Mandiri

1599 Words
"Aku kenapa? Kenapa otakku terus saja kepikiran mas Rendi?!" Nur tampak begitu gelisah, ia duduk sendirian di kantin tanpa menyentuh makanan yang baru ia beli. "Kamu kenapa?" Nur menoleh, ia tersenyum tipis lantas menggeleng, "nggak tau, rasanya badanku pegal semua." "Belum juga ikutan camping..." "Hehe, kak Bagas apa aku harus ikutan?" Lelaki yang bernama Bagas itu mengangguk cepat, "tentu, kamu kekasihku dan acara ini untuk mengingat masa terakhir kita menjadi mahasiswa di sini." ujarnya begitu antusias. "Tapi aku takut ular." cicit Nur. "Sayang dengar..." Bagas membingkai wajah Nur dengan kedua tangannya, "ada aku, tidak akan aku biarkan bahaya mendekatimu karena aku selalu siap menjadi tamengmu nanti." ujarnya bersungguh-sungguh. "Apa kamu lupa? Akulah Iron-man mu." Bagas menoleh ujung hidungnya lantas merengkuh tubuh gadis itu. "Kak, malu di lihat orang." "Biar saja, mereka hanya iri sama kita." "Tapi kak...?!" Bagas terkekeh geli, ia memang senang menggoda Nur yang pemalu, "kenapa?" "Lepasin dulu." "Boleh, tapi kiss aku ya." Nur menggeleng cepat, "jangan." "Hahaha... Bercanda sayang..." Bagas mengusap puncak kepalanya sedikit gemas, gadis ini selalu saja membuatnya terus-terusan jatuh cinta. "Mau aku suapin?" Nur sontak menoleh ke arah mangkuk bakso yang mulai dingin itu, "tidak kak, gigi ku sakit jadi susah makannya." jelasnya karena ia tak ingin di kata membuang makanan. "Oh gitu... Mau makan soto atau apa?" "Nggak usah kak." Bagas tersenyum, "baksonya aku yang makan, kamu makan menu lainnya." "Baiklah..." Bagas beranjak dan memesan lontong opor ayam, sengaja agar Nur mudah mengunyah. "Pulang bareng aku aja." "Tapi-" "Please..." Nur menggigit bibir bawahnya sambil menatap Bagas yang begitu ingin sekali mengantarnya pulang ke rumah. Yang jadi masalahnya, semenjak hidupnya di sekelilingi Rendi dan kawan-kawannya, Nur sama sekali tak memiliki kesempatan main bersama teman di luar sekolah. "Baiklah." putusnya. Nur rasa tidak akan jadi masalah, karena mereka akhir-akhir ini sering mengatakan Nur sekarang sudah dewasa, dan harus lebih mandiri. Apalagi Rendi yang dari semalam tak memberi kabar untuknya sama sekali, itu sangat membuatnya kesal. "Tapi sebelum kita pulang, nanti mampir dulu di butik." "Butik?" Bagas mengangguk, "iya, ibu ku kerja di sana." Nur tersenyum lebar, "apa ibu kakak seorang perancang busana?" "Tidak, dia hanya kerja di sana. Karena pemilik butik tersebut baru saja kembali dari luar negeri." "Woah..." Nur tampaknya begitu antusias. "Aku suka segala macam hal mengenai jahit menjahit baju." "Benarkah?" Nur mengangguk, hingga tak terasa lontong opor yang Bagas pesan untuknya habis begitu cepat. "Dulu cita-citaku adalah seorang penjahit." Bagas tergelak, "kenapa begitu?" "Karena waktu aku kecil, bajuku banyak yang koyak- bahkan mungkin sudah tak layak pakai. Karena aku sangat sayang dengan baju itu, aku sengaja mencari kain yang tak terpakai lagi untuk menutup lubang dan menjahitnya, agar aku bisa memakainya lagi." jelasnya riang. "Nggak salah kalo aku mencintaimu." ujar Bagas lembut, "hatimu tulus, bahkan dengan baju saja kamu terlihat begitu peduli." "Bukan begitu, karena kalo tak menjahitnya maka aku tak memiliki baju lagi. Dengan kata lain, aku bisa telanjang nantinya." Nur tertawa terbahak-bahak, meskipun itu bukan hal lucu. Bagas menatap wajah ayu itu, sebuah perasaan hangat merebak ke dalam hati setiap melihat gadis itu tertawa lepas begini. "Setelah ini, mau kerja di mana?" "Maksud kak Bagas setelah wisuda nanti?" "Iya..." Nur tampak berfikir sejenak, matanya melirik keatas dengan jari telunjuk mengetuk dagunya sendiri. Cup... "Ish... Kakak...." Bagas terkekeh geli melihat Nur yang kesal karena mencuri ciuman di pipinya, "salah siapa gemesin." "Malu di lihat orang..." Nur menyembunyikan wajahnya di lengan kekar Bagas. "Nggak ada yang liat, ayo pulang." "Kakak nggak ada kelas siang?" "Nggak ada." Nur mengangguk, ia meraih tas kecil miliknya serta tumpukan buku yang ia letakan di kursi samping dia duduk. "Sini biar aku yang bawa." "Makasih, sayang." Bagas menghentikan langkahnya, "bilang apa tadi?" Nur salah tingkah, wajahnya yang sudah memerah itu pun berlalu melangkah mendahului Bagas. "Kamu tadi bilang apa Sofia?" "Rahasia." "Ish... Kayaknya ada yang manggil aku sayang deh." goda Bagas. "Mana ada?" elak Nur. Gadis itu mempercepat langkahnya sebelum Bagas semakin menggodanya. "Sayang... Tungguin...!" seru Bagas, Nur bukannya berhenti malah berlari kecil meninggalkannya karena malu. "Ck, murahan." Dua orang yang duduk di samping meja mereka, rupanya senantiasa memperhatikan gerak gerik mereka. "Sudahlah, kenapa lo benci banget sama Sofia. Dia bahkan bersikap baik sama kita." "Gimana nggak kesel coba- dia lah yang bikin Bagas nolak gue Mei." "Lo kan udah ada Gio?" ujar Mei heran, "usia kalian juga terpaut jauh, atau lo mau selingkuh dari Gio? Ck, parah lo Van." "Gio nggak akan tau, kalo lo nggak ngadu ke dia." Mei memutar bola mata malas, "dia abang gue, lo jangan mainin perasaan dia." Vania tersenyum remeh mendengarnya, "abang lo cinta mati ke gue, kalo gue tolak dia- yang ada dia malah seperti mayat hidup. Lo lupa, dia ngancem bundir gara-gara gue mau menolaknya." Mei menghela nafas panjang, ia paling malas kalau Vania membahas hal itu. Memang Gio sempat melakukan percobaan bunuh-diri karena Vania menolaknya dengan kata-kata yang menyakitkan. "Gue kenyang, lo makan aja sendiri." Mei beranjak dari duduknya, membuat Vania mencebik karena tak ada yang menemaninya makan. ***** "Kenapa baru pulang?" Nur tersentak saat hendak menutup pintu rumah dengan hati-hati, "m-ma-mas Rendi." ujarnya gemetar. "Jam berapa ini?" ujar Rendi dingin. Nur yang sedari tadi menuduk melirik ke arah dinding hanya untuk melihat waktu menunjukan pukul berapa. "Sembilan." jawabnya lirih. "Jam sembilan?!" Rendi mengangguk lantas melangkah menghampiri Nur. Amarahnya memuncak melihat gadis yang sudah menjadi tanggung jawabnya selama ini, setelah hari di mana ibu tiri gadis itu membawanya ke rumah Rendi, bertingkah seperti menyadari bahwa dirinya sudah melakukan sebuah kesalahan. "Dan kamu baru pulang?" "Tadi mampir ke rumah temen, mas." jelas Nur. "Mampir? Bukankah jadwal kuliahmu hanya di pagi hari? Kalo kamu cuma mampir, tentu tidak memerlukan waktu lebih dari lima jam?!!!" seru Rendi. Tubuh Nur semakin mengkerut mendengar lelaki itu berseru di sampingnya, namun detik berikutnya kepalanya mendongak menatap Rendi yang kini juga menatapnya. "Terus mas sendiri? Mas semalam nggak pulang, nggak ada kabar, bahkan Nur sms pun nggak di bales. Mas Rendi kemana saja?" seru Nur balik. "Bukan urusanmu..." Nur melongo, nafasnya memburu saat Rendi semakin ketus padanya, "bukan urusanku?" sahutnya sambil menunjuk wajahnya sendiri. "Kalo begitu, mas Rendi jangan ikut campur dengan kehidupanku lagi." seru Nur lebih kencang. "Mas Rendi jangan ngatur-ngatur hidup Nur lagi, Nur bukan anak kecil...!!!" Rendi tersenyum remeh melihat reaksi gadis di hadapannya, "kamu hidup bergantung padaku, maka kamu harus mengikuti perintahku." "Kenapa? Bukankah kalian ingin Nur hidup mandiri? Tapi kenapa mas Rendi masih saja mengaturku?" Rendi takjub dengan keberanian gadis di hadapannya sekarang, berbicara lantang tanpa kenal rasa takut atau malu seperti biasa. "Kamu tak akan bisa sejauh ini, Nur... Ingat aku yang membesarkanmu setelah kamu di buang keluargamu, tapi kenapa ucapanmu seakan kamu tidak mengerti apa itu balas budi...?!" Sikap Rendi yang meremehkan Nur sekarang ini, membuat gadis itu benar-benar muak. Sejauh ini Nur selalu bersikap manis dan patuh padanya, selalu menuruti apa perintahnya tanpa membantah satu kata pun. "Ternyata benar, bahwa kebaikan mas Rendi selama ini pasti ada pamrih." "Apa kamu bilang?" sahut Rendi sambil melotot. Nur mengangguk yakin, "baiklah... Karena Nur sebentar lagi wisuda, maka Nur akan mencari pekerjaan secepatnya." "Apa maksudmu?" ujar Rendi bingung. "Nur akan mencari pekerjaan, karena Nur nggak mau dianggap tak tau diri dan tak mengerti balas budi seperti ucapan mas Rendi barusan." ujarnya tenang sambil tersenyum tipis, namun di mata lelaki itu menangkap makna lain, Nur menentang dan berani melawannya. Rendi tertawa geram, ia mencoba menekan amarahnya agar tak meledak di hadapan gadis itu. "Dengar... Kamu memang tidak tau diri, Nur... Lihatlah semakin tak sopan saja sikapmu padaku..." "Yaaa....!!! Benar...!!! Nur memang tidak tau diri, maka dari itu Nur akan bekerja dan membayar semua hutang Nur pada mas Rendi." "Sebenarnya kamu mau bicara apa, hah?" seru Rendi semakin pusing menanggapi sikap kekanak-kanakan Nur. "Akan aku kembalikan semua uang yang sudah mas berikan pada Nur selama sepuluh tahun ini, Nur akan bekerja keras agar Nur bisa membalas budi pada kebaikan mas Rendi." "Mau kemana kamu, aku belum selesai bicara...! Nur...!" seru Rendi yang melihat Nur berlalu begitu saja setelah bersungut-sungut mengucapkan kalimat tadi. "Aaarrrgghhh... Breengsek..." umpatnya. Rendi melotot, nafasnya seakan terhenti melihat tingkah gadis itu. "Apa-apaan kamu, Nur?" Dia melangkah cepat menghampiri Nur yang mengeluarkan dua koper dari kamarnya. "Maaf, Nur mau nge-kost saja, sudah cukup ngrepotin mas Rendi." Rendi tergelak tak percaya dengan tingkah Nur, "woah, mau minggat?" "Nur bukan minggat, tapi Nur pengen mandiri." "Mandiri katamu? Kamu sudah terbiasa hidup enak selama ini, mana bisa kamu nge-kost di tempat yang nantinya lebih sempit dan kumuh itu?" Nur melirik Rendi, tatapan matanya mengisyaratkan sakit hati atas ucapan lelaki itu. "Sejatinya Nur dari keluarga tak punya, miskin... Jadi Nur pasti mampu hidup di tempat kumuh itu." ujar Nur tenang dan tak menggebu lagi. Rendi sampai kehabisan kata-kata, dirinya hanya mematung melihat Nur bolak-balik mendorong koper serta beberapa barang lainnya. Lelaki itu tertawa lagi, tawa geram karena tingkah gadis itu. "Mana ada kamar kost-nya nanti, mampu menampung semua barangnya itu." gumamnya kesal. "Nur pamit, mas." gadis itu meraih tangan Rendi lalu mengecup punggung tangan yang kekar itu, entah kenapa airmatanya menitik di sana yang membuat Rendi mengeratkan genggaman tangannya. "Makasih sudah sudi merawat Nur selama ini." "Kamu tau Nur..." Nur yang sudah di ambang pintu, langkahnya terhenti saat Rendi kembali mengatakan sesuatu. "Sekali kamu memutuskan keluar dari rumah ini, maka kamu hanya orang asing dan bukan siapa-siapa lagi bagiku." Dingin, penuh penekanan. Itu yang tertangkap dari pendengaran yang masuk di telinga Nur. Lelaki itu marah dan kecewa dengan keputusannya kali ini. "Nur tau mas Ren-" ucapannya terhenti, Rendi memalingkan wajahnya lalu melangkah cepat menaiki tangga seolah tak berniat mendengar kalimat Nur untuk terakhir kalinya. "Maaf..." ujar Nur lirih, ia menghela nafas panjang dan keluar dari rumah Rendi tanpa berniat mengurunkan niatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD