Pagi hari .... Shanin membuka kedua matanya dengan berat. Ruangan kamar tempatnya terbaring masih diselimuti remang cahaya lampu tidur. Rasa nyeri mendadak menusuk sekujur tubuhnya saat ia mencoba menggerakkan bahu. Persendiannya terasa kaku, pinggulnya ngilu, dan pangkal pahanya perih saat tergesek kain seprei. Shanin menahan napas, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Di sampingnya, Bravendra masih terlelap dengan posisi melintang. Lengan kokoh pria itu melingkar kaku di atas perut Shanin, mengunci pergerakan perempuan itu seolah tanpa celah. Perempuan tersebut memindahkan tangan Bravendra secara perlahan. Ia bergeser sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa membangunkan suaminya. Setelah berhasil lolos dari lengan tersebut, Shanin menurun

