62 | Ada Tamu

1902 Words

"Ra, pulang." Itu suara papa. Sierra masih saja di ibu kota yang padahal begitu banyak luka di sini untuknya. "Papa jemput kalau kamu masih nggak nurut." Sierra menatap kuku-kuku jarinya, jari kaki. Teleponan sambil bertumpu dagu di lutut. Ini di indekos. Akhir pekan. "Nanti Sierra pulang, Pa." "Nanti-nanti terus. Memang di sana ada apa? Jagat?" Sierra geming. Ada rasa sakit dan amarah yang belum terobati, ada kepuasan yang ingin Sierra capai. "Laki-laki seperti itu nggak layak buat anak Papa. Andaipun dia datang ke rumah, belum masuknya juga sudah Papa usir. Jadi, sudah, ya, Nak? Pulang." "Pa ... Sierra udah nggak sama Jagat, kok." "Bagus. Sejak awal memang Papa yang nggak setuju, bukan karena keluarga mereka yang menolak kamu." Papa selalu menanamkannya di diri Sierra, mungk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD