Harga Kesepakatan

1013 Words
Derap langkah itu terdengar pasti, mendekat dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Namun sebelum jarak benar-benar terpangkas, sebuah suara muncul dari balik sunyi—tenang namun tegas—mencabik laju langkah tersebut, memaksanya berhenti di tempat. “Berhenti di sana!” Suara bariton Alex menggelegar, memantul di dinding ruangan dan merobek keheningan. Dalam satu gerakan cepat, ia meraih selimut lalu melemparkannya ke arah Lea, menutupi tubuhnya yang masih polos—seolah berusaha menutup bukan hanya raga itu, tetapi juga situasi yang terlanjur terkuak. “Maafkan saya, Tuan Alex,” ujar Madam Rose sambil melangkah masuk tanpa izin. Kata-katanya terdengar santun, namun senyum penuh kemenangan yang mengembang di wajahnya mengkhianati niat sebenarnya. “Saya harus membawa Arabella pergi dari sini,” lanjutnya, datar dan tak memberi ruang bantahan. “Waktunya sudah habis.” Pandangan Madam Rose berkeliling, menelusuri ruangan itu dengan sikap seorang pemenang. Hingga akhirnya, matanya tertambat pada ranjang king size di tengah kamar. Di sanalah Lea meringkuk, tubuhnya menggigil hebat di balik selimut yang menutupinya. Isak tangis tertahan keluar dalam jeda-jeda pendek, seolah setiap tarikan napas adalah upaya terakhir untuk tetap bertahan dari luka yang baru saja tercipta. Wajah Alex menegang. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol ketika ia melangkah maju satu langkah ke arah Madam Rose. Amarah yang sejak tadi ia tahan kini meledak, panas dan tak terbendung. “Apa maksudmu?” suaranya rendah, namun berbahaya. “Kau pikir aku ini bodoh?” Madam Rose tetap berdiri tenang, senyum tipisnya tak goyah sedikit pun. Sikap itu justru membuat darah Alex semakin mendidih. “Aku sudah membayar mahal,” lanjut Alex, nadanya naik, penuh tekanan. “Sangat mahal. Kau berjanji—semua sesuai kesepakatan. Tapi sekarang kau datang begitu saja dan berkata waktunya habis?” Ia tertawa singkat, sinis. “Hanya sekali pakai? Kau mempermainkanku, Rose.” Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan dorongan untuk berteriak lebih keras. Tatapannya berkilat, antara murka dan rasa terMadam Rose tertawa lirih. Tawa itu tidak lahir dari kegembiraan, melainkan dari kelicikan yang terpelihara rapi—berlapis kepuasan. Suaranya mengalun pelan, namun cukup untuk menancap sebagai ejekan yang disengaja hina karena merasa telah ditipu. “Jangan coba-coba memperlakukanku seperti klien murahan,” ucapnya tajam. “Aku ingin penjelasan. Sekarang.” Madam Rose tertawa lirih. Tawa itu tidak lahir dari kegembiraan, melainkan dari kelicikan yang terpelihara rapi—berlapis kepuasan. Suaranya mengalun pelan, namun cukup untuk menancap sebagai ejekan yang disengaja. “Ah, Tuan Alex…” ucapnya akhirnya, senyum miring tetap bertengger di bibirnya. “Sepertinya Anda keliru memahami kesepakatan kita.” Ia melangkah sedikit ke depan, suaranya direndahkan, seolah sedang membisikkan sebuah rahasia mahal. “Harga yang Anda bayarkan sebelumnya hanyalah untuk kesucian Arabella,” lanjutnya tenang, nyaris dingin. “Itu saja. Tidak lebih.” Tatapan Alex mengeras, namun Madam Rose tak memberinya kesempatan untuk menyela. Kata-kata itu jatuh satu per satu, berat, menghantam kesadaran Alex. Madam Rose menatapnya tanpa gentar, menikmati perubahan ekspresi di wajah pria itu. “Jika Anda menginginkannya lebih jauh,” katanya sambil mengangkat dagu tipis, nada suaranya tenang namun menusuk, “maka itu berarti kesepakatan yang berbeda—dan, tentu saja, harga yang harus dibayar pun tak lagi sama.” Senyumnya melebar—senyum seorang pedagang yang tahu barangnya langka dan pembelinya sudah terjerat. “Di dunia ini, segalanya bisa dibeli, Tuan Alex,” tuturnya ringan. “Selama Anda sanggup membayar.” Kata-kata itu menghantam Alex seperti tamparan telak. Dadanya berdesir keras, napasnya memburu, dan dalam sekejap ia sadar—ia telah dipermainkan sejak awal. Rasa ditipu menyulut amarah yang merangkak cepat, naik hingga ke ubun-ubun, membakar nalar yang tersisa. Matanya menggelap. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipisnya berdenyut liar. Ia melangkah maju, setiap tapak kaki seolah menekan lantai dengan amarah yang nyaris meledak. “Kau mempermainkanku,” desisnya, rendah dan berbahaya. Tangannya mengepal, kuku menekan telapak hingga memutih. Segala kesabaran runtuh—yang tersisa hanya murka, panas dan pekat, siap tumpah kapan saja. Alex melangkah semakin dekat. Aura di sekelilingnya berubah, menekan, membuat udara terasa berat untuk dihirup. Tatapannya menusuk Madam Rose tanpa kedip—dingin, penuh perhitungan, namun dibakar amarah. “Jangan uji kesabaranku,” katanya perlahan, tiap kata diucapkan dengan tekanan yang disengaja. “Kau pikir aku akan diam saja setelah dipermainkan seperti ini?” Ia berhenti tepat di hadapan Madam Rose, jarak di antara mereka nyaris lenyap. “Aku punya cara untuk membuat orang-orang menyesali pilihannya,” lanjutnya, suaranya rendah dan mengandung ancaman yang tak perlu dijelaskan. “Dan kau tahu, Rose… aku selalu menagih apa yang menjadi milikku.” Madam Rose justru tertawa pelan—tawa puas yang mengalir licin ketika melihat amarah Alex memuncak. Sorot matanya berkilat, menikmati kekacauan emosi yang ia ciptakan dengan sengaja. “Perjanjian tetaplah perjanjian,” katanya ringan, nyaris santai, seolah tengah membacakan aturan yang tak perlu diperdebatkan. “Anda setuju. Saya menepatinya.” Tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk bereaksi, Madam Rose melangkah ke arah ranjang. Dengan gerakan kasar dan tak berperasaan, ia menyingkap paksa selimut yang menutupi Arabella. Tubuh itu tersentak, gemetar, seakan dingin dan takut menyatu dalam satu tarikan napas. Sebuah tas dilemparkan begitu saja ke atas ranjang. Bunyi jatuhnya terdengar tumpul namun tegas, seperti palu yang mengakhiri perkara. “Ganti pakaian,” perintah Madam Rose dingin, tanpa menoleh. “Kita pergi sekarang.” Ia lalu memalingkan wajahnya kembali pada Alex. Senyum tipis—senyum kemenangan—kembali terpatri di bibirnya. “Waktu Anda sudah habis,” ujarnya singkat. Arabella bergerak tertatih, seolah setiap inci tubuhnya menolak untuk menurut. Kakinya gemetar saat menyentuh lantai, napasnya tersengal, dan ia nyaris terjatuh sebelum berhasil berdiri sepenuhnya. Matanya kosong, pandangannya menembus ruang tanpa benar-benar melihat apa pun. Madam Rose tak memberinya waktu. Tangannya mencengkeram lengan Arabella dengan kuat, lalu menyeretnya pergi tanpa belas kasihan. Langkah mereka menjauh, gema sepatu Madam Rose berpadu dengan langkah Arabella yang terseret—lemah, tertinggal, namun tak diberi pilihan untuk berhenti. Pintu tertutup di belakang mereka dengan bunyi yang tegas. Alex tertinggal seorang diri di ruangan itu. Sunyi menyergap, pekat dan menyesakkan. Amarahnya masih berdenyut, namun kini tak lagi memiliki sasaran. Yang tersisa hanyalah kehampaan dan rasa kalah yang pahit—bahwa untuk pertama kalinya, ia telah kehilangan kendali sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD