07. Menjatuhkan Hati

1086 Words
Ketukan suara sepatu Kaori menggema di lantai gedung Mahira Amartha Cooperation, dia menuju sebuah ruangan yang terpampang tulisan 'Direktur Keuangan' di depan pintunya. Tampak Bastian sedang duduk di kursi kerjanya, wajahnya tampak serius menatap sebuah map berwarna kuning di tangannya. "Selamat pagi Tuan Bastian" sapa Kaori yang kini membuat Bastian menatapnya. Bastian segera bangkit dari kursinya. Kemudian dia menghampiri Kaori yang masih berdiri di ambang pintu. Tanpa ragu, Bastian memeluk tubuh Kaori, tunangannya. "Aku merindukan kamu, Kaori" ucap Bastian yang kini membawa tubuh Kaori di dalam dekapannya. Bahkan tangan kanan Bastian menutup pintu kantornya, Bastian ingin memiliki ruang pribadi dengan Kaori. "Benarkah? Kamu sangat merindukan aku?" tanya Kaori dengan wajah lugunya. "Hmm, aku tau. Aku juga" jawab Kaori yang kini memerankan sebagai gadis lugu di mata Bastian, "Bagaimana bisa kamu selamat dari kecelakaan itu? Apakah mereka membuat kamu terluka?" tanya Bastian yang mencoba mencari bekas luka di tubuh Kaori, sayangnya tubuh Kaori sempurna tidak ada bekas luka di tubuhnya. Bahkan bekas kiss mark yang dibuat Jake telah Kaori tutup dengan foundation. Bastian bernafas legah, dia merasa Kaori aman di tempat yang aman. Bastian tidak berharap banyak, melihat Kaori baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup. "Tidak, aku sudah sembuh. Seseorang menyelamatkan aku dari kecelakaan maut itu" aku Kaori, "Lalu saat ini kamu tinggal di mana? Apakah tempat itu aman?" tanya Bastian yang khawatir dengan keadaan Kaori. "Em, aku tinggal di rumah saudara sepupu aku" jawab Kaori santai. Lelah dengan posisinya yang berdiri, Kaori menggandeng tangan Bastian untuk duduk di sebuah sofa panjang yang berada di ruangan Bastian. Sofa berbahan kulit sintetis, membuat Kaori lebih nyaman meletakkan pantatnya. "Kenapa kamu baru menemui aku sekarang, aku sangat merindukan kamu" kata Bastian yang kini menangkup wajah Kaori dengan tangannya. Jika saja, Kaori tidak mengetahui kejadian malam itu. Kaori pasti masih mencintai Bastian, pria tampan dengan wajah malaikat. "Aku juga, aku merindukan kamu" Kaori yang berdiri di depan Bastian berbeda dengan sosok Kaori yang dulu. Kaori mengambil inisiatif untuk bermain nakal dengan Bastian. Kaori mendekat ke arah bibir Bastian, menyesap sepasang bibir manis milik Bastian yang bahkan belum pernah dia sentuh sebelumnya. Bastian yang mendapatkan serangan dari Kaori menyambutnyam Tubuh mereka berdua saling mendekat, bahkan Bastian dengan berani meremas pinggang Kaori, Kaori yang merasa jebakannya berhasil semakin memperdalam aksinya. Bastian yang baru merasakan manisnya tubuh Kaori mengerang nikmat ketika dengan berani Kaori duduk di pangkuan Bastian tanpa melepas pagutan bibir mereka berdua. Bastian yang baru kali pertama menyentuh bibir Kaori merasa terlena, karena Kaori selama menjadi tunangannya belum pernah Bastian sentuh. Kaori melepas pagutan bibir mereka berdua. Raut wajah Bastian tampak kecewa, seakan tidak rela saat Kaori menghentikan apa yang telah mereka mulai. Bahkan Bastian merasa Lara tidak mampu menyaingi kenikmatan yang Kaori berikan ke padanya. Bibir Kaori terasa legit, apalagi bagian tubuh Kaori yang lainnya. Bastian ingin merasakan lebih, dia ingin menikmati Kaori sepenuhnya. Sayangnya, apa yang terbesit di dalam kepala Bastian tidak sejalan dengan kenyataannya. Kaori menempelkan jari manisnya di bibir Bastian, menginterupsi langkah Bastian selanjutnya, "Sayang... Ada apa?" tanya Bastian yang kini menatap Kaori penuh tanya. Mata Bastian tidak menyembunyikan rasa kecewanya. "Em, aku tidak ingin berbuat lebih dari ini" jawab Kaori dengan aksen manja. Bahkan Kaori sendiri merasa geli dengan aksen bicaranya, dia merasa seperti w************n. "Eh, kenapa?" Bastian tampak kecewa dengan penolakan Kaori. "Aku ingin kita menjalani hubungan kita secara perlahan" tolak Kaori secara halus, namun tetap memprovakasi Bastian yang semakin gelisah karena ulah Kaori di atas pahanya. "Sayang, apa kamu meragukan aku?" tanya Bastian dengan sebuah gairah yang tidak bisa dia salurkan. "Tentu saja tidak, aku percaya ke padamu. Untuk itu, aku ingin kamu melakukan sesuatu untuk aku" bisik Kaori yang kini semakin berani menyentuh daun telinga Bastian membuat Bastian semakin panas dingin karena ulahnya. "Apa setelah aku melakukan hal itu, kamu akan bersama kembali dengan aku?" tanya Bastian memastikan imbalan yang akan dia terima. "Hm, tentu saja" kata Kaori yang menggerakkan jari lentiknya di leher Bastian,"aku akan memberikan segalanya ke pada kamu, semuanya," lanjut Kaori yang membuat Bastian semakin b*******h. "Argh.. Baik, akan aku lakukan. Tolong jangan siksa aku" pinta Bastian yang kini merengek untuk tidak digoda oleh Kaori, karena milik Bastian menuntut untuk dilepaskan. Sayangnya, Kaori tidak akan memberikan kenikmatan itu, dia hanya ingin membuat Bastian merasa jika dirinya sangat berarti bagi Kaori. Kaorie tersenyum dan mengangkat satu sudut bibirnya. Kaori akan mengendalikan Bastian. Bastian juga harus merasakan apa yang Kaori rasakan. *** Jake menatap tidak suka ke arah Lara, adik tiri Kaori yang berani menghampiri Jake. "Ada apa?" tanya Jake yang kini menatap tak suka ke arah Lara, "Hai Jake!" sapa Lara yang kini dengan lancang duduk di pangkuan Jake,"kamu semakin tampan saja. Bagaimana kabar kamu?" tanya Lara yang menyilangkan kedua kakinya dan membuat pahanya terekspose. "Turun!" perintah Jake dengan dingin, Lara mengerjapkan kedua matanya. Dia merasa Jake sangat kasar ke padanya. Bukankah semua laki-laki sama saja, ketika mereka diberi sinyal yang menjurus ke arah yang instens, mereka akan merespon dengan tubuhnya. Bukan seperti Jake yang memintanya untuk segera turun dari pangkuan Jake. "Aku tidak ingin mengulangi perkataan aku, turun! Dasar w************n!" maki Jake yang kini semakin kasar dan mendorong tubuh Lara. Lara semakin terkejut. Lara nyaris saja tersungkur ke lantai. Untung saja, dia bisa menahan langkahnya, "Jake, apa yang kamu katakan?" tanya Lara dengan wajah terluka, "Aku tidak butuh rayuan kamu. Aku tidak suka w************n seperti kamu. Pergi, dan jangan pernah kembali di hadapan aku!" pinta Jake dengan nada dingin. Lara menghentakkan kakinya. Dia tidak pernah ditolak secara tidak hormat seperti ini. Bahkan, semua pria bertekuk lutut di hadapannya. Jake, hanya seorang pria biasa yang tak layak bersanding dengan Lara. Jika saja ibunya, Selina ,tidak meminta Lara untuk merayu Jake. Lara tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Lara membanting pintu ruangan Jake dengan kasar. Wajahnya menahan tangis membuat Brian, sekretaris Jake memandang iba ke padanya. Brian segera masuk ke dalam ruangan Jake. Berusaha mencari tau apa yang membuat Lara tampak marah dan kecewa. "Jake, apa yang terjadi? Aku lihat kamu mengusir seorang wanita dari ruangan kamu. Aku rasa dia cukup cantik dan sexy" "Tutup mulut kamu! Aku merasa jijik dengannya, dia menempel kepadaku seperti lintah. Tubuhnya begitu bau!" maki Jake, "Bau?" tanya Brian," Jake, aku rasa hidung kamu rusak. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu? Dia sangat wangi" lanjut Brian yang membuat Jake semakin kesal. "Diam, jangan buat aku mengusir kamu, sama seperti apa yang aku lakukan ke pada wanita itu! Cepat bawakan aku pakaian ganti, aku merasa tubuhku Kotor!" perintah Jake membuat Brian membuka mulutnya dan merapalkan sumpah serapah ke pada Jake, sahabat sekaligus bosnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD