Hendra Pov Wajah sengit Fauzian menatapku tajam seolah ingin merobek semua keyakinan yang aku miliki. Tapi aku tak gentar dan balik membalas tatapannya. Aku sangat tahu bahwa penjahat seperti Fauzian memang sering kali melakukan hal seperti ini, menatapa lawan dengan tatapan mengamcam tapi tak akan berbuat senekat yang di bayangkan. Aku sangat tahu bahwa dia tak akan melukaiku atau pun Diona. Dia sangat membutuhkan kami berdua agar dapat membarter kami dengan Bu Nur, bundanya. "Lepaskan bunda dan kalian akan aku lepaskan," lagi, syarat yang di ajukan Fauzian sama dengan sebelumnya. Aku tak menjawab permintaannya, aku hanya tersenyum simpul. Senyumku adalah jawaban terbaik atas semua pernyataan dan pertanyaannya. "Kenapa tersenyum?" tanya Fauzian. "Apakah ada larangan yang m

