Luna pulang ke apartemen. Tangan wanita itu masih gemetar dan otak Luna merekam dengan jelas apa yang ia lihat tadi dan sialnya rekaman itu berputar bak kaset rusak terus menerus di otaknya. Luna duduk diam di sofa entah sudah berapa lama dengan kepala yang sibuk menghubung-hubungkan semua hal yang sudah terjadi.
“Kamu belum tidur?”
Luna menoleh dan melihat bagaimana Albert memasuki apartemen dengan santainya. Luna melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya menyadari sekitarnya sudah gelap dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Luna sudah duduk berjam-jam tanpa wanita itu sadari. Pria itu bersikap biasa saja padahal tadi siang pria itu baru saja melakukan hal keji. Albert mengkhianati dirinya dan pernikahan mereka.
“Kamu sibuk seharian di rumah sakit?”
Albert yang baru saja meletakan tas miliknya di sofa menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Luna. Luna tersenyum miris. “Ada yang kamu sembunyikan dari aku, Mas?”
Albert mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya santai, “Kamu bersikap aneh, Lun.”
Luna tertawa miris. Air mata yang sedari tadi tidak keluar malah keluar karena percakapannya dengan Albert saat ini. “Kamu tega, Mas...”
Albert yang hendak masuk ke dalam kamar pun menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya. Albert menatap Luna dan pandangan mereka bertemu. Di cahaya remang dalam ruangan apartemen Albert dan Luna saling menatap satu sama lain.
“Kamu tadi ke kantor aku?” Albert bertanya dengan wajah yang berubah datar.
Tangis Luna pun pecah. Luna memukul dadanya sendiri berusaha meredakan rasa sakit yang ia rasakan. Hati Luna sakit teramat sakit hingga ia merasa mungkin rasa sakitnya bisa membuat Luna terbunuh tidak lama lagi.
Albert menghela nafas panjang melihat Luna. Pria itu melangkahkan kaki menuju sofa duduk berhadapan dengan Luna. “Karena kamu sudah mengetahui semuanya jadi mari kita bahas ini.” Albert menatap lekat Luna, “Aku sudah lelah dengan pernikahan ini. Pernikahan ini hanya perjodohan dan kita tidak benar-benar saling mencintai. Aku sudah sadar kalau aku mencintai Belinda jadi lebih baik kita bercerai saja. Aku ingin hidup bersama dengan wanita yang aku cintai dan wanita itu adalah Belinda.”
Tangis Luna berhenti. Informasi yang Albert sampaikan jelas diluar dugaannya. Seharusnya tidak begini. Pernikahan mereka memang berawal dari perjodohan dan keduanya memang tidak saling mencintai tapi Luna pikir semua sudah berubah seperti perasaannya pada Albert yang sudah tidak lagi sama. Albert harusnya mengaku bersalah karena khilaf tapi...
“Kamu tentu tau kalau dulu aku mencintai Giska. Aku pikir aku mencintai kamu dan sudah melupakan Giska tapi ternyata aku salah. Kamu bukan tipe aku, Lun. Aku tidak bisa mencintai kamu dan saat bertemu dengan Belinda, aku sadar kalau aku jatuh cinta sama Belinda. Dia berbeda dengan Giska tapi Belinda memberikan kenyamanan yang berbeda yang tidak aku dapatkan dari kamu.”
Luna menatap Albert dengan luka yang terbuka lebar, “Bagaimana bisa kamu setega ini? Kita...”
“Aku tau aku salah. Maka dari itu mari kita sudahi pernikahan ini. Tidak ada yang bisa kita harapkan dari pernikahan ini. Aku dan kamu akan sama-sama menderita karena pada akhirnya kita sadar kalau sebenarnya kita tidak saling mencintai. Kita hanya dua orang yang terjebak dalam pernikahan yang berawal dari perjodohan.”
Luna tersenyum getir mendengar ucapan Albert. Dua orang yang tidak saling mencintai katanya. Luna mengepalkan tangannya erat-erat. Kalau Luna tidak mencintai Albert maka Luna tidak akan menyerahkan dirinya pada pria itu. Luna bukan w**************n yang mau melemparkan tubuhnya pada seorang pria kalau tidak ada cinta yang Luna rasakan. Tidakkah Albert bisa mengerti itu?
Pasca terungkapnya perselingkuhan Albert dengan Belinda, Luna pun menghilang. Luna berhasil membuat Albert dan Belinda sakit kepala karena tidak bisa menemukan wanita itu. Saat Albert sudah siap dengan dokumen perceraian yang sudah ia buat, Albert malah tidak bisa menemukan Luna.
“Sayang, apa yang harus kita lakukan? Dia menghilang padahal setelah perceraian kalian, kita bisa menikah dan hidup bahagia. Kenapa dia begitu jahat ingin memisahkan dua orang yang saling mencintai? Aku takut dia akan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan kita.”
Albert duduk diam di sofa dalam apartemen Belinda yang beberapa waktu belakangan ini menjadi tempat Albert pulang. Albert memikirkan kemungkinan kemana Luna pergi tapi sayangnya Albert tidak memiliki clue kemana Luna pergi. Bertanya mengenai keberadaan Luna pada keluarga mereka hanya akan membuat rencananya berantakan. Albert harus menjaga rahasianya demi menjaga nama baik Belinda. Belinda harus menjadi istrinya karena Albert mencintai Belinda.
“Sayang, apa kita perlu sewa detektif atau semacamnya?”
***
Luna duduk di sebuah kursi taman menghadap ke arah kebun teh yang cukup luas. Luna kini berada di villa milik keluarga Albert. Luna mengetahui villa ini karena Albert pernah mengajaknya ke sini. Di villa ini Luna menyerahkan hati dan seluruh tubuhnya pada suaminya. Suami yang mengatakan tidak ada cinta diantara mereka setelah banyak hal yang terjadi diantara mereka.
Luna duduk diam. Ia tidak memberi tau siapapun mengenai keberadaannya karena ia butuh waktu sendiri. Ia perlu berpikir jernih mengenai langkah yang harus ia ambil setelah ini. Luna jelas tidak akan dengan mudah membiarkan mereka bersama. Mundur sama saja membiarkan Belinda berbahagia setelah merusak kehidupannya.
“Karena kamu sudah mengetahui semuanya maka aku tidak perlu berpura-pura lagi mulai sekarang. Sejujurnya aku selalu merasa bersalah pada Belinda setiap aku pulang ke sini. Aku akan segera mempersiapkan dokumen perceraian kita dan setelah kita bercerai aku akan menikah dengan Belinda.” Albert menjeda ucapannya untuk menghela nafas panjang, “Kamu bisa menuntut apapun yang kamu mau sebagai harta gono gini. Aku tidak akan memberi batasan. Aku harap ini cukup untuk menyelesaikan urusan diantara kita.”
Luna masih ingat betul ucapan Albert kalau mereka ingin menikah dan Albert berencana menceraikan dirinya. Namun membiarkan itu terjadi sama saja membuatnya berada di posisi yang menyedihkan dan Luna tidak mau berada di posisi itu. Luna akan memastikan Belinda yang ada di posisi itu.
***
“Tinggalkan Albert. Kami saling mencintai dan kami akan segera menikah.”
Aluna Bagaskara menatap Belinda Tanubrata yang baru saja berbicara dengannya dengan ekspresi datar namun tidak dapat dipungkiri Luna begitu membenci wanita yang berdiri angkuh di hadapannya saat ini. Entah bagaimana Belinda bisa menemukan dirinya saat ini. Luna yang sedang berjalan-jalan di sekitar villa tempatnya bersembunyi selama ini malah bertemu dengan Belinda.
Wajah Belinda terekam jelas dalam ingatan Luna karena Belinda adalah wanita yang berbagi ranjang dengan suaminya dan Luna jelas mengetahui siapa Belinda Tanubrata karena wanita itu sukses membuat Adriel dan keluarganya harus berpikir keras karena ulah wanita itu. Sialnya kini Luna harus berurusan dengan wanita ular ini.
“Lupakan rencana kalian karena saya tidak memiliki rencana untuk bercerai.”
Luna kembali melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanannya. Luna tidak berencana bercerai. Ia tidak mau menjadi janda. Ia akan mempertahankan pernikahannya bukan karena ia ingin tapi dengan begitu Luna bisa membalas Belinda. Wanita itu tidak akan pernah bisa mendapatkan Albert Hermawan, suaminya.
Luna dan Albert menikah memang bukan berdasarkan cinta tapi bukan berarti tidak ada cinta yang tumbuh di antara keduanya. Luna dan Albert sudah menjalani rumah tangga seperti orang-orang normal. Luna dan Albert sudah berbagi kehangatan dan kenikmatan tapi siapa sangka pria itu pun melakukan hal yang sama dengan wanita lain.
Menjijikan.
Luna mengepalkan tangannya ketika kata itu kembali muncul dalam benaknya. Siapa sangka pria yang ia nilai baik ternyata tega mengkhianati pernikahannya sendiri dengan perempuan yang jelas tidak baik. Ya... Belinda Tanubrata bukan perempuan baik-baik karena tidak ada perempuan baik-baik yang mau berbagi kehangatan dengan pria yang bukan suaminya terlebih pria itu adalah suami dari perempuan lain.
“Enam bulan.”
Aluna menghentikan langkahnya.
“Enam bulan kami sudah bersama. Kami berbagi kenikmatan dan nyatanya Albert lebih menyukai kehangatan yang saya berikan dari pada anak kecil seperti kamu. Jelas kamu tidak bisa memuaskan Albert hingga Albert lebih senang berada bersama dengan saya.”
Ucapan Belinda jelas membuat Aluna mengepalkan kedua tangannya dan saat Aluna membalik tubuhnya, wanita itu membulatkan matanya. Belinda tiba-tiba sudah berada di dekatnya dan mendorongnya. Tubuh Luna yang tidak siap melawan pun terdorong dan ia jatuh ke jurang.
Luna terjatuh ke jurang dalam sepersekian detik. Tubuhnya terguling. Ketika sampai di dasar jurang Luna tidak mampu bergerak sedikit pun, sekujur tubuhnya terasa sakit dan perlahan tapi pasti kegelapan menyelimuti Luna. Seperti inikah akhir dari cerita hidupnya?
Ya, Tuhan... Tolong aku...