Pukul dua belas siang kontraksinya terasa semakin intens. Walau dalam ruang ber-AC pun Seruni berkeringat. Wajahnya agak pucat. Dokter memeriksa pembukaan. Ngomong-ngomong, Mami Ancala merayu Seruni agar lahiran caesar saja. Seruni kekeh ingin normal. Apalagi dokter bilang bisa, hanya tinggal fisik Seruninya saja yang kuat-kuat ketika melahirkan dua bayinya. Seruni yakin sekali bahwa dia mampu. Tapi dokter bilang belum sampai pembukaan sempurna, padahal terasa sudah sangat sakit. Hari itu. Yang ada malah macet pembukaannya, alias tidak bertambah lagi. Seruni merasa kacau, apalagi perasaannya jadi berkecamuk. Amarah muncul untuk laki-laki yang membuat sebagian kehidupannya jadi berantakan. Dan laki-laki itu bahkan tidak mengusahakan untuk datang, minimal harusnya Seruni mendengar keribu

