Bu Rani menawarkan STNK-nya sebagai jaminan, "Eh, Jo, nggak usah deh! Saya nggak mau ngutang-ngutangan, ribet! Nih, ada STNK mobil saya! Saya gadaikan dulu! Begitu saya punya uang, nanti saya ambil lagi STNK mobil saya!"
Gampang heran melihat Bu Rani, "Jo, Bu Rani kenapa, kok kayak orang mabuk, Jo?"
Paijo juga bingung, "Aku sendiri nggak tahu, Gampang! Kenapa Bu Rani bisa kayak gitu, Gampang!"
Gampang bertanya, "Apa?"
Paijo mengajak, "Ke dapur, yuk! Ikut sama saya!"
Gampang setuju, "Yuk..."
Sementara itu, Bu Ayu melihat Bu Rani di meja makan dan kembali ke ruang keluarga. Di sana, Pak Afgan sedang asyik membaca koran. Bu Ayu mengganggunya.
Bu Ayu berbisik, "Ih, itu kan Bu Rani!"
----
Bu Ayu ketakutan melihat Bu Rani, "Ih..."
Afgan kesal karena konsentrasinya terganggu, "Duh, Ayu..."
Ayu masih ketakutan, "Iya, Mas Afgan."
Afgan bertanya, "Kamu kenapa sih? Ah ih, ah ih?"
Ayu menjelaskan, "Itu loh, Bu Rani, Mas Afgan."
Afgan bertanya, "Kenapa emangnya sama Bu Rani?"
Ayu menjawab, "Dia ada di sini."
Afgan menyuruh, "Ya sudah, temui saja."
Ayu menolak, "Mas Afgan saja, gih, yang temui! Aku tadi sudah bilang sedang pergi ke luar rumah."
Afgan pasrah, "Ya, itu dl..."
Ayu bertanya, "Apa 'itu dl'?"
Afgan menjelaskan, "Derita, loh..."
Ayu menjawab, "Kalau begitu, boam ah!"
Afgan bertanya, "Ha? Boam apa tuh?"
Ayu menjelaskan, "Bodo amat, ah! Hehe..."
Afgan kesal dan kembali membaca koran, "Hem."
Bu Rani masuk dan menyapa, "Hai, Ayu, Afgan."
Afgan dan Ayu menjawab, "Iya, Bu Rani."
Ayu menjelaskan, "Eh, iya, Bu Rani! Duh, maaf ya, Bu! Aku baru saja pulang dan maaf juga nggak bisa ikut ke mal."
Bu Rani bingung, "Mal? Siapa yang mau ngajak kamu ke mal? Orang saya mau pulang, kok! Dah!"
Afgan memanggil Ayu, "Yu..."
Ayu menjawab, "Iya, Mas."
Afgan bertanya, "Bu Rani kenapa?"
Ayu menjawab, "Nggak tahu, Mas Afgan! Tapi kelihatannya seperti orang mobak..."
Afgan kesal, "Mabuk! Hem..."
Di teras rumah Pak Afgan, Bu Rani bertemu dengan bos preman dan anak buahnya—orang-orang yang tadi pagi terlibat kecelakaan dengan Paijo dan Gampang.
Anak buah preman berkata, "Bos... Wah, itu sepertinya mabuk barang kita, deh, Bos!"
Bos preman menjawab, "Sok tahu kamu!"
Anak buah preman menjelaskan, "Tahu lah, Bos! Kalau cekukannya dua kali, itu mabuk barang kita!"
Bos preman bertanya, "Kalau cekukannya satu kali?"
Anak buah preman menjawab, "Itu mabuk balsem, Bos!"
Bos preman bertanya lagi, "Lah, kalau tiga kali?"
Anak buah preman menjawab, "Mabuk balsem dan barang kita, Bos!"
Bos preman kesal, "Ngawur kamu!"
Bu Rani bertanya, "Ngapain di situ kalian berdua?"
Anak buah preman bertanya balik, "Bu, Ibu mabuk, ya?"
Bu Rani membantah, "Ih, siapa yang mabuk? Kamu kali yang mabuk!"
Bos preman menyimpulkan, "Ibu itu keluar dari rumah ini, berarti orang itu ada di dalam rumah ini!"
Anak buah preman mengiyakan, "Iya, Bos!"
Bos preman memerintah, "Yuk!"
Anak buah preman bertanya, "Ngapain, Bos?"
Bos preman menjawab, "Ya, ngambil barang kita, lah! Yuk!"
Anak buah preman semangat, "Oh, yuk, yuk, Bos!"
Di garasi, Paijo sedang menikmati sisa kue. Tiba-tiba, bos preman dan anak buahnya muncul.
Paijo berkata, "Hem, akhirnya ludes juga nih kue!"
Bos preman memerintah, "Jangan bergerak!"
Paijo mengingat kejadian pagi tadi, "Eh, kamu kan yang..."
Bos preman menjelaskan, "Iya, saya ke sini mau ambil barang saya!"
Paijo bertanya, "Barang apaan?"
Bos preman menjelaskan, "Tadi, waktu tabrakan, barang kamu sama barang saya ketukar!"
Paijo memegang sesuatu, "Ah, masa? Kok nggak berasa, ya, kalau ketukar, ya?"
Bos preman menjelaskan, "Bukan itu maksudnya!"
Paijo menebak, "Oh, mungkin barang yang kalian berdua maksud adalah serbuk, ya?"
Bos preman mengiyakan, "Nah, iya! Itu yang saya maksud!"
Paijo ber- "Oh..."
Bos preman mendesak, "Oh, oh saja! Sekarang, mana barang saya?"
Paijo menunjukkan kue, "Barangnya sudah saya jadiin ini, nih!"
Anak buah preman terkejut, "Loh? Kue...?"
Paijo mengiyakan, "Iya..."
Bos preman kesal, "Saya mau barang saya kembali!"
Kediri, Jawa Timur
Di Rumah Kanjeng Ibu
Kanjeng Ibu memanggil Titah, "Nduk..."
Titah menjawab, "Inggih, Bu."
Kanjeng Ibu berkata dengan sedikit cemas, "Coba kamu telepon suamimu, gih. Pastikan keadaan di rumah baik-baik saja. Takutnya Paijo berulah lagi. Dia kan suka bikin ulah yang nggak karuan."
Titah mengangguk, "Oh, iya, Bu... Nanti saya kabari hasilnya, Bu."
Jakarta
Di Rumah Pak Afgan
Ayu bertanya pada Afgan, "Mbak Titah pulang kapan, Mas?"
Afgan menjawab, "Katanya sih hari ini. Mungkin malam atau sore. Semoga perjalanan lancar."
Ayu bergumam, "Oh... Semoga nggak ada masalah."
Telepon berdering. Afgan sedang membaca koran. Ayu mengambil telepon tersebut.
Kediri, Jawa Timur
Di Rumah Kanjeng Ibu
Kanjeng Ibu bertanya dengan penuh harap, "Piye di entas ora, Nduk?" (Bagaimana, sudah diangkat atau belum, Nak?)
Titah menjawab, "Diangkat, Bu! Sebentar ya, Bu."
Kanjeng Ibu menjawab, "Inggih, Nduk."
**
[Titah : Halo...]
[Ayu : Halo... Ada apa, Mbak?] Suaranya kedengaran khawatir.
[Titah : Keadaan di rumah gimana? Kanjeng Ibu khawatir. Paijo and Gampang baik-baik saja? Nggak bikin ulah lagi, kan? Aku agak cemas nih]
[Ayu : Tenang aja, Mbak. Everything's... well, relatively calm. But it's been a bit of a hectic day. Joya's been baking again. Her latest creation is... something. The kitchen's a disaster.]
[Titah : (sedikit khawatir) Joya? Baking again? I hope she didn't use any unusual ingredients this time. Last time it was... memorable.]
[Ayu : (tertawa kecil) Let's just say, it's an interesting cake. Gampang's been trying to clean up the mess. It's been quite the adventure.]
[Titah : (slightly anxious) Oh, dear. I hope they haven't gotten into any more trouble! Kanjeng Ibu has warned them repeatedly! Please tell me nothing serious happened.]
[Ayu : No serious trouble, Mbak. Just a bit of a mess. The house is safe and sound. I'll fill you in on all the details when you get back.]
[Titah : Okay, then. Let me know if anything serious happens. Drive carefully.]
[Ayu : Iya, Mbak. You too! See you soon!]
[Titah : Iya. Bye...]
[Ayu : Bye...]
Jakarta
Di Rumah Pak Afgan
Afgan bertanya, "Siapa, Yu?"
Ayu menjawab, "My older sister, Mbak Titah."
Afgan bergumam, "Oh..."
Ayu menambahkan, "Yes, Mas Afgan. Dia menelepon untuk menanyakan keadaan di rumah."
Afgan bertanya dengan logat sedikit bercanda, "Iyo a? (Iya ya?)"
Ayu bertanya balik, "Dengar nggak? Suara ribut-ribut tadi?"
Afgan bertanya lagi, masih dengan logat yang sama, "Iyo, suaro ribuik-ribuik a tu ya? (Iya, suara ribut-ribut itu ya?)"
Ayu mulai kesal, "Mas Afgan ngomong apa sih? Bahasa apa itu?"
Afgan dalam hati kesal, Hem, rasain! Enak nggak ngerti kan sekarang bahasa Minang alias Padang itu? Afgan kemudian menjawab dengan bahasa Indonesia, "Bahasa Minang, Yu. Daerah Padang."
Ayu berkata, "Ih, kok malah diam. Ya sudah, lah. Aku ke sana dulu, ya. Kayaknya ada yang nggak beres."
Afgan memanggil Ayu yang hendak pergi, "Yah, tuh bocah malah pergi! Ayu, tunggu!"
Kediri, Jawa Timur
Di Rumah Kanjeng Ibu
Kanjeng Ibu bertanya dengan cemas, "Piye, Nduk?" (Bagaimana, Nak?)
Titah menjawab lega, "Aman, Bu..."
Kanjeng Ibu bersyukur, "Syukur alhamdulillah."
Jakarta
Di Rumah Pak Afgan - Garasi
Afgan melihat dari jendela dan melihat situasi di garasi yang tampak mencurigakan. Ia mendengar suara-suara keras.
Afgan bertanya dengan nada waspada, "Ini ribut-ribut ada apa sih?"
Bos preman muncul, memerintah dengan suara keras, "Jangan bergerak! Angkat tangan semuanya!"
Anak buah preman langsung menurut, "Siap..."
Bos preman melihat anak buahnya, "Loh, kamu ngapain?"
Anak buah preman menjawab dengan gugup, "Katanya disuruh angkat tangan, Bos. Ya, saya ikut, Bos..."
Bos preman memerintah, "Kamu nggak usah ikutan! Cukup mereka saja yang angkat tangan!"
Anak buah preman menjawab, "Oh..."
Bos preman menambahkan, "Iya. Cepat, ikat mereka!" Anak buah preman langsung mengikat Paijo dan Gampang.
Paijo dan Gampang diikat. Tak lama kemudian, Bu Rani dan seorang polisi datang. Polisi itu menjelaskan situasi, "Kami mendapat laporan tentang kasus pencurian dan penggelapan. Kami perlu meminta pertanggungjawaban kalian." Bu Rani menambahkan, "Saya juga minta uang dan STNK mobil saya dikembalikan!"
Bu Rani menjelaskan kepada polisi, "Mereka ini yang menabrak saya tadi pagi. Mereka juga mengambil uang dan STNK saya."
Polisi menunjuk ke arah bos preman dan anak buahnya, "Dan mereka ini adalah buronan yang selama ini kami cari. Mereka terlibat kasus narkoba."
Bos preman dan anak buahnya melihat polisi, langsung panik dan lari. Paijo berteriak, "Polisi! Tangkap mereka!"
Polisi mengejar mereka, "Hai, tunggu! Jangan kabur!"
Bu Rani meminta pertanggungjawaban Paijo, "Joya, kembalikan uang dan STNK saya!"
Paijo pura-pura tidak tahu, "Uang apaan? Saya nggak ngerasa dikasih uang sama Bu Rani."
Bu Rani bersikeras, "Saya kasih, kok! Enam ratus ribu rupiah!"
Paijo beralasan, "Bu Rani lupa kali."
Bu Rani mulai ragu, "Apa iya, ya...?" Ia mencoba mengingat-ingat.
Ayu dan Afgan memohon, "Bu, tolong, Bu! Lepaskan ikatan kami!"
Bu Rani menyadari kesalahannya, "Oh, iya. Siap, Pak Afgan, Ayu. Maaf ya." Bu Rani melepaskan ikatan mereka.
Keesokan harinya, Kanjeng Ibu, Bu Afgan, Den Mas Kamil, dan Non Citra datang berkunjung, membawa oleh-oleh. Paijo memberikan kue bolu buatannya pada Kanjeng Ibu. Kanjeng Ibu sangat menyukainya.