"Kecewa karena saya yang datang?" Seruni menatap Sandyakala. Lelaki itu membawa buah tangan. "Ini bubur yang saya janjiin semalam. Udah boleh makan, kan?" Siang hari. Kebetulan sedang sendiri di kamar, tak lama juga pulang nanti. Sandyakala datang lagi. "Terima kasih." "Kayak ke siapa aja. Nih, icip sekarang, ya?" "Bukannya kita nggak seakrab itu?" Pelan ucapan Seruni. Sandyakala menatapnya. "Dulu akrabnya lebih dari ini kalau nggak salah." "Iya, pas masih anak-anak." Seruni tidak mengelak. "Sebelum kamu pindah." Dan itu sudah lama sekali. Sandyakala senyum sambil menyiapkan buburnya untuk Seruni lahap. "Boleh kalau sekarang jadi seakrab dulu atau bahkan lebih dari itu?" "Pertanyaan?" Seruni menolak untuk disuapi, memilih mengambil alih piring dan sendok buburnya dari tangan sa

