JPU (02)

1074 Words
Satu minggu kemudian Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tepat di hari ini acara Akad nikah Darren dan Clarissa dilaksanakan. Moment yang ditunggu dua keluarga akhirnya telah tiba. Yani menatap putranya sembari tersenyum manis. Darren terlihat begitu gagah dan tampan hari ini. “MasyaAllah, tampan sekali kamu, nak.” “Jangan terus memuji seperti itu, Umi. Sejak lahir Darren memang sudah tampan.” “Hmm.. Umi percaya.” Darren mencoba menghilangkan rasa gugupnya dengan sedikit mengeluarkan candaan. Meskipun ia dan Clarissa belum lama saling mengenal, namun di hari sakral ini jantungnya tidak berhenti berdebar kencang. Entah karena gugup, perasaan cinta, atau hal lainnya. Darren belum memastikan hal tersebut. Yani memegang kedua lengan putranya. Beliau memberikan doa untuk kelancaran hari ini. “Sudah siap?” Darren mengangguk. “InsyaAllah, Umi.” “Kalau sudah siap kita temui Abi. Mereka sudah menunggu kamu.” “Iya, Umi.” Sebelum keluar dari ruangan itu Darren menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Ia melakukan itu agar hatinya bisa lebih tenang. Wajar jika ia nerves karena akan mengucap janji suci di hadapan keluarga, dan yang pasti pada Allah swt. Darren duduk berhadapan dengan Damian. Akad nikah akan dilangsungkan sebentar lagi dengan disaksikan keluarga terdekat, dan beberapa Ulama besar. Darren tidak berhenti berdoa agar diberikan kelancaran saat mengucap Qobul. “Sudah siap?” tanya Damian Darren mengangguk yakin. “Bismillah’hirohmanirrahim.” “InsyaAllah, saya sudah siap.” “Baiklah. Kalau gitu kita mulai acaranya.” Damian menggenggam tangan Darren lalu mengucap Ijab. Dan dengan satu tarikan nafas Darren menjawab. “Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan.” “Bagaimana para saksi? Sah?” “SAH.” “Alhamdulillah’hirabbilalamin.” Darren mengusap kedua tangannya pada wajah. Pihak keluarga menangis haru ketika menyaksikan acara tersebut. Doa kebaikan dan keberkahan mengalir untuk sang pengantin. Tepat di hari ini Darren bukan lagi laki-laki lajang, melainkan seorang suami. Ia telah Sah menjadi Kepala Rumah Tangga untuk keluarga kecilnya. Tanggung jawabnya semakin bertambah setelah mengucap Janji suci di hadapan keluarga dan Allah Swt. Brama menepuk pelan bahu putranya. Beliau tersenyum bangga padanya. “Selamat ya! Sekarang kamu telah menjadi seorang suami.” “Terima kasih, Abi.” Darren memeluk sang Ayah. Ia menangis haru di pelukan beliau. Sebagai seorang Ayah beliau tahu apa yang dirasakan putranya saat ini. Brama mengelus punggung putranya dengan sesekali menepuk pelan. Berharap dengan hal itu bisa memberikan ketenangan pada putranya. “Sudah, jangan nangis!” “Sebentar lagi istrimu akan datang.” ujar Brama “Huhh..” Darren menghela nafas “Jemput istrimu!” Darren mengangguk sebagai jawaban. Ditemani Ibunda tercinta Darren menjemput Clarissa, sosok perempuan yang baru saja menjadi istrinya. Ia berdiri di depan sebuah ruangan menunggu Clarissa keluar. Ia menunggu dengan jantung berdebar kencang, bahkan tangannya mengalami keringat dingin. “Ya Allah, kendalikan perasaanku!” ucapnya dalam hati Ceklek Suara pintu terbuka membuat Darren langsung mendongak. Dan seketika terlihatlah Clarissa bersama Ibunya. Perempuan itu terlihat begitu cantik dan anggun, bahkan Darren sampai tidak berkedip menatapnya. Clarissa mendekat ke arah Darren sembari menunduk. Ia seolah tidak berani bertatapan langsung dengan Darren padahal laki-laki itu telah Sah menjadi suaminya. “Salim, sayang!” ujar Rosa dengan nada berbisik “Tapi…” “Nggak papa. Nak Darren sudah Sah menjadi suami kamu. Kalian sudah halal.” “—“ Tangan Clarissa terlihat gemetar ketika ingin bersentuhan langsung dengan Darren. Baru akan menyentuhnya Clarissa dengan cepat menarik tangannya. Ia menggenggam tangannya sendiri karena takut dan juga ragu. Tamu undangan dan pihak keluarga terkekeh geli sekaligus merasa gemas melihat tingkah Clarissa. “Nggak papa, sayang.” ujar Rosa meyakinkan putrinya “Ayo salim sama suami kamu!” Clarissa kembali mengulurkan tangannya. Dan ketika ingin menarik tangannya kembali dengan cepat Rosa menahan tangan putrinya. Akhirnya Darren mampu menggenggam tangan Clarissa. Dengan hormat Clarissa mencium punggung tangan suaminya untuk pertama kali. Perasaannya campur aduk, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. “Alhamdulillah.” “Darren, bacakan doa untuk istrimu!” ujar Brama “Iya, Abi.” Darren memegang ubun-ubun Clarissa lalu membacakan Doa untuk keberkahan rumah tangga mereka. “Allahumma inni as’aluka min khairihaa wa khaira maa jabaltahaa’alaih, wa a’uudzu bika min syarriha wa syarri maa jabaltahaa’alaihi” “Aamiin.” Mereka semua mendoakan rumah tangga Clarissa dan Darren menjadi keluarga yang Sakinah, mawaddah, dan warohmah. Darren memberanikan diri menangkup wajah Clarissa, dan… Cup Darren mencium kening Clarissa untuk pertama kali. Tubuh Clarissa mematung di tempat ketika merasakan bibir Darren menyentuh keningnya. Jantungnya berdebar kencang, namun hal itu tidak menutupi rasa bahagianya. Sejenak keduanya menutup mata menikmati moment itu. Darren melepas bibirnya dari kening Clarissa lalu berucap, “Assalamualaikum, istriku!” “W-waalaikumsalam, suamiku!” “Cieee..” sontak terdengar sorakan menggoda dari keluarga keduanya “Alhamdulillah, akhirnya kalian Sah menjadi pasangan suami-istri.” ujar Yani Setelah acara Akad nikah akan dilanjutkan resepsi pernikahan. Di mana para tamu undangan dan keluarga akan semakin ramai berdatangan. Sang pengantin diminta untuk Sholat terlebih dulu agar pernikahan mereka menjadi berkah, serta mendapat pahala karena mendirikan keluarga atas dasar ketaatan. Darren dan Clarissa masuk ke dalam suatu ruangan khusus yang sudah disiapkan untuk sang pengantin. Sejak tadi Clarissa terus menunduk karena takut, malu, rasanya campur aduk dalam situasi saat ini. Bahkan sejak tadi ia diam membisu karena tidak tahu harus mengatakan apa. Darren menatap ke arah istrinya yang sejak tadi menunduk. Ia berdiri tepat di hadapan Clarissa sembari tersenyum. “Kenapa nunduk terus, hm? Memangnya nggak capek?” Clarissa menggeleng pelan. Darren memegang dagu Clarissa lalu mengangkatnya sedikit dan seketika tatapan keduanya bertemu. Clarissa bisa menatap wajah tampan suaminya dengan jarak yang cukup dekat. “Jangan nunduk terus, nanti mahkotanya jatuh.” Blush Seketika kedua pipi Clarissa bersemu merah. Ia kembali menunduk mencoba menutupi kemerahan di pipinya. “Dibilangin jangan nunduk terus malah nunduk lagi.” ujar Darren “Malu!” cicitnya Darren terkekeh mendengarnya. “Malu kenapa? Kita kan pasangan halal.” “Em.. Clarissa belum terbiasa.” “Makanya setelah ini dibiasakan.” Clarissa mengangguk pelan. “Akan diusahakan. Dan, Clarissa akan terus belajar.” “Yaudah, kita sholat dulu ya! Takutnya Abi dan Umi sudah menunggu kita di luar.” Clarissa mengangguk sebagai jawaban. Ia tidak banyak membantah selagi itu baik untuk dirinya dan keluarga kecil mereka. Clarissa akan terus belajar dan berusaha menjadi istri sekaligus Ibu yang baik untuk ke depannya. Ia akan menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga sebisa mungkin, karena hal itu yang selalu Ibunya ajarkan. Sebelum menikah dengan Darren ia banyak belajar dari Ibunya agar ia tidak menjadi istri yang lalai. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD