerongkongannya tercekat, antara haru dan tidak menyangka.
“Jika Melvin melukai, menyakiti, menyulitkan, bahkan memukulmu, jangan sungkan beritahu Ibu, ya? Ibu bakal memberikan pelajaran keras untuknya,” kata Marsha.
Leana menahan senyumnya.
“Rumah kami masih di alamat yang sama, kok, Na. Jadi, jangan lupa berkunjung bahkan tanpa Melvin sekalipun, datang saja, ya?”
Sekali lagi, Leana hanya mampu mengangguk cepat.
Marsha bergerak ke depan Leana, menangkup wajah cantik menantunya itu.
“Ibu senang karena akhirnya Melvin menjadikanmu istrinya setelah melewati banyak hal, kisah, dan perih. Ibu senang karena akhirnya bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama. Leana … kau akan selalu menjadi kesayangku, seperti dulu. Bahkan, Freya. Hanya saja, hidup ini tak selalu seperti yang kita harapkan.”
Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulut Leana, hanya menatap manik lembut milik wanita itu yang tersenyum hangat.
“Jadi, bahagialah. Dan ingat, kau tidak sendirian, Leana. Kita akan melakukan banyak hal bersama-sama. Jadi, bahagialah di atas masalah yang mungkin akan muncul selama pernikahanmu ini.”
Apakah itu nasehat? Leana hanya mendengarkan, begitu pula Melvin di belakangnya.
Denting pintu lift yang terbuka itu menyadarkan Leana dan Marsha yang larut dalam haru. Wanita itu tertawa kecil.
“Sampai jumpa besok pagi, Na. Bersenang-senanglah ya?” Pesan Marsha sebelum keluar dari lift. Dia melambaikan tangannya ke arah Leana.
Begitu Leana hendak keluar dari lift, sebuah tangan besar menahan pinggangnya kuat.
“Kau mau ke mana? Kamar kita di lantai berikutnya,” bisik Melvin, seduktif yang membuat Leana merinding sebadan.
Marsha sempat tertawa sebelum pintu lift tertutup sepenuhnya dan bergerak membawa Leana dan Melvin ke lantai berikutnya.
Lift kembali bergerak. Hening, hanya suara lembut mesin dan detak jantung Leana sendiri yang seolah terdengar menggema di telinganya. Tangannya masih dalam genggaman Melvin, hangat, besar, dan terasa protektif.
“Jangan gugup seperti itu, Leana,” gumam Melvin lirih sambil mencondongkan tubuh, bibirnya nyaris menyentuh telinga Leana. “Kita cuma akan tidur. Mungkin.”
Leana mendelik setengah geli, setengah waspada. “Kau tidak lucu.”
Melvin hanya tertawa pelan. Suara yang sejak tadi meredakan kecemasan yang sempat mengusik hatinya. Saat lift terbuka, Melvin membimbingnya keluar tanpa berkata banyak. Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong hotel, tenang, perlahan, seakan ingin memperpanjang waktu sebelum benar-benar berdua di dalam ruang sunyi itu.
Sesampainya di depan kamar, Melvin mengeluarkan kartu akses dan membuka pintu. Ruangan itu tenang, hangat, dan nyaman dengan cahaya lampu tidur yang diredupkan. Aroma mawar lembut dan kayu manis memenuhi udara. Di atas meja kecil dekat ranjang, terdapat sebotol anggur manis dan dua gelas bening, seperti pengingat bahwa malam ini adalah sesuatu yang khusus.
Leana melangkah masuk, lalu berhenti di ambang pintu, memandangi tempat tidur besar di hadapannya. Dia menarik napas panjang, menggenggam kedua tangannya di depan d**a.
“Kau mau minum?” tawar Melvin, berjalan ke meja dan menuang anggur ke dua gelas.
Leana menggeleng. “Tidak. Aku tidak minum sejak tadi, Melvin, Alvaro masih menyusu padaku,” katanya.
Melvin tertawa, benar juga.
Leana memang menikmati pesta tanpa minum. Dia menjaga dirinya dari hal-hal akan membahayakan bayinya.
Pria itu tersenyum, menyodorkan segelas untuk dirinya sendiri, lalu meneguknya perlahan. Kemudian dia menoleh ke arah Leana yang masih berdiri kikuk.
“Kalau kau mau tidur, tidurlah lebih dulu. Aku akan mandi,” kata Melvin melihat Leana yang hanya diam dengan tatapan tertuju pada ranjang yang terdapat taburan kelopak bunga mawar merah.
Leana menoleh padanya, dan untuk sesaat mereka hanya saling menatap. Tapi ada sesuatu di mata Melvin, bukan nafsu, bukan paksaan, melainkan penghargaan. Seolah dia tengah berdiri di hadapan sesuatu yang rapuh namun indah, yang harus disambut dengan kesabaran dan kasih.
Leana berbalik. “Oke.” Suaranya nyaris tak terdengar. Dia gugup, sedikit takut dan ngilu ketika merasakan sesuatu yang masih masa penyembuhan di bagian inti dirinya harus dimasuki oleh Melvin kali ini. Tidak, Leana takut.
Dia memasuki kamar mandi, tapi gaunnya itu sialan sekali. Alih-alih mengenakan resleting, rupanya ada tali rumit di bagian punggungnya.
“Sialan!” Leana mengumpat kala mendapati simpul tali di punggungnya itu tampak ribet sekali. Pantulan cermin di depannya itu menampilkan dirinya yang begitu cantik memesona bak dewi yang turun ke bumi.
Setelah beberapa saat berpikir sambil mencoba, Leana enggan meminta bantuan Melvin sebab itu sama saja seperti memberikan daging segar pada singa lapar meskipun Leana tahu Melvin bisa menahan diri tapi tetap saja, itu seperti ….
“Vin?” Pada akhirnya, Leana memutuskan untuk memanggil pria itu, meminta bantuannya.