Sena berjalan gontai sambil membawa es boba kesukaannya, tak lupa dia juga membawa bekal yang akan dia berikan pada Rey tersayang.
"Salalalala." baju di keluarkan bahkan roknya hanya sepertiga.
Pak Imron menatap Sena yang hari ini tidak telat bahkan gadis itu malah bernyanyi riang.
"Pagi pak Imron." sapa Sena.. Ya Sena itu memang ramah apalagi sama guru BK yang selalu dia ajak olahraga.
Sebenarnya Sena sengaja selalu datang telat agar Pak Imron bisa olahraga dan tidak makan gajih buta karena tidak ada siswi atau siswa yang melanggar peraturan.
"Udah Sarapan Pak."
"Kenapa memangnya kamu mau beliin saya sarapan." sahutnya ketus.
"Ya enggak, kalau belum sarapan ya buru sarapan soalnya bapak harus ngejar tuh yang mau kabur." ucap Sena sambil menunjuk beberapa siswa yang manjat tembok.
Pak Imron langsung menoleh, dia langsung pergi meninggalkan Sena karena mengejar siswa yang kabur.
Sena kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas, suara gelak tawa terdengar begitu keras.
Iya Sena mengenal suara itu, suara Rey tapi dengan siapa dia tertawa kenapa ada suara perempuan juga.
Sena semakin mempercepat langkahnya, dia mematung di ambang pintu.
Sena menatap nanar Rey yang sedang tertawa dengan seseorang. Wajah sedihnya kini kembali ceria seolah tidak ada yang terjadi apapun di sana.
"Hai Rey," sapanya sambil duduk di depan Rey.
"Hai Sena." Sapa Nisa. Perempuan yang sedang bersama Rey, namun Sena tak menoleh atau tak menghiraukan Nisa membuat wanita itu jadi kikuk.
Ya kali Sena harus balas rival yang mau rebut Rey darinya.
"Udah sarapan belum Rey, nih aku bawaain sarapan buat kamu." Ucapnya sambil menyodorkan paperbagnya.
"Emmptt Rey aku ke bangku aku dulu ya." ucap Nisa sambil beranjak, baru satu langkah Rey menarik tangan Nisa.
"Mau kemana, udah di sini aja lagian masih lama ko masuk kelasnya." ucap Rey..
Nisa melirik Sena dengan canggung.
"Aku mau ambil buku dulu ke perpus." ucapnya.
"Ya sudah bareng aku aja." ucap Rey beranjak dari duduknya.
"Rey kamu mau kemana, ini sarapannya." teriak Sena saat Rey dan Nisa pergi keluar kelas.
"Kamu makan aja, itu kan bekal kamu." sahutnya dengan nada yang dingin. Mereka pun melenggang begitu saja.
Sena mengepalkan tangannya, air mata bahkan sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Sena menarik nafasnya agar rasa sakit di hatinya tidak meluap begitu saja.
***
Pembelajaran berlangsung begitu saja, Sena yang biasanya bolos kini ikut dalam pelajaran meskipun sepanjang pelajaran berlangsung hanya melamun.
"Sttt sttt." bisik Zio yang duduk dibelakang Sena.
"Sena." panggilannya pelan.
"Nih bocah budek apa gimana sih." gumamnya kesal. Karena kesal Zio memukul kepala Sena dengan tip-ek yang ada di mejanya.
"Awww." pekik Sena membuat penghuni kelas langsung menatapnya.
"Ada apa Sena?' Tanya guru di depan.
"Emmm Anu Pak, tadi kaki Saya gak sengaja terbentur." ucap Sena berbohong.
"Sialan si Zio bikin gue kelihatan bodoh banget." batin Sena.
"Ya sudah itu saja pembelajaran hari ini, jangan lupa kerjakan PR yang sudah bapak berikan, minggu depan bapak akan periksa." ucap Guru langsung pamit meninggalkan kelas.
"Sialan lo bikin malu aja." sentak Sena sambil meninju lengan Zio.
"Lagian lo budek banget, gue panggil-panggil dari tadi gak nyaut-nyaut." sahut Zio.
"Gue lagi badmood." ucap Sena dengan wajah yang lesunya.
"Kenapa, Si Rey lagi apa gak ada gue cowo lain yang bikin lo gak kaya cewek murahan yang ngejar cowo." ceplos Zio.
"Ya Gimana Zi, Abisnya gue cintanya sama dia doang lo tau sendiri lah dari jaman PAUD tapi gitu, dia nya gak pernah lirik gue." kesal Sena.
"Ya harusnya lo sadar diri, inget kata tukang parkir. MUNDUR-MUNDUR!!. "
"ck sialan lo, ngomong sama lo bikin tambah badmood aja. Gue mau bolos dulu bye." Ucap Sena melenggang pergi meninggalkan kelas.
Sena sudah tidak mood mengikuti jam pelajaran lagi, otaknya tidak menerima sedikit pun materi yang di paparkan guru.
Sena berjalan menuju tangga rooftop, angin berhembus dengan sangat kencang saat dia baru saja membuka pintu rooftop.
Sena berjalan menuju sofa butut yang selalu dia pake untuk bersantai di saat bolos sekolah seperti ini.
Sena merebahkan tubuhnya, matanya menatap langit mendung. Langit saja seakan tau kalau dia juga sedang galau.
Matanya terpejam dengan lelehan air mata yang kini berebut keluar dari sudut matanya.
"Rey, apa begini sakitnya mencintai kamu. Apa kamu gak pernah sedikitpun tertarik sama aku. Kenapa, bukankah kata orang cinta akan tumbuh karena terbiasa tapi nyatanya tidak ada sedikit pun. Kamu tetap dingin seperti dulu kepadaku.
Apa aku kurang menarik sampai kamu lebih senang bercanda dengan Nisa dari pada aku.
Apa iya aku harus mundur seperti apa kata Zio. "
Sena menghela nafas, dia mengusap sudut matanya menetralkan kembali rasa sesak di dadanya.
"uhhhhh faster baby uhhhh ahhhhh."
Suara wanita dengan nafas terengah-engah.
Sena langsung terduduk, dia meneliksik sekitar.
Sena menatap tajam tumpukan bangku fan kursi yang tak jauh dari posisi duduknya.
Sena beranjak dari duduknya mendekati sumber suara, semakin dekat suara laknat itu semakin memekik telinganya.
Matanya membulat melihat sepasang kekasih sedang berhubungan intim.
brakkk
Sena menendang bangku dengan sangat keras hingga tumpukan bangku itu terjatuh.
Dua orang itu langsung mengerjap karena kaget, bahkan laki-laki yang tadi berada di atas tubuh kekasihnya langsung membenarkan celananya.
Sena semakin kesal untuk kedua kalinya dia memergoki Bryan sedang bercocok tanam dengan Syeril teman seangkatannya.
"Lo gak ada modal apa buat nyewa hotel."
"Gila banget, gak dimana-mana kalian mesum." Sena menatap Bryan dengan tatapan jijik.
Sena pun melenggang meninggalkan mereka yang menatap kesal dirinya.
"Sialan banget tuh cewe, gangguin aja." dengus Syeril sebal.
"Awas aja gue kasih pelajaran juga dia." timpal Bryan, karena hasrat harus tertunda kembali karena orang yang sama.
"Iya benar Yang, kita beri aja dia pelajaran.' sahut Syeril tersenyum menyeringai.
Sedangkan Sena yang sedang menuruni tangga terus saja mengerutu, mata sucinya terus saja ternoda dengan hal yang menjijikan dan dengan orang yang sama.
"Emang dasar si Bryan b******k, gak modal banget. Maunya enaknya aja, lagian si Syeril juga terlalu murah!! mau-mau aja gitu di tempat umum."
"Ahhh gila emang manusia laknat." umpat Sena kesal.
***
Sena menghempaskan tubuhnya di sofa empuk rumahnya, matanya mengantuk.
Sudah 12 tahun dia mengejar cinta Rey tapi tak kunjung menemukan titik terang.
Sena bangun dari tidurannya dia mengambil tas lalu berjalan gontai menuju kamarnya, baru saja dua langkah menaiki tangga Sena melihat kedua orang tuanya menarik koper.
"Mommy sama Daddy mau kemana?" tanyanya.
"Oh iya Sayang, kami lupa memberitahu kamu kalau Mommy sama Daddy mau jenguk Sean, kamu gapapa kan di rumah sendiri." ucap Sara.
Sendiri apannya pembantu di rumah ini aja ampe puluhan di tambah bodyguard sama satpam.
"Berapa hari?" tanyanya lagi.
"Satu mingguan lah, kamu gapapakan? Sekalian mommy juga mau titip Dion."
"Ya sudah."
"Oh iya Dad, Aku boleh keluar malam gak?" tanya Sena pada Leon.
"Mau ngapain kamu keluar malam." Leon adalah tipikal Ayah yang sangat posesif terhadap anak gadisnya.
"Ya main, sama Zio ko Dad." ucapnya. Zio adalah anak manager di perusahaan Leon. Jadi Leon mengenal baik Zio.
"Jangan pulang malam-malam dan jangan bawa motor." ucap tegas Leon. Dia masih sangat ingat saat Sena harus di bawa ke rumah sakit dengan motor yang sudah tak berbentuk, hal itu meninggalkan trauma padanya hingga tidak lagi memberi izin Sena membawa motor meskipun dia kembali membelikan motor untuk Sena karena dengan alasan hanya boleh jadi pajangan.
Emang beda ya kalau sultan, pajangan aja motor asli bukan miniatur-miniatur.
"Asik makasih Dad." sahut Sena senang.
***
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Sena langsung membersihkan tubuhnya tak lupa dia menyuruh Zio menjemputnya ke rumah.
Tok
tok
"Non, ada teman Non di bawah." ucap pembantunya.
"Gesit juga si Zio, baru juga beberapa menit di telpon udah ada di depan rumah aja. Kaya ojeg online sat set."
"Iya Bi bilangin tunggu sebentar." teriak Sena dari kamar.
"Siap Non."
Sena yang baru selesai mandi mencari pakaian yang akan di pakainya setelah menemukannya dia langsung memakainya.
Tak lupa dia juga memoleskan pelembab wajah dan bibirnya.
sorry ya Sena bukan wanita yang bersembunyi di balik kata "Aku hanya pake bedak bayi dan lipbalm saja" Kulit juga butuh nutrisi apalagi kulit remaja yang dalam masa pertumbuhan.
Setelah selesai dia menemui Zio, yang sedang duduk lesehan dengan Dion, apalagi yang mereka lakukan selain main game di layar tv 29in itu.
"Ayo berangkat Zi." ajak Sena.
"Nanti ajalah baru juga duduk lagi asik nih.' sahutnya.
"Iya ka, kalau mau pergi. Pergi aja ka Zio mau main game sama Dion." timpal Dion yang menatap serius tv di depannya.
"Emang pada sialan lo pada." kesalnya.
Sebenarnya dia gak ada tujuan mau keluar kemana, dia hanya ingin Zio mengajaknya keliling saja.
Sena melenggang pergi mengambil cemilan di dapur, sepertinya ikut bermain game bersama mereka lumayan mengasikan.
Sena membawa beberapa cemilan dan minuman bersoda, tangannya begitu penuh.
Sara memang selalu menyetok banyak cemilan dan berbagai jenis minuman, bisa terbilang mini market di rumah karena saking banyaknya.
Dia sengaja melakukan itu agar anaknya tidak perlu lagi keluar rumah dan malah main gak jelas dengan alasan mau beli cemilan.
Sara dan Leon juga bukan melarang anak-anaknya keluar rumah hanya saja membatasi, jika tidak penting mending di rumah seperti bercengkrama dengan keluarga dari pada keluyuran gak jelas.
"Ikutan gue." ucap Sena dengan menaruh cemilan di depan mereka.
"wishhh paling seneng gue kalau main ke rumah lo." ucap Zio sambil mengambil minuman bersoda.
"Tau aja kalau pengen nyemil." timpal Dion, sambil membuka bungkus snack.
"Ulang lagi dong, gue pengen ikutan." ucap Sena.
Zio pun langsung kembali mengulang permainan mencari game yang bisa di lakukan tiga orang.
Sena yang ingin jalan-jalan pun menghabiskan waktu bermain game sampai larut malam.
"Zi lo gak nginep aja di sini." ucap Sena saat dia mengantarkan Zio sampai depan pintu.
"Ya kali gue nginep di sini, besok pagi udah jadi kambing guling gue." sahut Zio.
"Ckk bapak gue kaga semengerikan itu sue." dengus Sena sebal.
"Memang tapi tatapan matanya udah kaya mau makan gue hidup-hidup."
"Ya sudahlah Hati-hati lo di jalan, jangan ngebut yang penting lo selamat sampai tujuan."
"Ya elah perhatian," kekeh Zio. Dia langsung menyalakan motornya dan pulang dari rumah Sena.
Sena langsung menutup pintu tak lupa menguncinya.
***
Deru motor saling bersahutan, jalanan yang sepi karena sudah malam membuat motor mereka mamacu dengan sangat kencang.
Bryan Bryan Bryan..
Tommy Tommy Tommy..
Teriakan suporter sangat berisik menyemangati dua manusia yang sedang melakukan balapan.
"Woyy ada polisi." teriak penonton yang mendengar suara sirine.
Motor-motor berhamburan meninggalkan tempat balapan, Bryan pun memacu motornya dengan kencang.
"Sial kenapa ada polisi sih." umpatnya.
Bryan membelokan motornya ke tempat sepi tapi ternyata tempat itu buntu.
"Berhenti kamu." teriak polisi yang mengejar Bryan dengan motornya.
"Ahh sial.' umpatnya saat dia salah jalan.
Terpaksa dia langsung di bawa polisi, sesampainya di kantor polisi ternyata banyak yamg di tangkap juga bahkan pendukung Tommy dan juga beberapa teman Bryan.
"Lo ketangkep juga Bry?"
"Iya gue salah ambil jalan." sahut Bryan
"Kalian taukan kan balapan liar itu membahayakan, di tambah kalian itu balapan di tempat umum. "
"Iya Pak." sahut mereka semua kompak.
"Kenapa masih saja di lakukan."
Semua orang yang di tangkap tak menyahuti, masa iya mereka jawab karena hoby atau hiburan bisa di ceramahi sampai pagi sekarang saja kuping mereka sampai panas karena polisi terus saja menasehati mereka.
Setelah di beri nasehat, mereka bisa bebas dengan syarat orang tua yang menjemput.
Derap langkah langsung terdengar sangat keras, membuat semua orang yang sedang berkumpul disana langsung mendongkak menatap ke arah yang datang.