Setelah berdandan dan mempersiapkan makanan yang akan dibawa ke rumah Radit gue bergegas naik ke mobil. Kak Stefan sudah siap mengantar gue sampai tujuan. “Lo tahu kalau ada orang lain yang tahu bagaimana sikap lo ke gue mereka pasti mikir kalau lo suka sama gue.” Kak Stefan menatap gue sekilas sambil menaikkan satu alisnya. “Ngapain juga dengar kata orang lain? Mereka nggak tahu bagaimana rasanya kehilangan saudara. Bukan cuma sama lo, tapi sama Kak Stela juga. Saat Kak Stela nikah gue yang paling sedih. Gue nggak rela dia pergi,” jelas Kak Stefan. Gue juga tahu hal itu. Sehari sebelum Kak Stela menikah Kak Stefan mogok makan. Dia benar-benar sedih ditinggal Kak Stela. Waktu itu gue bukannya nggak sedih, gue malah mikir kebahagiaan Kak Stela adalah kebahagiaan gue juga jadi gue ikhla

