Hasna semakin kesal mendengar jawaban Arga yang terlihat santai, kemudian dia mendorong tubuh lelaki tampan itu dengan sekuat tenaga agar bisa keluar.
Akan tetapi, Arga tetap bertahan, dia tak mau keluar dari toilet dan malah memeluk tubuh Hasna dan memegangi wajahnya. Dia menyeka air mata Hasna dengan ibu jarinya.
"Aku nggak mau kamu keluar dari perusahaan ini! Aku nggak mau kamu meninggalkanku. Dan jangan pernah membuat alasan untuk ingin berhenti, karna aku tau bahwa kamu mau menghindariku!" Arga berkata dengan tegas.
“Tapi aku udah ngerasa gak nyaman kerja di sini, Pak Arga. Tolong mengerti posisiku.” Suara Hasna bergetar.
"Tapi aku gak akan pernah mengizinkanmu. Kalau kamu berani keluar dari perusahaan ini, maka aku benar-benar akan melakukan hal yang lebih nekat lagi!"
"Apa maksudmu?"
"Aku akan menjeratmu dengan caraku sendiri, Hasna! Seperti ini!" Arga menarik tengkuk Hasna dan melumat bibirnya dengan brutal.
Hasna memukul-mukul punggung Arga minta dilepaskan, karena dia kehabisan oksigen. Namun, Arga tak melepaskannya, dia justru semakin menggila.
Tangannya bergerily ke d**a Hasna, lalu meremasnya dengan kasar. Tak berhenti sampai di situ, kini tangannya menyingkap baju Hasna, lalu tangannya menyusuri secara langsung ke perut dan dadanya.
"Aku sangat mencintaimu, Hasna. Aku nggak bisa menahan diri. Kamu membuatku gila dan lupa diri, Honey." Arga berbicara di sela-sela ciuman panasnya.
Kini, dia menyusuri leher jenjang dan putih mulus Hasna. Dia semakin liar melakukan hal tersebut. Sementara Hasna sudah kehabisan tenaga, tubuhnya sudah lemas akibat perbuatan sang bos.
Arga menciumi perut dan d**a Hasna. Lidah dan bibirnya menyapu tubuh indah di hadapannya. Lalu, dia mengulum dan menghisap bukit mungil yang semakin membangkitkan gairahnya.
Akan tetapi, dia kaget saat merasakan cairan yang masuk mulutnya. Arga menghentikan tindakannya tersebut, lalu menatap wajah Hasna yang kini sudah dibanjiri air mata.
"Apakah ini ASI-mu, Honey? Jadi ... kamu benar-benar lagi masa menyusui? Tapi ... aku masih gak percaya sebelum aku melihat langsung suamimu!" Arga merapikan pakaian Hasna yang sudah berantakan olehnya.
Tangis Hasna kian pecah. Dia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Arga pun sama, otaknya sudah terasa beku tak mampu berpikir lagi. Hasna benar-benar telah membuatnya gila.
"Baiklah, begini aja. Hari ini kamu pulang dan istirahat di rumah? Tapi ingat! Kamu gak boleh keluar, kamu gak boleh berhenti. Ayo, aku akan mengantarmu pulang."
“Nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” Hasna membuka pintu dan segera meninggalkan Arga.
Hasna langsung pulang, sementara Arga mengikuti dari belakang tanpa sepengetahuannya. Sesampainya di kontrakan, ternyata Pasha sudah berada di sana. Pasha datang bersama seorang wanita.
Hasna memandang suaminya dengan perasaan yang tidak menentu. Ia segera berlari dan ingin memeluknya, tetapi Pasha mendorong tubuhnya hingga Hasna terjatuh ke lantai.
Sementara Arga yang melihat itu dari kejauhan sangat marah. 'Apakah itu suaminya Hasna? Tapi kenapa dia datang bersama seorang wanita dan bersikap kasar terhadap Hasna?'
Arga terus menatap interaksi antara Hasna dan Pasha. Dia tetap bersiaga dari kejauhan. Jika Pasha sampai melakukan hal buruk pada Hasna, maka dia akan segera pasang badan.
"Mas Pasha, syukurlah kamu akhirnya pulang juga. Aku dan anak kita sangat merindukanmu, Mas." Hasna berkata dengan air mata berlinang.
"Aku datang ke sini untuk menceraikanmu! Dasar wanita kampung! Cepat tandatangani surat talak ini!" Pasha melempar sebuah map ke wajah Hasna.
"Apa maksudmu, Mas? Kamu udah lama nggak pulang ke rumah, tapi saat kamu pulang kamu justru pulang bersama seorang wanita dan kamu mau menceraikanku. Apa maksudmu, Mas Pasha? Kamu lihat... kita udah punya anak, itu darah dagingmu." Hasna terisak.
"Ingatlah, Hasna! Aku menikahimu secara gak sengaja. Aku gak pernah mencintaimu!"
Isak tangis Hasna semakin keras. Hatinya sungguh sakit menerima kenyataan ini dan mendengar hinaan dari sang suami, lelaki yang sangat ia cintai.
"Tapi, bukankah kamu selalu mengatakan bahwa kamu mencintaiku? Dulu kamu selalu merayuku hingga aku merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku yang kuserahkan padamu. Kamu yang menghancurkanku. Lalu, kenapa sekarang kamu berkata seperti itu, Mas Pasha?" Hasna menatap nanar.
"Itulah kesalahan terbesarku. Dasar wanita desa bodoh! Aku gak pernah sudi mempunyai istri sepertimu. Sekarang, cepat tandatangani surat talak ini!”
"Nggak! Aku nggak mau, Mas Pasha. Aku mencintaimu."
Hasna memeluk kaki Pasha, tapi Pasha malah menendangnya hingga membuatnya terjengkang ke belakang, sedangkan Karin, wanita yang bersama Pasha bersedekap d**a dan tersenyum miring, dia tersenyum puas melihat bagaimana Pasha memperlakukan Hasna.
Arga sudah tidak dapat menahannya lagi, ia segera berlari keluar dan langsung menghajar Pasha secara membabi-buta. Hingga perkelahian pun tidak dapat dihindari lagi. Pasha tidak terima dengan perlakuan yang dilakukan Arga, ia pun membalas perbuatan Arga hingga kedua pria itu saling menyerang.
"Hey! Kamu siapa? Kenapa kamu berani memukulku?" tanya Pasha.
“Kamu gak perlu tau siapa aku! Yang terpenting kamu menceraikan Hasna sekarang juga!” ucap Sameer tegas.
Pasha menatap Arga dari atas sampai bawah. Ia melihat penampilan Arga yang berpenampilan seperti pengusaha kaya raya.
Tiba-tiba sebuah rencana terbesit dalam benaknya. 'Sepertinya lelaki ini menyukai Hasna. Dia sangat menginginkannya. Sepertinya aku bisa memanfaatkan keadaan ini agar aku gak perlu menceraikan perempuan desa ini!'
Akhirnya, Pasha mengurungkan niatnya untuk menceraikan Hasna. Ia mengambil kembali map yang berisi surat talak tadi. Bibirnya terangkat, dia tersenyum sinis sambil menatap Arga.
“Oh, ternyata kamu pebinor, perebut istri orang. Hasna, tapi kenapa kamu pura-pura setia padaku? Kalau begitu, aku gak akan melepaskanmu, Hasna. Sampai kapan pun kita akan tetap seperti ini, aku gak akan menceraikanmu!" Lalu, Pasha meraih tangan Karin dan membawanya pergi.
Karin kebingungan dengan perubahan sikap Pasha. "Kenapa kamu gak jadi menceraikan wanita kampung itu?!"
"Tenang aja, Sayang. Nanti aku jelasin semuanya sama kamu..Sekarang mending kita pergi dari sini!" Pasha semakin mempercepat langkahnya.
Arga semakin marah pada Pasha dan tak habis pikir dengan perbuatannya. 'Kenapa Pasha tiba-tiba gak jadi menceraikan Hasna? Bukankah tadi dia datang untuk menceraikannya, lalu kenapa tidak jadi secara tiba-tiba?'
Sementara Hasna duduk sambil menangis. Perasaannya hancur, hatinya sangat sakit mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya, apalagi ada Arga yang mendengar dan melihat, dia merasa sangat malu padanya.
Arga tidak tega melihat wanita pujaannya menangis begitu menyedihkan, kemudian dia berjongkok dan memegang kedua bahu Hasna. "Hasna, jangan menangis lagi. Bercerailah darinya dan menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan anakmu, anak kita."
Tangisan Hasna semakin pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kini ia semakin dilema dan benar-benar tak lagi percaya pada kata-kata cinta. Karena pengalamannya bersama Pasha benar-benar merupakan pengalaman yang sangat buruk.
Hasna sangat ingat bagaimana dulu Pasha merayunya menggunakan kata-kata cinta, dan memintanya untuk melepaskan kehormatannya. Namun, apa? Kini semuanya telah terjadi dan Pasha-lah yang mengkhianatinya dan ingin menceraikannya.
“Pulanglah, Pak Arga. Jangan pedulikan aku karna ini urusan rumah tanggaku. Aku gak mau ada orang lain yang ikut campur dalam urusan rumah tanggaku!”
Deg!
Hati Arga sangat sakit mendengarnya, karena Hasna mengatakan dia adalah orang lain, orang asing. Sementara dia sudah menganggap Hasna sebagai bagian dari hidupnya. Mata Arga tiba-tiba berkaca-kaca.
“Hasna, kamu menganggapku orang asing, kamu menganggapku orang lain? Itu artinya kamu gak pernah menganggapku sebagai orang terdekatmu? Dan bahkan aku udah menyatakan cintaku padamu, tapi kamu masih meragukanku.”
“Kamu nggak percaya sama aku dan kamu malah menganggapku sebagai orang lain. Aku nggak mengerti bagaimana pola pikirmu, Hasna." Arga menghela napas.
"Kamu menjaga rumah tanggamu dengan laki-laki seperti dia, seperti suamimu itu, sedangkan dia selalu menyakitimu, menyia-nyiakanmu, dan bahkan dia berani membawa wanita lain di hadapanmu."
"Sementara aku tulus mencintaimu, ingin membahagiakanmu, tapi kamu menolakku. Aku sungguh sangat kecewa padamu, Hasna. Aku harap kamu selalu bahagia, maafkan aku."
Setelah mengeluarkan semua unek-uneknya, kemudian Arga meninggalkan Hasna. Sementara Hasna semakin menangis, dia merasa bersalah dan kasihan pada Arga, tapi dia juga bingung karena dia masih istri Pasha. Lalu apa salahnya jika dia berkata seperti itu?
"Pak Arga, tunggu!" Hasna berteriak.
Sementara Arga terus berjalan. Dia segera masuk ke mobil dan bersiap untuk menyalakannya. Namun, Hasna mengikutinya dan menggedor kaca depan, tapi Arga mengabaikannya. Arga perlahan menyalakan mobil. Sementara Hasna terus berlari mengejarnya, sehingga dia terjatuh ke tanah.
Arga yang menyadari hal itu segera menghentikan mobilnya. Dia segera berlari keluar dan melihat Hasna yang terjatuh ke tanah sambil menangis sedih.
"Menikahlah denganku, Hasna!"