Sinar matahari pagi menembus jendela kaca penthouse yang megah, namun bagi Amara, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang menyakitkan. Ia bangun lebih awal, sebelum Arlan membuka matanya. Dengan gerakan tenang yang sangat kontras dengan badai di dalam dadanya, ia mengenakan jubah mandi sutra dan berjalan menuju dapur kering untuk menyiapkan kopi. Ia sengaja memilih biji kopi terbaik, menggilingnya sendiri, dan membiarkan aromanya memenuhi ruangan. Ini adalah bagian dari taktiknya: menciptakan ilusi kenyamanan rumah tangga yang selama ini diinginkan Arlan. Amara tahu bahwa pria seperti Arlan, yang terbiasa mengendalikan segala sesuatu di dunia bisnis, memiliki titik lemah pada rasa hormat dan pelayanan pribadi di ranah domestik. Arlan muncul beberapa menit kemudian, hanya mengenak

