19. Pengakuan

1163 Words

Malam kian larut, tapi mata Melvin tak kunjung terpejam. Di sampingnya, Leana terbaring tenang, namun tidak sepenuhnya terlelap. Hanya diam, seolah mendengar setiap detak jantung pria itu yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia membalik tubuhnya, menatap wajah Leana yang diterangi lembut oleh cahaya lampu tidur. “Leana … ,” bisiknya, seperti memanggil dari kedalaman batin yang lama terpendam. Leana membuka matanya perlahan. Ada keraguan di sana, namun juga kepercayaan. Sejak tadi, tubuh mereka hanya dipisahkan oleh helaian kain tipis dan jarak yang nyaris lenyap. Melvin menyentuh pipinya dengan penuh kelembutan. “Bolehkah aku mencintaimu malam ini?” Bukan sekadar bertanya, tetapi memohon, seolah mencintainya adalah hak istimewa yang tak ingin dia rebut, melainkan minta diizinkan.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD