"S-saya diancam, Bu. Maaf ...." Ada yang sedang berkeringat dingin di rumah orang tua Jagat itu. Memohon ampun dan maaf karena telah berkhianat, memiliki dua tuan di dalam pekerjaannya tersebut. Tertanda, sore kemarin. Saat Seruni sudah pulang dari kunjungan membawa kabar baik dan buruk yang amat menceluskan hati Dikara. "Ancaman seperti apa sampai kamu berani berkhianat, padahal tahu risikonya?" Tajam suara Dikara setajam tatapannya. Ada Daaron di situ. Dia masih bertanya-tanya kenapa, ada apa, dan apa yang terjadi. Namun, istrinya belum memberi penjelasan. Sepulang ngantor, Daaron mendapati Dikara sedang menginterogasi pegawainya di ruang kerja—kata bibi. Sampai sudah lebih dulu meminta beliau membawakan air minum untuk Daaron, biasanya Dikara yang melayani. Meski demikian, masih

