Bab 7

1574 Words
Kenapa sih, waktu libur berasa cepat banget berlalunya? Cuman sehari aku berleha-leha terlepas dari perintah Pak Leo dan ternyata itu tak berlangsung lama. Siapa yang menduga kalau subuh ini, aku baru mendapat kabar kalau video yang kurekam viral sampai semua orang mengghibah online. Dari manajer sampai office girl semua menggosipkan Pak Leo dan janda. Sebagian besar ada yang membela si bos dan sebagian lagi mengucap hamdalah karena nggak jadi patah hati. Ya Tuhan! Kenapa aku bisa seceroboh ini, sih? Perasaan aku sudah mendelet video itu dari grup eh ternyata masih ada saja kutukupret yang menyebarkannya. Untungnya video itu hanya tersimpan sebagian karena ponselku keburu lowbath, coba kalau full sampai bagian si bos menunjukku sebagai jodohnya. Astaga-dragon! Mati aku, mati! Bisa dimutilasi hidup-hidup aku sama si bos dan orang sekantor. "Tari, kamu sekarang mau masuk kantor, kan?" tanya Mamah yang tiba-tiba muncul dengan susunan rantang beserta isinya. Aku mendelik curiga. Instingku mengendus sesuatu yang berbeda. Tumben-tumbenan si Mamah masak pagi, biasanya kalau jenguk aku dia paling ngajak makan bubur di pengkolan. "Iya, Mah. Kenapa? Mamah mau ikut aku?" Sembari berdandan aku melirik ke arah Mamah. "Ya nggak Tar, Mamah nggak mungkin ikut. Mamah cuman mau nitip ini," kata Mamah seraya menyerahkan susunan rantang itu ke depanku. "Wah ini makan siang Tari, ya? Makasih ya Mah ...." Mataku membulat bahagia, jarang-jarang ibuku memperlakukanku kayak anak TK begini. Aku sangat kangen diperlakukan spesial oleh Mamah, semenjak tinggal jauh dari orang tua aku berasa anak buangan. Tapi, baru saja tanganku mau terulur mengambil rantang tiba-tiba Mamah menariknya. "Eits! Tapi inget ya, Tar. Ini bukan buat kamu! Sebenarnya Mamah masak ini buat tetangga sebelah," tandas Mamah sambil menghindarkan rantang. "Pak Leo?" "Iya. Bosmu." Aku kontan berteriak kecewa. "Apa? Buat si Bos? Gak-gak! Ogah Mah, ogah!" Tubuhku otomatis langsung berkelit. Membayangkan tangan ini memberi hadiah pada si galak saja sudah membuat jantungku bergetar ngeri. "Eh, jangan gitu atuh Tari! Nih, Mamah udah masakin spesial buat Bos kamu. Ada kentang balado, ayam serundeng sama nasi lengkap dengan lalabnya. Pasti dia suka." Mamah tersenyum penuh kepalsuan, niatnya pasti merajuk agar aku luluh. Namun, tak semudah itu aku tergoda. "Tapi Mah, dia itu Bos Tari di kantor, gak mungkin tiba-tiba Tari datang terus bawa rantang. Malu Mah ... apa kata yang lain?" dalihku mencoba menghindari bencana. Sudah bisa dipastikan jika aku datang ke ruangan si bos, bukan hanya gajiku yang raib tapi nyawaku. "Yang lain gak akan bilang apa-apa Tar, udah kamu tenang aja yang penting sekarang jangan lupa pesan Mamah. Cepet bawa ini dan kasih ke Bosmu! Dia itu lelaki baik, jadi kamu juga harus bersikap baik." Aku mendesis. "Ish, Mamah belum tahu aja." "Ya, karena Mamah gak tahu ayo cepet!" "Mah ... Tari gak bisa Mah soalnya ...." "Tari pilih bawa rantang atau dihapus dari KK?" "Haaah?" Aku menatap Mamah kaget. OH TUHAN! Ada ya ibu kandung mengancam begini? Pada awalnya, aku mau langsung kabur saja tapi mengingat Mamah adalah salah satu pendiri duta 'kualat' di keluargaku jadi aku tangguhkan. "Ya udah. Mana sini? Tari pergi, ya Mah? Assalammu'alaikum," pamitku seraya mencium tangan Mamah dan mengambil rantang. Ambil aja dulu, perkara ngasih biar Tuhan yang tahu. "Wa'alaikumsalam. Nah gitu dong? Makanya harus nurut nanti kualat loh." Tuh, apa kubilang? Dikit-dikit Mamah pasti bilang 'kualat'. Setelah Mamah menjawab salam, tanpa basa-basi lagi, aku langsung ngibrit ke luar kamar apartemen. Takut kalau Dementor lebih cepat tiba di kantor dibanding aku, karena jika itu sampai terjadi. I am end. Krek! (***) Aku berjalan mengendap-ngendap dengan mata yang awas memicing untuk memantau keadaan lobby. Aku menghela napas lega ketika tampaknya batang hidung si bos belum terlihat. Itu tandanya situasi aman sebelum negara api menyerang bumi. "Gimana Vi, ruang divisi aman gak?" "Aman. Lu buruan ke sini! Sebelum si bos datang," kata Evi dari seberang telepon sana. Sebagai yang punya kesalahan, aku harus senantiasa berhati-hati dan menghindari bahaya. Maka kuminta Evi dan Igo untuk membantuku dalam rangka misi menghindari si bos sampai aku bisa menghentikan penyebaran video itu dengan tanganku sendiri. Aku tahu kesalahanku kali ini sangat besar. Siapa lagi yang ada di TKP selain aku? Pasti jika gosip itu sampai ke Pak Leo, si Dementor otomatis akan langsung tahu siapa penyebar video itu. So, sebelum itu terjadi aku harus bergeriliya menghapus kekacauan minimal meredamnya dengan kekuatan ilmu digital yang kupunya. "Oke. Gue ke atas." Aku lekas menutup telepon dari Evi. Nggak sia-sia bersahabat dengannya selama lima tahun karena dia sangat berguna di saat genting seperti ini. Lagi pula, aku tuh heran kenapa otakku tak sepintar yang lain? Kenapa sikap cerobohku mendarah daging? Seandainya, ponselku yang mati aku langsung charge malam itu juga setelah selesai mengirim mungkin penyebaran itu masih bisa dicegah. Ah, bodo amatlah! Aku sudah pasrah. Kini aku hanya perlu menyiapkan mental sebelum dipanggil si bos. "Ternyata kamu di sini. Tari, saya nyari kamu dari tadi." Hancur minah! Tubuhku sontak mematung, Serasa mendadak jadi zombi, kepalaku jadi sulit digerakan ketika tiba-tiba sebuah suara menyapaku tepat di kala tangan ini menekan tombol lift. Aku tahu Pak Leo ada di belakang tapi entah mengapa tubuhku memberontak sendiri seperti nggak mau berbalik. "Tari! Kamu dengar yang saya katakan?" "I-iya Pak." Dengan sekuat tenaga aku membalikan badan. Keringatku yang semula hanya berupa buliran kini bak bola salju yang terus mengalir. "Apa kamu berpikir mau menghindari saya?" Gawat! Jika si bos ngomong kayak begini itu berarti dia sudah tahu tentang video itu. "Eng-enggak Pak." Aku menundukan kepala. Mode takut. "Kalau gitu ikut saya!" suruh Pak Leo dengan suara yang lebih menakutkan dari suara Genderuwo mana pun. "Ke mana Pak?" "Ikut saja Tari! Jangan banyak tanya!" semprotnya dingin seraya mendahuluiku berjalan ke dalam lift. Aku bersegera mengekorinya dengan cemas. Alamat kabar buruk ini! Haruskah aku menulis surat wasiat sekarang? (***) Pernah lihat kursi panas di kuis Who Wants To Be A Millionaire? Sejak kecil aku selalu penasaran, sepanas apa itu kursi hingga orang-orang banyak yang gagal mendapat uang. Namun, sekarang aku paham ternyata kursi panas di kuis tak ada apa-apanya dibanding kursiku sekarang. Aku duduk tak nyaman sekaligus gelisah di depan si bos yang wajahnya tetap sedatar tembok. Sudah setengah jam aku menyaksikannya bekerja dengan aura yang enggak baik untuk pencernaan. Apakah pulang dari sini aku harus minum y*kult? Agar ususku tetap terjaga setelah didakwa. "Pak! Maaf." Dikarenakan tak tahan diabaikan bak roh halus terus, akhirnya aku memanggil Pak Leo. "Ya?" sahutnya tanpa melihatku. Dia masih sibuk membolak-balik kertas penting yang harus ditanda-tanganinya. "Pak, maaf kira-kira sampai kapan ya saya harus ada di sini? Dan ... oh ya, ini Pak ada makanan dari Mamah," kataku sambil menyerahkan susunan rantang ajaib Mamah. Seenggaknya, meski aku bukan karyawan yang baik aku berusaha menjadi anak yang baik. "Makanan? Kamu mau nyogok saya?" Pak Leo akhirnya mendongakkan kepala dan melayangkan tatapan curiga. Aku lekas menggelengkan kepala. "Enggak-enggak Pak. Ini beneran Mamah yang bikin katanya buat makan siang Pak Bos." "Oh begitu. Oke makasih sampaikan pada mamahmu ya?" "Iya. Pak." Satu ... dua ... tiga! Hening lagi. Oh my GOD! Aku kembali bagai patung pancoran di depannya. Sebenarnya niat dia apa, sih? Mau pamer kalau dia banyak kerjaan gitu? "Pak say--" "Tari, apa kamu tahu alasan saya mengajak kamu ke sini?" potong si Bos membuat mulutku kontan terkunci. Sebenarnya, sekarang aku bingung dengan Pak Leo. Setelah dirinya tahu jadi bahan gosip sekantor, aku tidak tahu dia marah atau biasa saja karena aku sama sekali tak bisa membaca ekspresinya. "Ta-tahu Pak. Saya benar-benar minta maaf ya, Pak? Saya gak nyangka kalau video itu akan viral. Saya sangat merasa bersalah, tapi sebagai pertanggung jawaban saya akan mencoba menyetop semua gosip itu dengan kemampuan saya." Aku menjawab pertanyaan dengan sangat hati-hati sebelum Pak Leo menenggelamkanku di samudera hindia. "Kemampuan kamu? Emang kamu bisa apa?" Pak Leo menghentikan aktivitasnya sambil melihat ke arahku. "Bi-bisa apa?" Aku membasahi bibirku yang terasa kering. Kenapa jika di depan si bos otakku suka berasa blank? Semua alasan yang sudah kurencanakan tiba-tiba hilang. Inilah kenapa aku suka disebut 'otak udang'. "Ya, kamu bisa apa?" tanya Pak Leo dengan nada meremehkan. Bahunya ia sandarkan ke kursi kebesaran dengan songong seraya menatapku lurus dan tajam. Mampus! Aku harus bilang apa sekarang? "Sa-saya bisa ...." Tok. Tok. Tok. Beruntung ketika aku merasa ingin pingsan, Joni si asisten Pak Bos mengetuk pintu dan menyelamatkanku dari sesak karena pertanyaan gila ini. "Ya, Jon, ada apa?" tanya Pak Leo. Mengalihkan pandangannya pada Joni. Fiuh! Syukur-syukur. Setidaknya aku bisa bernapas meski sebentar. "Maaf Pak, di depan ada yang ingin bertemu Anda," lapor Joni. Aku tersenyum diam-diam. Bagus! Jika ada tamu begini pasti interogasiku akan selesai lebih cepat dan aku bisa menyelamatkan diri. "Siapa?" Pak Leo mengerutkan kening. "Kata beliau namanya Bianca Pak, dia wanita yang dibicarakan Ibu sebagai calon istri Bapak," jawab Joni. Ooh! Calon istrinya toh. Buset dah ... banyak banget cewek di sekeliling Pak Leo udah kayak ngantri BLT. Enggak heran sih, konon ibunya si bos emang ngebet banget ingin Pak Leo nikah karena umurnya sudah tiga puluh satu tahun. Matang banget ya, kan? Pak Leo tampak terdiam kaku setelah mendengar nama tamunya. Lalu, sejurus kemudian dia melirikku dengan sudut matanya seraya menyeringai. Wes! Firasatku nggak enak nih. Aku sontak menggigit bibir bawahku karena wajah si Bos sekarang lebih mirip algojo dibanding pimpinan perusahaan. "Tari!" panggilnya penuh penekanan. "Siap, Pak?" "Ayo, kita temui Bianca dan usirlah, buat dia percaya kalau kamu calon istri saya yang sebenarnya. Itu juga kalau kamu mau dimaafkan." Sontak aku melotot. Apa? Apa urusannya denganku? Kenapa dari video ke calon istri? Tidak! Tolong! Kenapa aku lagi sih yang harus ngusir mereka? Aku kan bukan bodyguard-nya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD