05. Pesona Jake

1208 Words
Jake membawa Kaori ke dalam sebuah kamar yang berada di lantai dua mansion Yusuke. Hari ini, Yusuke mendesak agar mereka berdua menginap di mansionnya. Jake mengerti, apa yang dikhawatirkan oleh ayahnya. Yusuke bukan seorang pria tua yang bodoh, dia akan melakukan segala cara untuk membuktikan kebenaran hubungan Jake dan Kaori. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kaori khawatir, "Maksud kamu?" Jake tidak mengerti maksud dari pertanyaan Kaori. "Paman memaksa kita untuk menginap di sini. Kamu tenang banget sih!" tegur Kaori yang membuat Jake terkekeh. Jake tahu benar seperti apa peragai seorang Nakamura Yusuke. Sehingga Jake sudah memperhitungkan segalanya. "Aku sudah tau jika ayahku akan melakukan hal ini, kamu tidak perlu khawatir" kata Jake yang mencoba menenangkan Kaori. "Benar, tapi bagaimana bisa kita tidur bersama?" tanya Kaori yang merasa tak enak hati dengan Jake. Kaori bukan seseorang yang tidur dengan diam, Kaori cukup aktif saat tertidur. "Memangnya masalah jika kita tidur bersama dalam satu ranjang?" tanya Jake balik. "Bukan itu, aku tidak ingin membuat kamu tidak nyaman. Bagaimanpun juga kamu adalah penyelamat hidupku, aku tidak ingin kamu terganggu dengan cara tidurku yang berantakan" aku Kaori yang mengungkapkan kekurangannya. "Dari perkataan kamu, sepertinya kamu takut untuk berbagi ranjang denganku" goda Jake yang membuat Kaori memutarkan bola matanya, "Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja aku-" "Kao, aku baik-baik saja. Justru aku menantikan hari ini tiba" potong Jake, "APA!" teriak Kaori refleks. "Pelankan suara kamu, aku tidak ingin ayah berfikir aku melakukan hal yang buruk kepada kamu" pinta Jake yang membuat Kaori tersenyum kecut. "Maaf, aku hanya sedikit terkejut dengan apa yang kamu katakan. Bagaimana kamu bisa dengan santai mengatatakan hal itu dari mulut kamu. Kita ini berbeda, kamu seorang pria dan aku seorang wanita" jelas Kaori panik, "Hmm, aku tau." kata Jake, "Aku lelah, aku ingin mandi dulu. Setelah itu aku akan segera tidur" imbuh Jake yang membuat Kaori menganggukkan kepala. "Hei! Kamu benar-benar ingin tidur satu ranjang yang sama dengan aku?" tanya Kaori panik sendiri. "Tentu saja, aku tidak ingin ayahku berbuat hal konyol dan membuat kita berdua tidak bisa menikmati indahnya malam ini" jawab Jake sembari menutup pintu kamar mandi. Kaori hanya bisa menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup. Kaori mulai kehabisan akal, bukannya Kaori ingin menghindar, hanya saja ini pertama kalinya Kaori tidur di ranjang yang sama dengan seorang pria. Kaori dan Jake memang pernah menghabiskan waktu bersama, tapi itu dulu saat mereka masih kecil dan saat ini mereka berdua telah dewasa. Kaori menautkan jari jemarinya, dia merasa gugup dengan apa yang akan terjadi setelah Jake keluar dari dalam kamar mandi. Kaori mencoba menutupi rasa gugupnya dengan mengambil ponselnya dan menenggelamkan dirinya ke dalam sebuah portal berita yang memuat tentang bisnis dan politik sesuatu yang tidak dia mengerti hanya dia baca untuk menutupi rasa gugup yang Kaori rasakan. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Jake untuk mandi, Jake keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi berwarna hitam, memamerkan dadanya yang terpahat dengan indah. Kaori yang mencoba mengabaikan Jake terpaksa menatap pahatan tubuh indah Jake. Sepertinya sangat sayang untuk Kaori lewatkan, karena pahatan tubuh Jake mengguggah selera Kaori. "Kamu tidak mau mandi lebih dahulu?" tanya Jake, "Oh iya, aku lupa. Aku mandi dulu" jawab Kaori gugup. "Oke" sahut Jake sembari tersenyum melihat sikap Kaori yang tampak menggemaskan di mata Jake. Kaori segera bergegas ke dalam kamar mandi, dia mengambil baju tidur yang disiapkan oleh sang bibi, Amelia. Kaori tidak ingin keluar dengan sehelai handuk di tubuhnya, dia masih belum siap menyerahkan tubuhnya ke pada Jake, walaupun secara teknis dia telah menyetujui hal itu. ** "Kamu sudah tidur?" tanya Jake yang kini menatap punggung Kaori, "Kenapa?" tanya Kaori di tengah tengah aktivitas mereka di tempat tidur. Untuk saat ini, mereka berdua hanya rebahan saja. "Aku ingin mengatakan sesuatu" jawab Jake. "Apa?" "Tidak bisakah kamu menatapku saat kita berdua sedang berbicara?" tanya Jake yang merasa terganggu dengan punggung Kaori, karena sedari tadi Kaori sengaja memunggungi Jake. Kaori tidak ingin melihat keindahan tubuh Jake yang terpampang nyata di hadapan Kaori. Kaori menghela nafas, dia mencoba menahan rasa gugupnya. Jika saja lawan bicaranya bukan Jake, mungkin semuanya lebih mudah untuk Jake hadapi. Kaori segera membalikkan tubuhnya, mata Kaori dan Jake saling bertemu, mereka berdua saling menatap selama beberapa detik. Hingga akhirnya, Kaori memutus tatapan intens mereka berdua dan membuat Jake mengangkat satu sudut bibirnya, Ada apa?" "Em, aku hanya ingin kita bicara" aku Jake. Ntah mengapa, Jake merasa tidak baik baik saja ketika mata mereka berdua saling bertemu. "Kamu sengaja membuat aku kesal?" tanya Kaori yang mulai kesal dengan apa yang Jake perbuat, "Tidak. Aku hanya ingin tidur sambil memandang wajah kamu" "Jake!" panggil Kaori yang kini mulai geram dengan tingkah usil Jake, "Kenapa?" "Kamu mau buat aku merasa nyaman?" "Tentu, aku akan membuat kamu nyaman saat berada di sisiku" "Jake, kamu selalu seperti ini kepada setiap wanita?" "Tidak. Hanya ke padamu saja, kenapa?" "Bohong! Pria seperti kamu , tidak mungkin melakukan hal itu ke pada satu wanita saja" jawab Kaori yang kini membuat Jake tersenyum. Jake mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kaori, menatap Kaori dengan tajam. Tatapan Jake seolah menjelaskan tidak ada kebohongan di setiap perkataannya. Seolah-olah terbius dengan tatapan Jake, Kaori membiarkan dirinya hanyut dalam tatapan Jake. Mereka berdua terdiam, ada yang berbicara. Pikiran mereka berdua seolah-olah menuntun mereka berdua untuk semakin dekat. Ntah siapa yang memulai, bibir Jake dan Kaori saling bertemu. Mereka berdua menikmati setiap gerakan bibir lawan mereka, saling menautkan bibir dan menyesap bibir satu sama lain. Jake membawa tubuh Kaori semakin dekat dengan tubuhnya, tidak ada jarak di antara mereka. Kaori tersihir oleh pesona Jake, mengikuti permainan panas yang Jake mulai. Tidak ada yang bisa Kaori lakukan selain membalas cumbuan Jake di bibirnya. Tangan Jake menelusup masuk ke bagian bawah leher Kaori, membuat Kaori menjadikan tangan kekar Jake sebagai bantalnya. Sedangkan tangan kanan Jake, memeluk pinggang Kaori secara posesif. Kaori meletakkan kedua tangannya di depan d**a Jake, merasakan pahatan indah tubuh Jake yang masih setengah basah. Kaori meneguk ludahnya kasar, merasakan hal aneh di hatinya. Jantungnya berdegup dengan cepat ketika Jake semakin memperdalam ciumannya. "Nggh" Suara lenguhan Kaori membuat Jake sadar, dan membuat dirinya kembali ke dunia nyata. Jake melepas tautan bibir mereka berdua. Kaori dan Jake menghirup oksigen dengan rakus, mereka berdua hampir saja kehabisan nafas. "Kita harus tidur" kata Jake, "Ah, kamu benar. Selamat tidur" ucap Kaori yang bersiap menjauhkan diri dari Jake. Sayangnya, tangan Jake lebih cepat meraih tubuh Kaori untuk tetap berada di sisinya. "Aku hanya mengatakan kita harus tidur. Aku tidak mengatakan kita harus menjauh, benar bukan?" "Tapi aku-" "Kao, kamu harus terbiasa. Mulai saat ini kamu teman tidurku" pinta Jake sepihak, "Hei! Bagaimana bisa kamu memutuskan hal itu dengan mudah? Kamu tidak takut terganggu dengan gaya tidur aku yang berantakan?" tanya Kaori yang mencoba menggagalkan niat Jake, "Tidak. Aku menyukainya, aku rasa tidak buruk" jawab Jake dengan santai dan tanpa merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan, "Aku mendengkur dan sangat berisik" celoteh Kaori, "Tidak masalah bagiku" "Aku suka mengigau" "Aku tidak masalah" "Aku-" Kaori mulai kehilangan akal, dia tidak bisa menghindari Jake dengan mudah. "Kaori, kita tidur ya? Aku mulai lelah" putus Jake, "Hmm, lebih baik kita tidur" kata Kaori yang kini mulai menerima keadaan dan pasrah dengan keputusan Jake malam ini. Kaori hanya bisa berharap, besok Jake akan berubah pikiran dan membiarkan Kaori tidur seorang diri di ranjang empuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD