“jev!” sapa nanda sambil melambai-lambaikan tangan kepada jevan, yang disapa perlahan tersenyum melihat keberadaanya. Setelah tau jevan melihatnya, nanda segera berlari ke arah jevan. Saking semangatnya ia berlari, nanda tersandung dan hampir terjatuh. Ia hampir saja membuat jevan menyelesaikan hukumannya sebelum waktunya.
Nanda hanya cengengesan saja, tidak melihat wajah jevan yang tadi sempat khawatir. Setelah berada di dekatnya, nanda melambaikan tangan kepada jevan. Jevan hanya meresponnya dengan alis sebelah kanannya yang bergerak naik ke atas. Nanda lalu menunjukan sebotol air putih yang tadi ia bawa, dan menaruhya di dekat jevan. Lalu membuat gerakan seperti isyarat ‘diminum ya. Fighting!’
Jevan tersenyum melihat nanda yang kini sudah berlari menuju ke atas kelas, gadis itu mungkin takut akan terazia guru piket yang menyusuri sekolah. Saat hukuman jevan tinggal sebentar lagi, vina dan nanda yang memperhatikannya dari atas membuat tulisan yang berjalan yang berucap “dikit lagi, jangan nyerah jev.” Dan nanda yang memberikan gerakan semangat tak henti-hentinya. Dalam benak jevan, dia sangat bersyukur mempunyai teman seperri vina dan nanda. Walaupun dia tidak mempunyai teman laki-laki yang terlalu akrab, setidaknya memiliki mereka sudah cukup baginya. Mungkin karena dia yang sudah terkenal menjadi anak mama ataupun yang lain, teman-teman laki-lakinya tidak sesering itu mengajaknya bergaul.
Setelah hukumannya sudah selesai, jevan mengambil sebotol minum yang sedari tadi disiapkan nanda. Ia menengguk air dengan perlahan, dia mengernyit pelan ketika menyadari ada tulisan yang berwarna putih di balik botolnya. Tulisan khas spidol permanen berwarna putih, yang pasti tadi ditulis nanda. Ketika jevan menenggak air minum itu, tulisan dari balik botol sedikit demi sedikit terlihat
“sorry jev and thankyou, gue bakal penuhin 1 permintaan lo.”
Senyum lebar muncul, wajah jevan yang memerah tidak bisa menyembunyikan cerah suasana hati jevan. Dia menatap nanda yang kini sedang berbicara dengan vina, matanya tulus menatap gadis itu.
***
Usai pemakaman telah dilakukan, Regan hanya berdiam diri di kamarnya di rumah milik orang tuanya. Dia tidak makan sama sekali, dia hanya minum. Itupun karena tersedia di kamarnya yang disiapkan oleh bagas dan alfan. Matanya yang sembab kini sibuk membaca sebuah dokumen. Dokumen rekam medis milih Arga, Ayah Jevan. Kepergian ayahnya tidak bisa jevan terima begitu saja, dia melihat beberapa luka yang ada di tubuh ayahnya. Apalagi mengetahui jika ayahnya meninggal karena kecelakaan tunggal. Polisi mengatakan jika ayahnya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, regan yang sebagai anaknya sangat hafal dengan sikap ayahnya sendiri. Arga sangat melarang Regan untuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ketika Arga membawa mobilpun regan tidak pernah melihat papahnya melebihi kecepatan 100km/jam.
Dia membolak balik dokumen rekam medis milik ayahnya. Mencari apa yang harus dicari, menemukan apa yang harus ditemukan. Sampai suatu ketika, dia menemukan jika penyebab ayahnya meninggal karena gagal jantung yang disebabkan alergi. Gagal jantung itu terjadi saat ayahnya sedang dalam kondisi menyetir sendirian di jalan, yang dirasa regan itu sangatlah tidak mungkin. Arga, ayahnya tidak akan memakan sesuatu yang dia tahu sendiri akan menyebabkan alergi. Ayahnya selalu berolahraga setiap minggu, selalu rutin untuk melakukan tes kesehatan di rumah sakit terdekat, dan selalu mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Yang membuat lebih anehnya lagi, kecelakaan itu berada di tempat yang persis tidak ada cctv satupun berada di sana.
Kepala Regan sangat pusing, kantong matanya menghitam, badannya sudah tidak bertenaga. Tetapi ia harus menyelediki ini selagi kepergian ayahnya baru terjadi, dan untuk berjaga-jaga jika polisi yang kemungkinan buruknya bekerja sama dengan orang di balik semua ini. Regan mencari laptopnya di kamar, laptop yang sering ia simpan di tempat rahasia. Di balik lemari besarnya, dia membuat sebuah kotak brankas. Brankas itu dia buat ketika orang tuanya pergi ke luar kota untuk beberapa hari, sehingga tidak ada yang tahu tentang keberadaan kotak itu. Sesudah memastikan kamarnya terkunci, dia membuka brankas dengan sidik jari dan pin yang dia masukkan. Lalu mengambil laptop miliknya.
Regan itu jenius, jika dia bersungguh-sungguh melakukan sesuatu. Gen unggul dari kedua orang tuanya menurun sempurna ke regan. Regan telah membuat suatu program, dimana dia bisa melihat cctv di seluruh satu provinsi. Dia telah meretas semua keamanan cctv di sana, dan masuk dengan aman tanpa ada orang yang akan sadar jika cctv mereka telah diretas.
Regan memasukkan password dan kata kunci, lalu mulai mencari lokasi kecelakaan dimana ayahnya tewas. Setelah mencari-cari akhirnya ia menemukannya, sebuah SUV putih milik ayahnya melaju dengan kecepatan sedang sesuai apa yang diduganya. Tiba tiba saja setelah melewati cctv berikutnya, mobil melaju dengan kencang dan menabrak pembatas jalan sehingga menyebabkan mobil berguling beberapa kali sampai berhenti di pinggir jalan.
Regan menangis lagi, melihat kecelakaan ayahnya sendiri lewat cctv. Ia lemah, tapi ia harus mencoba kuat demi bisa membongkar apa yang disembunyikan di balik ini sehingga menyebabkan ayahnya merenggang nyawa. Ketika memutar balik waktu rekaman cctv itu, ia dapat melihat jika saat menuju ke jalan yang terdapat cctv yang mati, mobil masih melaju dengan kecepatan sedang. Tetapi ketika melihat cctv di km berikutnya, mobil sudah melaju sangat cepat. Ia memutar balikan lagi, beberapa kali. Lalu dia melihat bayangan seseorang ketika melihat cctv berikutnya. Dia membesarkan bayangan itu, hanya satu orang yang bertopi hitam. Badannya hanya tertangkap cctv sedikit, lalu dia men slow motion videonya. Dan terlihat jika orang itu tahu letak persis dimana cctv karena sedikit melirik dan membenarkan topinya ke bawah agar tidak terlihat. Dia dapat melihat peris jika orang itu sedang tersenyum miring.
Pikiran regan kosong, sesuai dugaanya. Jika kecelakaan ayahnya bukanlah kecelakaan murni, pasti ada seseorang dibalik ini. Dia men-capture video tersebut berserta tersebut dan mengirimnya ke hpnya, tentunya ia simpan di brankas pribadi yang ada di hpnya. Otak regan sangat panas, ia sangat pusing. Belum tidur semalam dan memandangi layar laptor selama beberapa jam membuatnya sangat lelah, tetapi percuma saja jika dia merebahkan diri ke kasur. Dia tidak akan bisa tidur. Sedangkan alfan dan bagas sudah pulang ke rumahnya masing-masing, rumahnya masih ramai. Mamahnya ditemani oleh tantenya dan temannya, karena jujur saja untuk saat ini dia tidak bisa menenangkannya. Menenangkan diri sendiri saja dia tidak bisa, apalagi jika menenangkan hati mamahnya yang secara beliau bersama ayahnya setiap hari.
Regan membuka pintu kamarnya, melangkah keluar untuk niat mencari udara segar. Dia meminta ijin dengan tantenya, dan tantenya hanya mengiyakan serta menyuruhnya untuk hati-hati. Bagaimanapun juga, tantenya memahami jika dirinya membutuhkan udara segar. Regan mengambil kunci mobilnya, mobil miliknya sendiri yang diberikan Arga sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-18 tahun waktu itu.
Regan menyetir dengan pikiran kacau, dalam perjalanan menyetirnya rintik-rintik hujan turun seolah ikut mengiringi kesedihan hatinya. Tidak tau kemana, ia menuju ke arah rumahnya sendiri. Petir semakin menggelegar, hujanpun semakin deras.