6. Negosiasi

1145 Words
“Vin ….” Leana menatap pria itu tak percaya. Melvin acuh, tak peduli dengan tatapan nanar Leana. Dia memalingkan muka, enggan melihat raut menyedihkan itu. “Waktumu tak banyak, aku beri 1 jam.” Usai berkata begitu dia pergi begitu saja dari sana meninggalkan Leana yang diam seribu bahasa. Melvin sialan! Tidak tahukah dia kalau Leana dalam kondisi yang tak boleh banyak tekanan tapi pria itu, seenaknya saja membuat kontrak yang menempatkan Leana pada kebingungan. Bagaimanalah Leana harus menerima atau menolaknya? Dia sudah berjanji pada bayi itu untuk menjadi ibu susunya, tapi Melvin justru memberikan sebuah pilihan yang menyebalkan. “Apa yang harus aku lakukan?” Leana menyandarkan punggungnya ke sofa lantas kedua matanya terpejam. Kebingungan itu menyebalkan. Waktu yang diberikan pun bahkan lebih mengesalkan. Yang punya sahabat, pasti tahu ‘kan orang paling menyebalkan selain di keluarga itu pasti sahabat. Dia selalu tahu celah yang terbuka itu kapan untuk menyerang dan mengambil kesempatan. Itulah yang Melvin lakukan sekarang pada Leana, memanfaatkan situasi hanya untuk menahannya lebih lama. “Melvin sialan!” Leana memaki dalam pejaman mata yang perlahan tanpa sadar membawanya pada ruang mimpi. Entah berapa lama dan mimpi apa. Padahal niatnya hanya memejamkan mata sesaat saja tapi rupanya Leana tertidur. Tapi tunggu, dahinya mengernyit dan napasnya pun terasa begitu sesak. Ada sesuatu yang menghalangi jalannya bernapas? Tapi apa. Semakin kesadaran kepramukaan, semakin Leana sadar ada yang basah. “Basah?” Leana sontak saja membuka kedua matanya. Bener saja. Memang ada yang memberatkannya. Tapi sialnya, Leana malah larut dalam basah itu hingga seringai licik bisa Leana rasakan di bibirnya. “Kau tak menolak ciumanku, Leana.” Sindiran itu menyambut membuat Leana memalingkan wajahnya, malu. “Melvin sialan. Dasar gila!” Sungut Leana mendorong tubuh Melvin dari atasnya dan menatap pria itu tajam yang bahkan tidak beranjak dari tempatnya duduk, hanya menegakkan tubuhnya saja. Melihat sekitar, Leana masih di ruang tengah, tidur di sofa. “Berapa lama aku tidur?” tanyanya. “Satu jam lebih. Alvaro bangun, dia menangis pengen nyusu.” Leana mendelik kala Melvin menyebutkannya dengan begitu santai. “Apa? Udah sana pergi. Dia nangis hampir 20 menit.” Mata indah itu melotot lantas mendorong Melvin lebih kuat lagi kemudian berlari ke kamar Alvaro. Tapi … Leana terdiam di depan boks bayi itu. Alvaro … tidur dengan nyenyak. Leana menoleh ke belakang, dimana Melvin menyeringai sambil bersandar pada bingkai pintu. “Apa maksudnya?” tanyanya. “Kau pasti sengaja?” tuduhnya. Melvin hanya mengedikkan bahunya santai. “Keluarlah, ayo bicara lagi sebelum dia bangun.” Setelah mengatakan itu dia berbalik begitu saja, kembali meninggalkan Leana yang menghela napasnya. “Sialan!” Leana kembali mengumpat tapi tentu saja tidak keras. Dia memperhatikan Alvaro yang masih tidur lalu kembali keluar dari kamarnya. “Naluri mu sebagai seorang ibu ternyata kuat juga, ya, Na. Aku bahkan sampai tercengang ketika tahu kalau yang menyusui Alvaro itu adalah kau,” kata Melvin menyambut Leana di ruang tengah lagi. Menghempaskan tubuhnya di sofa yang jauh dari Melvin, Leana mengabaikan sindiran itu. “Waktu memang bisa mengubah sesuatu tapi tidak akan mudah mengubah sikap seseorang, rupanya bahkan setelah 10 tahun pun waktu nggak bisa ngubah kau yang b******k dan menyebalkan, Vin,” balas Leana tajam. Melvin tertawa. “Manusia itu nggak bisa banyak berubah, Na. Kecuali memang tekadnya kuat. Aku, aku pikir itu tidak perlu berubah, maka dengan begitu kau masih akan mengenaliku sebagai Melvin Rayder,” tuturnya percaya diri. Leana berdecih. “Kau memang menyebalkan, selalu.” Melvin tertawa, acuh tapi dia menikmatinya, Omelan Leana itu juga dia rindukan, selalu. “Jadi, apa keputusanmu, Na?” Melvin memecah lamunan Leana yang kemudian menatapnya tajam, Melvin meringis. “Hei. Tidak bisakah kau menahan diri untuk menanyakan sesuatu seperti itu? Aku kan sudah bilang kalau -” “Nggak bisa, Leana!” Melvin memotong tegas. “Aku punya alasan untuk itu, Na. Jadi aku nggak punya waktu. Jika kau tidak bersedia menikah denganku, ya, tak masalah. Aku akan -” “Apa?” Giliran Leana yang memotong tajam, kesal juga. “Aku akan … mencari penggantinya yang lain,” katanya santai. Leana melotot. “Apa maksudmu, sialan? Kau akan mencari ibu s**u untuk Alvaro?” Leana tak terima dan reaksinya itu mengundang seringai. “Ya, mungkin. Terima kasih atas idenya, Na. Aku akan mencari ibu baru saja untuknya jika kau tak bersedia,” balas Melvin dengan seringai yang makin lebar saja di bibirnya itu. “Sialan! Kau tetap saja b******n!” “Tutup mulutmu, Na. Atau haruskah aku menutupnya dengan paksa? Aku tidak keberatan sih. Lagi pula, itu manis.” “Dasar gila msum!” Melvin tertawa. Leana diam dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Pikirannya berputar. Bisakah dia menjadi ibu s**u untuk Alvaro atau pergi saja dan tetap menjadi donatur A S I di banknya. Tapi, sisi lain di hatinya meminta Leana untuk bertahan. Terlepas demi Alvaro, ada hal yang sangat ingin Leana ketahui tentang Freya. Dia mengangkat wajah dan meluruskan tatapan pada pria di depannya, duduk santai seakan tak punya beban justru Leana yang merasa terbebani dengan aturan Melvin itu yang menurutnya gila. “Apakah harus menikah denganmu, Vin?” tanya Leana memastikan. Melvin menatapnya Lamat. “Ya, harus! Aku tidak mau tinggal seatap dengan seseorang yang tidak terikat dengan aku, Na. Jadi, kita nikah aja walaupun sederhana.” “Cih!” Leana berdecih tapi dia ingat sesuatu tentang Melvin. “Apa jaminanmu jika aku menikah denganmu?” Sesaat Melvin diam, berpikir. “Hmm. Uang? Keselamatan? Hal-hal yang bisa aku berikan dan hal-hal yang kamu inginkan, akan aku berikan untukmu, sekalipun kau minta dibawakan bulan.” Leana semakin berdecih keras mendengar penuturan Melvin yang makin ngawur sana. “Aku serius, Melvin!” Serangnya tajam, tak suka dengan ucapan gombal yang membuatnya ingin muntah. Dia mendelik tajam pada pria di hadapannya itu. “Aku juga serius, Na. Aku hanya ingin hidup denganmu dan itu adalah keputusanmu. Jika kau mau menikah denganku, tidak akan ada kontrak apapun di antara kita, dan kau bebas menjadi ibu untuk anak Freya. Bonusnya, kau pasti akan tahu bagaimana kehidupan kita selama ini.” Bukankah itu adalah tawaran yang cukup menggiurkan? Bagaimana Leana tidak tertarik. Hal yang lebih ingin Leana ketahui adalah Freya, dan satu kalimat Melvin yang berkata, ‘Anaknya Freya.’ Bukankah itu artinya adalah sesuatu yang aneh? Jika itu anak Melvin juka, harusnya dia mengatakan ‘anak kami.’ Tapi … . “Malah bengong sih, Na!” tegur Melvin keras. “Ayo cepat buat keputusan. Atau kau akan menyesal nanti.” “Itu … sungguh tidak ada kontrak?” Leana ragu. Orang kaya itu bisa memanipulasi orang. “Tidak ada, Leana. Sifatnya seperti pernikahan pada umumnya, sekali seumur hidup dan aku yang akan menjagamu seumur hidupku. Jadi apa kau bersedia untuk menikah denganku demi anaknya Freya, Leana?” Melvin tampak mulai tak sabaran lagi dan menatap tajam Leana yang masih diam di sofa. Lama sekali berpikir. Apakah akan membuat keputusan atau tidak?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD