Saat ini mata tajam Jake memandang Kaori dari ujung rambut hingga ujung kaki Kaori. Jake tidak menyangka, akan bertemu Kaori dengan penampilan Kaori yang tampak kotor dan lusuh. Bahkan, para penjaganya nyaris mengusir Kaori dari gedungnya. Sungguh, penampilan Kaori nampak sangat memprihatinkan di mata Jake malam ini.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu?" tanya Kaori tidak suka dengan tatapan Jake yang seakan menelanjangi dirinya.
"Aku hanya tidak yakin dengan penampilan kamu Kao, kamu seperti seorang pengemis. Apa seluruh harta ayah kamu sudah kamu habiskan?" cibir Jake sembari menikmati secangkir teh melati kesukaannya,
Sekuat hati, Kaori mengatupkan bibir, berharap sumpah serapah tidak keluar dari dalam mulutnya,
"Tutup mulut kamu, Jake! Jika aku tidak butuh bantuan kamu, aku tidak akan datang kepadamu," aku Kaori,
"Oh! Begitu. Jadi apa yang bisa aku bantu?" tanya Jake tanpa basa-basi,
"Hancurkan perusahaan ayahku" jawab Kaori dengan tenang, namun banyak penekanan di setiap kata yang Kaori lontarkan.
"Apa?" tanya Jake yang cukup terkejut dengan permintaan Kaori.
"Aku akan menceritakannya nanti. Aku hanya perlu kamu hancurkan perusahaan ayahku, buat mereka terlilit hutang yang besar dan bangkrut" ungkap Kaori,
"Lalu bagaimana dengan aset kamu yang lainnya? Kamu tidak takut semua itu hilang?" tanya Jake.
Sungguh, Jake tidak bisa membayangkan apa yang terjadi ke depannya. Melihat Kaori di depan Jake seperti saat ini saja merupakan sebuah keajaiban, terlebih lagi Kaori datang secara sukarela dan meminta bantuan Jake.
"Tidak. Aku sudah menghubungi pengacara mendiang ayahku. Semua aset atas namaku sudah dibekukan. Hanya tinggal perusahaan ayahku saja yang saat ini masih belum atas namaku"tegas Kaori,
"Lalu apa yang aku dapat dari hasil kerja kerasku untuk membantu kamu?"tanya Jake membuat Kaori mengernyitkan kening,"kamu tahu dengan pasti, aku seorang pebisnis, semua yang aku lakukan penuh dengan perhitungan untung dan rugi," imbuh Jake,
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Kaori luluh,
"Kamu" jawab Jake to the point,
"Maksud kamu?" tanya Kaori cukup terkejut dengan jawaban Jake.
"Aku membutuhkan seseorang yang murni keturunan keluarga Nakamura. Aku tidak perlu menjelaskan tujuanku" jawab Jake penuh misteri.
Kaori tidak ingin ambil pusing dengan segala urusan Jake, sekalipun nanti dia akan menyesalinya, Kaori tidak peduli. Kaori hanya menginginkan musuhnya hancur.
"Aku mengerti. Aku tidak peduli dengan tujuan kamu" tandas Kaori sembari mengulurkan tangan, sebagai bukti simbolis kerja sama mereka akan di mulai.
"Baik. Kamu akan mendapatkan yang kamu mau" kata Jake yang menyambut uluran tangan Kaori.
"Terima kasih. Aku sangat menghargai bantuan kamu" ungkap Kaori,
"Aku tidak membantu kamu dengan percuma. Kita sedang melakukan transaksi yang saling menguntungkan satu sama lain" kata Jake sembari tersenyum.
Kaori tidak tau, apakah pilihannya tepat. Tapi untuk saat ini, Kaori hanya ingin memastikan dirinya hidup. Jake melepaskan tautan tangan mereka berdua, menatap Kaori dengan iba,
"Aku harap kamu segera membersihkan diri dan mengganti pakaian kamu dengan layak. Aku tidak ingin ruanganku tercemar dengan kotoran"
"b******k!" maki Kaori,
"Jaga ucapan kamu nona cantik, saat ini kamu milik aku. Bersikaplah sopan ke pada Tuan kamu" kata Jake dengan senyuman culas yang terukir di wajahnya.
"Aku tau. Tuan Nakamura Ryoichi"
Perkataan Kaori membuat Jake tersenyum dan meninggalkan Kaori seorang diri di dalam kamar yang telah disediakan untuk Kaori.
Kaori segera masuk ke dalam kamar mandi yang berada tidak jauh dari tempatnya melakukan negosiasi dengan Jake. Kaori memutuskan untuk berendam di dalam bathub. Melepas kepenatan dalam hidupnya. Kaori mencoba memejamkan kedua matanya, seolah terkena sihir dari lilin aromaterphy, Kaori tertidur dengan nyenyak.
**<
"KAORI!" teriak Jake yang memanggil namanya berulang kali. Sayangnya Kaori enggan membuka kedua matanya. Kaori memilih untuk tetap di dalam dunianya.
"b******k! Bangun Kaori!" maki Jake yang kini menyentuh tubuh Kaori di dalam bathub. Kaori yang merasakan sebuah sentuhan di kulitnya segera membuka kedua matanya.
"Akh!!!!" teriak Kaori, membuat Jake menghentikan aksinya dan segera berbalik,"apa yang kamu lakukan Jake? Dasar Bodoh!" kata Kaori sembari mengambil baju handuk yang berada di sisi kanan bathub tempat Kaori berendam.
"Jangan salahkan aku Kao, aku sudah berulang kali memanggil nama kamu" sanggah Jake sebelum Kaori menuduh Jake memanfaatkan keadaaan,
"Aku hanya tertidur. Kamu seharusnya bisa merasakan hembusan nafas aku, Jake" protes Kaori yang kini telah menggunakan baju handuk berwarna putih.
"Aku panik. Aku kira kamu memutuskan bunuh diri" aku Jake,
"Aku tidak sebodoh itu. Dasar sialan!" maki Kaori lagi, Jake yang tidak tahan dengan kata-kata makian Kaori segera berbalik dan menatap Kaori dengan tajam.
"Aku tidak tahan dengan mulut kamu. Bisakah kamu lebih sopan kepada Tuan kamu?" tanya Jake dengan dingin, Kaori dibuat menciut karena ulah Jake yang tiba tiba berubah, tidak ada kehangatan di dalam nada bicara Jake,
"Aku minta maaf. Aku hanya tidak terbiasa dengan seorang pria m***m" cuit Kaori yang membuat Jake tersinggung,
"Maaf? Siapa pria m***m yang kamu maksud?"
"Tentu saja kamu. Memangnya ada pria dewasa selain kamu di ruangan ini?" tunjuk Kaori yang membuat Jake kesal,
"Wah! Aku tidak tau jika kamu akan sehebat ini. Aku terjebak dengan wajah kamu yang lugu. Aku kira kamu seorang wanita dengan hati yang lembut" sesal Jake,
"Kaori yang berhati lembut sudah mati" aku Kaori,
"Lalu Kaori yang berada di hadapan aku saat ini adalah hantu?" kata Jake menggoda Kaori,
"Aku ingin sekali membunuh kamu" geram Kaori,
"Jika kamu membunuh aku, maka tujuan kamu tidak akan terwujud"
"Kamu benar"
"Aku memang selalu benar Kaori" tandas Jake,"Kamu melupakan satu hal penting hari ini" imbuh Jake membuat Kaori mengernyitkan dahinya,
"Maksud kamu?"
"AKU ADALAH PENYELAMAT HIDUP KAMU"
"Aku tau, jangan kamu ingatkan aku tentang hal itu"
"Kamu milik aku, Kaori"
"ASTAGA JAKE, AKU TAU!!"
"Bagus. Aku senang mendengar kamu menjadi sosok yang sadar diri. Segera keluar dari kamar mandi, pakai pakaian yang aku sediakan untuk kamu. Jangan buat aku menunggu terlalu lama. Aku tidak suka menunggu"
"Hmm. Aku tau" jawab Kaori sembari berjalan ke arah pintu kamar mandi dan membukakan pintu itu untuk Jake,
"Terima kasih" sahut Jake dengan senyum penuh kemenangan.
Setelah mendengar perkataan Jake, Kaori membanting pintu kamar mandi sekeras mungkin.
**
Kaori dan Jake duduk berhadapan di dalam sebuah restaurant mewah. Jake memanjakan Kaori dengan kemewahan yang dia punya.
"Apakah kamu menyukai makanan yang aku pesan?"
"Ya. Terima kasih" jawab Kaori tanpa melihat ke arah Jake.
Jujur saja, Kaori masih merasa malu dengan insiden yang terjadi di dalam kamar mandi. Ingin rasanya Kaori menenggelamkan diri di laut, namun niat buruknya terlupakan. Karena Kaori memiliki tujuan lain yang lebih penting dari sekedar rasa malu yang Kaori rasakan. Kaori dan Jake menikmati makan malam mereka dengan tenang. Jake membantu Kaori memotong daging steik di piringnya. Sebuah tata karma dasar yang dilakukan oleh pasangan pada umumnya.
"Aku melihat nama kamu dalam berita kecelakaan tunggal yang terjadi tadi sore. Apakah kamu berniat menjelaskan hal itu kepada aku?" tanya Jake yang membuat Kaori terdiam.
Dia tidak melanjutkan menikmati makanannya. Mata Kaori terkunci pada tatapan Jake yang terasa menguliti tubuhnya.
"Aku tau, cepat atau lambat kamu pasti mendengar berita itu" kata Kaori pasrah,
"Aku rasa Tante Selina dan Lara sangat bersedih, sehingga mereka mempublikasikan kematian kamu di televisi" cibir Jake lagi,
"Aku rasa begitu"
"Aku akan menjalankan rencana kita besok pagi. Aku harap, sebelum jam makan siang, kamu sudah menceritakan apa yang terjadi kepadaku"pinta Jake,
"Aku tau" ungkap Kaori,
"Aku tidak ingin ada rahasia diantara kita berdua. Aku akan melindungi kamu, Kaori"
"Terima kasih" uucap Kaori tulus.
Kaori merasa cukup beruntung karena masih ada seseorang yang berpihak kepadanya. Kaori menundukkan kepalanya. Ingin sekali dia menangis, tapi air matanya telah terkuras habis. Yang Kaori inginkan saat ini membalaskan dendam keluarganya ke pada orang-orang yang telah menghancurkan keluarga Kaori. Karena Kaori yakin, Selina dan Lara tidak akan bertindak sejauh ini, jika mereka tidak memiliki landasan yang kuat.