"Mungkin aku yang tidak bisa bersyukur, berada ditengah-tengah kalian" - Rival
•••
Rival berjalan malas keluar dari kamarnya. Badannya lemas karena dia sama sekali tidak makan apapun sejak kemarin. Kesalnya dengan Revin masih dia pendam hingga saat ini.
Sampai di meja makan, pandangan Rival langsung tertuju pada Revin. Kakaknya sempat melihatnya sebentar, lalu kembali menunduk memakam sarapannya.
"Makan dulu, Val." Ucap Radit sambil mendekatkan s**u dan roti kepada Rival.
"Gak laper bang." Jawab Rival seadanya.
"Lo gak makan dari kemarin, makan dikit aja. Atau mau gue buatin yang lain?"
Rival hanya menggeleng. Pandangannya dia alihkan pada ponselnya.
"Manja! Bisa gak sekali aja lo gak nyusahin Bang Radit?" Bentak Revin.
"Vin!" Radit kembali mangarahkan tatapan tajamnya pada Revin. Tidak suka dengan cara bicara Revin yang terlalu asal. Bukan begitu cara meluluhkan hati Rival.
Kini Rival mengangkat wajahnya, menatap takut-takut pada kakak pertamanya. Benar kata Revin, harusnya dia tidak banyak menyusahkan Radit
"Lo marah sama gue, bang?" Tanya Rival. Revin pasti sudah mengadu banyak pada Radit semalam.
"Kenapa bolos? Bener karena capek? Gue gak pernah maksa kalau lo emang gak mau sekolah, tapi gue gak suka cara lo yang kayak kemarin. Gue gak suka punya adik yang sukanya bolos."
Kata-kaa Radit berhasil membungkam Rival. Cara bicara Radit masih pelan, bahkan tidak ada bentakan di dalamnya. Tapi Rival tahu kakaknya itu pasti kecewa.
"Maaf." Ucap Rival pelan. Hanya itu yang bisa dia katakan, saat isi perutnya kini mendesak untuk keluar. Bahkan hal itu sudah Rival rasakan sejak semalam. Tapi berhasil dia tahan hingga saat ini.
"Kebiasaan bilang maaf gitu tuh bang. Besok di ulang terus!" Revin ikut menimpali.
"Gue gak ngomong sama lo Vin! Bisa gak lo diem sebentar!"
"Bela aja terus! Udah keenakan jadi adik kesayangan ya gitu! Salah tetep dibela!" Revin bangkit dari tempat duduknya, berniat mendahului pergi dan membiarkan Rival berangkat dengan Radit.
Tapi urung, saat melihat Rival ikut bangkit dan berlari ke kamar mandi. Dengan cepat Radit juga bangkit menyusul adiknya.
Rival masih memuntahkan isi perutnya yang tidak seberapa. Mengingat anak itu tidak memakan apapun sejak kemarin. Hingga tidak lama, Rival akhirnya berhenti. Mengatur nafasnya yang sempat memburu.
"Udah?" Tanya Radit yang masih berdiri dibelakang Rival sambil mengurut tengkuk adiknya.
Rival hanya diam. Lalu membersihkan mulutnya dan berjalan keluar mendahului Radit.
Langkahnya dia bawa kembali ke meja makan. Menenggelamkan kepalanya diatas lipatan tangannya, saat nyeri di perutnya kembali terasa. Sedangkan Revin yang sempat terdiam sudah beranjak untuk membuat teh hangat untuk adiknya. Apa Rival benar sakit?
"Maaf ya. Abang gak maksud marah." Suara Radit melemah. Tangannya mengusap pelan punggung Rival yang masih menunduk. "Istirahat aja di rumah, jangan sekolah." Lanjut Radit lalu berlutut disamping Rival.
"Sekolah aja bang." Jawab Rival pelan lalu mengangkat kepalanya.
"Nanti tambah sakit. Di rumah aja, gue temenin. Gue gak akan ke bengkel hari ini, kalau lo istirahat di rumah." Radit meraih gelas yang diberikan Revin lalu membantu Rival meminumnya.
"Gak bang. Gak boleh bolos lagi." Ucap Rival sambil melirik sebentar ke arah Revin.
"Kan sakit, bukan bolos." Radit masih menatap khawatir adiknya. Entah sejak dulu, melihat Rival sakit adalah yang paling sakit. Benar kata Revin, Rival sudah menjadi adik kesayangannya. Yang bahkan tidak tega dia marahi.
"Gak apa, kuat kok bang. Tapi sekolahnya, dianter lo ya?" Rival menarik satu roti yang dibuatkan Radit tadi. Setidaknya dia tidak boleh terlalu menyusahkan kakaknya.
Dengan langkah yang sedikit dipaksakan,Rival bangkit dan berjalan keluar. Tanpa kata apapun kepada Revin. Sudah cukup kakaknya itu menambah sakit hatinya pagi ini. Jadi dia putuskan untuk menyuruh Radit mengantarnya saja. Rival terlampau tahu bahwa Revin sedang tidak mau disusahkan olehnya.
••
"Kenapa? Berantem lagi sama abang lo?" Tanya Aldi yang baru saja datang. Sedangkan Rival sudah melipat tangannya diatas meja lalu membenamkan kepalanya di sana. Sungguh hari ini dia sangat malas.
Rival mengangguk pelan, "heran gue. Dia sebenarnya abang gue bukan sih. Tahunya nyalahin gue mulu." Ucapnya yang dibalas gelengan kepala oleh Aldi.
"Berantem sampe pucet gitu? Abis tonjok-tonjokan?" Tanya Reza yang sedari tadi masih memperhatikan wajah sahabatnya.
"Tadi muntah dulu di rumah. Maag gue kambuh." Jawabnya santai.
"Gara-gara kemarin? Dimarah habis-habisan lo sama abang lo?"
Rival mengangguk, "lo tahu Bang Revin gimana, Fan. Dengerin alasan gue aja gak mau. Apa yang gue bilang salah terus. Males gue debat. Makanya gue gak keluar kamar sampai tadi pagi."
"Seriusan? Gila lo! Gimana gak sakit kalau seharian gak makan. Lo gak bilang kalau kemarin perut lo sakit?" Tanya Fandi lagi.
"Percuma Fan. Mau dijelasin gimana juga dia gak akan dengerin gue! Mungkin kalau gue mati kali baru percaya." Jawab Rival asal.
Fandi baru saja akan kembali menjawab, tapi urung saat melihat Rival sudah menejamkan matanya. Baru pertama kali ini dia merasakan takut mendengar ucapan asal sahabatnya itu. Dia tahu bagaimana kerasnya Rival sejak dulu. Dan bukan pertama kalinya Fandi mendengar kata-kata tak masuk akal Rival. Tapi entah mengapa kali ini rasanya beda.
"Jangan asal ngomong. Bisa jadi doa." Jawabnya yang tidak lagi ditanggapi Rival.
"Tumben ada masalah sampai segitunya." Ucap Aldi pelan.
Fandi hanya mengedikan bahunya. Lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Berat banget kali masalahnya, ya. Sampai mau mati segala." Gerutu Reza.
Niat bercandanya malah menjadi petaka. Penggaris yang tadi berada di tangan Aldi, mendarat mulus di kepalanya.
"Sekali lagi gue denger lo ngomong aneh-aneh. Gue lempar golok lo!"
"Iyaa maaf. Kejam banget, heran." Ucap Reza sambil mengusap kepalanya yang masih terasa sakit.
••
Mama
Radit, mama mau ketemu. Kita bisa ketemu dimana?
Atau mama samperin ke rumah kamu?
Raditya Adira Pratama
Nanti di cafe Radit jam 6 sore
Radit masih memandang kosong ke arah layar laptopnya. Pikirannya bahkan melayang entah kemana. Keputusannya untuk megiyakan ajakan mama hanya karena dia tidak ingin mamanya datang ke rumah dan membuat masalah.
Untuk kali ini biarlah dia menghadapi mamanya sendiri. Dengan permintaan yang Radit sudah tahu jelas. Bahkan wanita itu tidak pernah berubah sejak dulu. Memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Dit, dicari tuh." Ucap Irfan dari depan pintu ruangan Radit.
Laki-laki itu mengangat kepalanya, menunggu siapa yang dikatakan Irfan tadi. Hingga sosok gadis yang muncul dari balik pintu membuatnya kembali tersenyum.
Irfan pamit, setelah memastikan gadis itu sampai dihadapan Radit dengan selamat.
"Kenapa pulang gak bilang sih? Kan bisa aku jemput di bandara." Ucap Radit lalu mencium kening kekasihnya.
Amel, gadis yang sudah hampir 3 tahun menjadi pendamping Radit. Menjadi gadis yang memberi Radit semangat saat dia rasa hidupnya semakin berat. Gadis yang membantu Radit menjaga kedua adiknya.
"Aku tahu kamu sibuk." Jawab Amel.
"Gimana kerjaan kamu?" Radit membawa Amel mendekat ke sofa.
"Lancar dong. Bahkan banyak desainer disana yang ngasi apresiasi sama kayarku." Ucap Amel bersemangat.
Amel baru saja pulang dari Belanda. Setelah mengikuti salah satu acara fasion show bersama beberapa desainer di sana. Bersanding dengan desainer-desiner ternama, menjadikan Amel salah satu desainer muda yang karyanya patut diperhitungkan.
"Pastilah, aku percaya kalau kamu pasti berhasil." Ucap Radit sambil masih mengusap pelan rambut Amel.
"Are u okay?" Amel masih menatap lekat mata Radit. Dia tahu bahkan laki-laki di depannya ini pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Amel tahu bagaimana pintarnya Radit menutupi masalahnya, bila dia tidak bertanya lebih dulu.
"I'm fine, beb. Why?"
"Aku tahu kamu lagi ada masalah, Dit. Apa selama 3 bulan ini aku melewatkan banyak hal?" Amel meraih kedua tangan Radit lalu menggenggamnya erat. Senyum Amel yang selalu membuat Radit lemah. Bahkan semua kepura-puraannya bisa runtuh hanya karena tatapan gadis manis itu.
"Mama di Jakarta, Mel. Dia mau ketemu aku." Kata Radit akhirnya.
"Apa? Tante Fara di Jakarta? Sejak kapan?"
"Aku gak tahu persis kapan. Tapi kemarin dia sms aku, katanya mau ketemu. Tadi juga dia bilang mau ketemu, kalau aku gak mau, dia mau samperin aku ke rumah. Aku gak mau Rival ketemu mama, Mel."
Amel terdiam sejenak. Lalu kembali mengusap pelan lengan Radit. "Jadi, kamu mau ketemu sama mama kamu?"
"Mau gak mau, aku harus ketemu mama. Biar aku yang berhadapan sama mama sendiri, Rival jangan." Ucap Radit pelan.
"Kamu yakin?"
Radit mengangguk pelan, "iya. Gue yakin pasti bisa menghadapi mama sendiri."
"Iya aku percaya. Tapi kalau kamu perlu bantuan, kamu harus inget kalau aku itu pacar kamu. Aku pasti siap bantu apapun masalah kamu."
"Iya, pasti. Oh ya ini bawa barang banyak gini, buat siapa aja?" Tanya Radit saat melihat beberapa kantong belanja yang dibawa Amel tadi.
"Buat kamu, sama buat temen-temen kamu di sini." Jawab Amel. "Adik-adik kamu di rumah kan? Aku juga punya oleh-oleh buat mereka, tapi masih aku taruh di mobil."
"Biasanya sih udah sampai rumah jam segini. Coba aja ke rumah. Mereka pasti seneng dapat oleh-oleh dari kamu."
Amel mengangguk cepat. Tidak sabar bertemu dua calon adik laki-lakinya itu.
"Tapi, Mel.." Suara Radit membuat Amel kembali terdiam, lalu mengalihkan penuh pandangannya pada kekasihnya itu. "Kayaknya Rival sakit. Tadi pagi sempet muntah-muntah. Aku takut maagnya tambah parah." Lanjut Radit.
"Rival lagi sakit?"
"Iya, aku titip Rival bentar sama kamu ya. Setelah urusanku sama mama selesai, aku langsung pulang. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku." Ucap Radit.
"Iya pasti. Kamu juga, kalau ada apa-apa kabarin aku. Aku tunggu kamu, di rumah kamu ya." Balas Amel lalu beranjak. Mengecup sebentar pipi Radit lalu membawa langkahnya keluar.
Amel rasa memang dia tidak bisa berlama-lama di sana. Radit sedang bekerja dan dia tidak boleh mengganggunya. Walau sejujurnya rasa rindu dengan laki-laki itu masih memenuhi dadanya. Tapi dia cukup sadar. Lebih baik dia menunggu di rumah Radit, dan mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan di sana.
••
Amel sampai lebih dulu di rumah, dibandingkan dengan Revin dan Rival. Untunglah sejak dulu Radit sudah memberi tahu dimana letak kunci rumah. Jadi Amel tidak perlu menunggu di luar sendiri.
Langkahnya dia bawa langsung ke dapur yang posisinya berhadapan langsung dengan ruang tamu. Oleh-oleh untuk kedua anak itu sudah
dia letakkan di meja makan. Kini yang akan dia lakukan adalah memasak makan siang.
"Lho Kak Amel kapan balik?"
Amel yang sedang mengaduk supnya langsung terhenti. Membalikkan badannya, menatap Revin dan Rival yang baru saja datang.
"Tadi pagi. Kalian apa kabar?" Tanya Amel. Dia mengecilkan apinya, lalu berjalan mendekati keduanya.
"Baik kak. Aku ke kamar ya." Kata Rival lalu beranjak pergi. Menyisakan Amel dan Revin yang masih terdiam.
"Kenapa? Berantem?" Tanya Amel yang kini sudah beralih menatap Revin.
Revin hanya mengedikkan bahunya. "Gak tahu, anaknya kan ngambekan." Jawab Revin sekenanya.
"Yaudah biar gue yang samperin." Ucap Amel lalu beranjak pergi setelah sebelumnya mematikan kompornya.
Rival belum sama sekali mengganti seragamnya saat Amel masuk. Dia lebih memilih membaringkan tubuhnya, dan memadang Amel yang kini sudah berjalan mendekat.
"Kata Bang Radit kamu sakit." Kata Amel. Kini tangannya terangkat menyentuh kening Rival. Sedikit panas.
Tangan Rival dengan cepat meraih tangan Amel. Hanya untuk meyakinkan gadis itu bahwa dia baik-baik saja.
"Aku gak apa-apa kak. Bang Radit aja yang panikan."
"Panikan gimana, orang beneran anget gitu. Sekarang kamu ganti baju, terus istirahat. Biar kakak ambil makan sama obat buat kamu."
Rival hanya mengangguk, membiarkan Amel beranjak dan keluar dari kamarnya. Dia tahu bahwa pacar kakaknya itu bukan tipe wanita yang suka dibantah. Jadi dia biarkan saja. Lagipula badannya memang sedang tidak enak hari ini. Tapi dia pikir, istirahat saja sebenarnya cukup.
Sedangkan Revin masih terdiam di meja makan. Membuka oleh-oleh Amel seperti biasanya. Bedanya, kini dia sendiri. Biasanya Rival akan ikut di sana dan berebut oleh-oleh yang dia mau.
"Rival sakit, ya?" Tanya Amel tiba-tiba. Membuat Revin seketika menoleh.
"Beneran sakit kak?"
"Lo kira adek lo sakit bohongan. Gimana sih, Vin."
Amel masih menuang sup ke dalam mangkuk, dan menyiapkan makanan yang akan dia bawa untuk Rival.
"Biasanya suka bohong kak." Jawab Revin lalu beranjak.
Dia melangkah menuju kamar Rival. Memastikan keadaan adiknya sebenarnya. Sejak masalah kemarin, hubungan mereka memang menjauh. Walau siang tadi Rival mau pulang dengannya, tapi dia yakin anak itu pasti terpaksa.
"Beneran sakit lo?"
Rival yang baru saja selesai mengganti seragamnya sedikit terkejut dengan suara tiba-tiba kakaknya.
"Gue menghargai Kak Amel, jadi kalau dia beranggapan gue sakit, gue gak akan nentang." Jawab Rival malas.
"Serius atau bohong sih, Val? Dari kemarin lo alasan sakit mulu gak sembuh-sembuh. Kalau beneran sakit, sini ke dokter, biar gue juga tahu sakit lo apa." Kata Revin.
Rival menarik nafasnya dalam. Sungguh dia bosan berdebat masalah yang sama dengan kakaknya itu. Seingatnya, dulu dia hanya pernah membohongi Revin satu kali dengan alasan sakit karena malas sekolah. Tapi, sekarang kakaknya bahkan tidak percaya berkali-kali padanya. Terlebih masalah kemarin membuat kakaknya itu semakin memendam kesal dengannya.
"Lo ada kasi gue obat gak dari kemarin? Sampai lo bisa bilang gue gak sembuh-sembuh! Lo perhatian sama gue aja gak bang! Peduli aja enggak! Terlebih lagi, lo percaya aja enggak sama gue. Sumpah capek banget gue debat sama lo!"
"Karena lo yang buat gue gak percaya, Val!" Jawab Revin meninggikan suaranya.
"Caranya buat lo percaya? Apa lo nunggu gue mati dulu baru lo percaya? Bang, kalau untuk masalah kemarin gue minta maaf. Tapi gak seharusnya cuma karena masalah itu, lo bisa mojokin gue kayak gini!"
Revin telak bungkam. Bersamaan dengan Amel yang datang dengan nampan berisi makanan dan obat untuk Rival.
"Vin, biar Rival gue yang urus. Lo ganti baju terus makan dulu sendiri, ya." Ucap Amel yang dibalas anggukan oleh Revin.
Amel berjalan mendeti ranjang Rival dan duduk disebelah anak itu. "Makan dulu, setelah itu minum obat."
"Sebenarnya gak usah repot-repot kak. Aku udah makan kok tadi di kantin."
"Kakak gak akan percaya, kalau kakak gak lihat sendiri kamu makan."
Rival hanya tersenyum dan mengangguk, lalu meraih piring makanan yang tadi di bawa Amel.
"Kak Amel kapan rencana nikah sama Bang Radit?"
Pertanyaan Rival sontak membuat Amel terdiam, sebelum akhirnya dia tersenyum malu.
"Tanya abang kamu dong kapan mau ngelamar kakak."
"Kalau tanya abang pasti jawabnya nanti-nanti terus. Padahal kan kalian udah cukup umur. Bang Radit udah mau 26, Kak Amel 25. Cocok kak. Kalau kelamaan nanti keburu tua."
"Kamu masih kecil, tahu apa soal nikah. Mungkin Bang Radit belum siap aja." Jawab Amel.
"Kasian Bang Radit gak ada yang ngurusin, kak. Kayaknya capek ngurusin kita berdua sendiri." Balas Rival.
"Eh kok ngomong gitu. Gak ada Bang Radit ngerasa capek. Udah gak usah bahas itu, sekarang makannya dihabisin dulu." Ucap Amel yang melihat Rival sedari tadi hanya mengaduk makannya. Menyuappun hanya sedikit.
"Udah ya kak, kalau di terusin takut muntah." Jawab Rival. Sejak tadi dia memaksakan untuk menelan makanannya. Perutnya sudah mual, tapi dia tidak mungkin memuntahkan makanan yang sudah disiapkan Amel.
"Iya udah, sekarang minum obatnya terus istirahat."
Rival hanya mengangguk. Menuruti apa yang diperintahkan Amel tadi.
••
Revin masih terdiam di meja makan. Bahkan makanan yang sudah disiapkan Amel sama sekali belum disentuhnya. Kata-kata Rival tadi berhasil menggoyahkan hatinya. Entah apa sebabnya dia bisa berlaku sekeras itu pada Rival.
Dia tidak tahu mengapa dia bisa tidak percaya dengan adiknya. Padahal jelas-jelas dia melihat sendiri adiknya muntah-muntah tadi pagi. Tapi melihat sikap Rival yang cuek dan seenaknya, berhasil merubah pemikiran Revin.
"Kenapa gak di makan?" Tanya Amel yang baru saja keluar dari kamar Rival.
"Belum laper kak." Jawab Revin pelan.
Amel menaruh nampan yang dibawa diatas washtafell, lalu berjalan mendekati Revin.
"Rival itu adik lo satu-satunya, Vin. Jangan terlalu keras. Kalau ada masalah diomongin baik-baik. Apalagi umur lo udah 21 tahun, lo lebih dewasa dari dia, harusnya lebih bisa kontrol emosi."
Amel jelas mendengar perdebatan keduanya tadi. Hanya saja dia sedang tidak ingin membahas itu di depan Rival.
"Ada masalah apa? Mau cerita ke gue?" Kata Amel lagi.
Akhirnya Revin menyerah. Menghela nafas panjang dan berpikir untuk menceritakan semuanya. Bagaimanapun Amel mempunyai sisi dewasa seorang wanita. Jelas dia bisa menjadi pendengar dan penasihat yang baik.
"Gue bingung, kak." Ucap Revin lalu kembali menatap penuh pada mata Amel.