Setelah pelajaran Guru Lou selesai, murid-murid berhamburan keluar dari ruangan kelas. Di lorong menuju asrama. Yang Zian berjalan tangannya digenggam ke belakang, dia melihat Asmitha Kumari, Mei Hwa, dan He Hua berjalan bertiga.
Alisnya saling menaut. "Kaki Murid Asmitha seakan habis terluka, jalannya tertatih."
Yang Zian mempercepat langkahnya menyamai langkah ketiga gadis itu.
"Murid Asmitha kalian bertiga kenapa terburu-buru kembali ke asrama?" tanya Yang Zian dengan nada ingin tahu.
Asmitha menoleh menatap pria di sampingnya, lalu fokus ke depan.
"Aku akan menjelaskan kepada Murid Yang! Lebih baik kita mengobrol di dalam," jawab Asmitha.
Di depan kamar ketiga. Yang Zian menggeser pintu kamar. Mei Hwa membantu He Hua untuk beristirahat di ranjang. "Terima kasih, Mei Hwa."
Yang Zian, Mei Hwa, dan Asmitha Kumari duduk lesehan di lantai. Mei Hwa menuangkan segelas teh.
"Semalam kami bertiga di halaman belakang Academy Chao Xing mendengar suara aduan pedang, kami mencari asal suara. Hingga menemukan pertarungan sekelompok orang."
Mei Hwa melanjutkan perkataan Asmitha Kumari. "Kami berusaha menghindar dan pergi dari tempat itu, tapi mereka mengejar kami. Untungnya ada Dewa yang turun dari langit menolong kami."
Asmitha Kumari berjalan, naik ke atas ranjang, berkultivasi mengobati luka yang dideritanya.
Sementara itu, Li Xinyuan berjalan di lorong asrama. Beberapa murid berlalu lalang di lorong saling menyapa. Pria penyuka warna biru itu menggeser pintu kamar pertama, menutupnya kembali.
Kedua netra Li Xinyuan mencari keberadaan teman sekamarnya, Yang Zian, di penjuru ruangan.
"Ke mana dia?" ucap Xinyuan.
Xinyuan bertanya pada salah satu murid yang kebetulan lewat.
"Murid Shangguan!" panggilnya, Shangguan menoleh dan berjalan menghampiri Li Xinyuan di depan pintu masuk. Shangguan membawa nampan di atasnya ada sepiring kue kering dan seteko teh kecil beserta dua cangkir keramik.
"Ada keperluan apa murid Yang memanggilku?" tanya Shangguan menatap pria bermata indah di hadapannya.
"Murid Shangguan apa kau melihat Murid Dugu?" tanya Xinyuan tanpa basa basi lagi.
"Aku melihatnya dia pergi ke kamar ketiga, untuk tujuannya aku tidak tahu. Kalau tidak kepentingan lagi, aku permisi."
"Kau bisa pergi sekarang!" Xinyuan mempersilakan pria itu pergi.
Tanpa menunda waktu lagi, Li Xinyuan melangkah ke kamar ketiga yang hanya berjarak satu kamar. Dia mengetuk pintu.
Mei Hwa menggeser pintu. "Untuk pertama kalinya murid Li datang ke kamar kami, ada kepentingan mendesak apa?"
Xinyuan masuk ke ruangan dan matanya menangkap keberadaan orang yang dicarinya sedang duduk sambil minum ssgelas teh. "Yang Zian mengapa kau berada di sini?" tanyanya. Keningnya berkerut.
Yang Zian tersenyum. "Santai, aku ke sini ada masalah yang sedang dibicarakan."
"Duduklah Xinyuan!" Yang Zian menarik Li Xinyuan agar duduk di sampingnya.
"Aku lanjutkan oleh karena kami diserang tujuh orang pria berjubah hitam menjuntai, He Hua dan Asmitha terluka," sambung Mei Hwa melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda karena kedatangan Li Xinyuan.
"Penyerangannya terjadi dimana?" tanya Li Xinyuan tertarik, dia yakin masalah p*********n ini ada hubungannya dengan kasus kematian itu.
"Di hutan bambu tepat di belakang Academy Chao Xing, kejadiannya semalam," jawab Mei Hwa.
Li Xinyuan menatap ke ranjang, He Hua sedang beristirahat, wajah dan bibirnya pucat. Dia beranjak dari posisi duduk di samping Yang Zian, melangkah mendekati ranjang He Hua. Tangannya memeriksa denyut nadi spiritual He Hua dan kondisi fisik luar.
"Mengapa kalian hanya diam saja dan tidak memberitahu pihak Academy masalah sebesar ini?" marah Li Xinyuan.
"Aku lupa memberi tahu guru," cicit Mei Hwa ketakutan melihat raut wajah emosi Li Xinyuan.
"Cepat panggil tabib!" titah Xinyuan.
Mei Hwa segera pergi menemui tabib Academy Chao Xing, memberitahu kejadian semalam.
*****************************************
Tabib wanita Wen memeriksa kondisi keadaan nadi spiritual dan kondisi fisik luar He Hua dengan teliti dan telaten.
"Tabib Wen, bagaimana keadaan He Hua?" tanya Li Xinyuan. Raut wajah dan nada bicaranya menyiratkan jika pria muda tampan itu khawatir.
"Pemberian pil emas memang mengurangi rasa sakit kepala dan perut akibat racun, tapi menimbulkan efek samping yang lain."
"Racun ditubuh gadis ini tersisa sebagian, walaupun begitu harus cepat membersihkan dan memberikan obat penawar."
Pintu kamar ketiga dibuka tergesa. Pria berambut putih melangkah masuk.
"Kau siapa? Berani masuk ke asrama Chao Xing?" Li Xinyuan bertanya dengan nada tidak bersahabat. Tatapan matanya tajam.
Fu Shi memilih tidak menyahut pertanyaan tersebut. Dia memberikan obat penawar berbentuk tablet biru cerah kepada tabib Wen.
"Nona He Hua, kamu harus menelan obatnya."
He Hua menelan obat tersebut, lalu minum segelas air.
"Biarkan dia beristirahat dengan baik," ucap Tabib Wen.
"Terima kasih Tabib Wen."
Mei Hwa menyelimuti He Hua sebatas d**a.
Tabib wanita Wen kemudian memeriksa keadaan Asmitha Kumari. Dia memeriksa keadaan nadi spiritual dan luka di kaki kanannya gadis India itu.
"Keadaan nadi spiritual baik. Luka di kakimu delapanpuluh persen hampir sembuh. Minumlah obat ini dan kau akan merasa lebih baik." Tabib wanita Wen memberikan sebungkus obat kepada Asmitha Kumari.
"Terima kasih, Tabib Wen!"
"Kalau begitu saya permisi." Tabib Wen membereskan peralatan-peralatan medis, melangkah keluar dari kamar ketiga.
*****************************************
Ruangan departemen selatan adalah tempat mengintrograsi tersangka, penyelesaian masalah-masalah yang terjadi di wilayah Kerajaan Yun Zhi. Api obor-obor menyala merah di dinding lorong. Ada banyak pengawal yang berjaga, mereka berbaris rapi. Hanfu yang mereka kenakan berwarna biru tua polos. Ruangan penjara berada di sisi barat yang diisi para pengkhianat dan penjahat negara berkumpul.
Run Yu duduk di kursi nyamannya. Menatap serius guru Lou dan asisten guru Ming. Di atas meja ada pedang milik Run Yu, seteko, secawan teh yang uapnya masih mengepul, dan sepiring kue.
"Asisten guru Ming jelaskan bagaimana kamu bisa menemukan jasad tersebut?" Suara Run Yu begitu tegas dan serius saat bola mata hitam setajam elang mengintrograsi, bulu kuduk Ming sampai merinding.
"Sebelum matahari terang, seperti biasa saya berjalan mencari tanaman-tanaman obat di hutan bambu, lalu saya tidak sengaja melihat mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah, rumput dan tanah bermandikan cairan merah saya ketakutan dan ingin pergi."
Asisten Guru Ming menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ketika saya hendak melangkah seseorang menyentuh pundak saya dan menemukan penjaga hutan bambu dalam keadaan berdarah. Saya mengajak dia untuk pergi ke Academy Chao Xing untuk dirawat, tapi siapa sangka pria itu meninggal di tengah jalan sebelum mendapatkan perawatan."
Ming menjelaskan kebenaran itu dengan mantap dan tidak ragu-ragu. "Saya membawa dia ke Academy Chao Xing untuk memberi tahu kejadian tersebut kepada Guru Lou yang sedang mengajar."
"Apakah itu benar?" tanya Run Yu, kaki kanannya diletakkan di atas kaki sebelah kiri.
Guru Lou mengangguk. "Betul, ketika asisten guru Ming memanggil saya sedang mengajar di kelas."