"Aduh pusing-pusing!" Lolita yang baru saja datang langsung duduk di depan Dara. Rambut panjangnya yang selalu disisir rapi itu tampak berantakan karena ulahnya sendiri.
"Udah terima aja!" Dara tampaknya sudah tau apa yang membuat sahabatnya itu terlihat kacau.
"Enggak, nggak bisa! Kamu tau kan Ra, gimana Pak Wiro sableng itu?" Lolita punya julukan tersendiri untuk Wira. Menurutnya pria itu benar-benar kubu. Dengan usianya saat ini, maka sangat pantas dengan nama Wira seperti salah satu tokoh kesatria dalam film kolosal jaman dulu.
"Pak Wira, Ta!! Nanti kedengeran orangnya tau rasa kamu!" Tegur Dara terlihat tak terima.
"Ck, ya pokoknya itu deh!" Lolita berdecak dengan kesal. Dia merasa sial karena Wira yang akan menjadi dosen pembimbing untuk skripsinya.
Kenapa bukan Dara saja, padahal Dara yang ikut tergila-gila dengan Wira. Kenapa malah dirinya yang anti pati pada Dosen tampan itu.
"Kalau menurut aku, Pak Wira oke juga kok Ta. Asal kita rajin dan paham semua yang disampaikan, pasti Pak Wira nggak bakalan marah-marah" Dara asik menasehati sahabatnya itu.
"Nggak marah-marah gimana? Baru mau tanya aja sudah di pelototi. Bisa mati muda kalau sampai lanjut" Belum apa-apa saja, Lolita sudah berada ditahap menyerah.
"Di pelototi orang ganteng nggak ada ruginya kali Ta" Mata Dara melihat ke atas, membayangkan bagaimana saat Dosen killer itu menatap dengan dingin namun terlihat mempesona.
"Kamu penggemarnya, makanya bisa bilang kaya gitu!" Imbuh Lolita dengan kesal karena Dara merupakan salah satu penggemar Dosen killer itu.
"Kamu aja yang belum menyadari betapa mempesonanya Pak Wira. Aduh, rahimku langsung hangat kalau membayangkan seksinya Pak Wira, ototnya yang sempurna itu. Hmmm, pasti nayaman banget kalau di peluk"
Mendadak Lolita mengingat mimpinya di kelas beberapa hari yang lalu. Mimpi yang menurutnya sangat menggelikan, dan yang membuat Lolita merasa aneh adalah, kenapa di dalam mimpi dia seolah-olah menyambut ciuman dari Wira.
Dalam mimpi itu, Lolita merasa tak berdaya untuk menolak pesona Wira. Dia terpana dengan tatapan lembut dan juga senyuman Wira. Benar-benar mimpi yang di luar nalar.
"Bagusan juga Excel ke mana-mana. Please deh!" Tekan Lolita untuk menghilangkan bayangan tentang mimpinya itu.
"Kayaknya bukan otak kamu aja yang lagi bermasalah, tapi mata kamu juga!" Sindir Dara karena menurutnya, Lolita terlalu buta. Menyandingkan Excel dengan Wira, jelas berbeda. Seantero kampusnya juga pasti setuju kalau Wira lebih dari segalanya dibanding Exel.
Ditambah lagi, Wira adalah pria dewasa yang sudah mapan dan matang. Jika dibandingkan dengan Excel yang hanya seorang mahasiswa dengan modal tampang saja, meski Excel juga populer di kampus, tapi orang bodoh mana yang memilih Excel daripada Wira? Ya jelas hanya Lolita.
Lolita kembali terdiam, dia tak menanggapi ucapan Dara. Dia justru berpikir bagaimana caranya dia menemui Pak Wira. Menyapanya saja Lolita malas, apalagi harus meminta bimbingan dari dosen menyebalkan itu.
"Kita tukeran ana yuk Ra!" Ajak Lolita begitu menemukan cara untuk menghindar dari Pak Wira.
"Dih, ogah! Masih mending aku sama Bu Rindy, Dosen centil itu kalau dikasih kosmetik pasti juga gampang bimbingannya"
"Ck, curang kamu. Main sogok kaya gitu!"
"Bukan sogok Ta, cuma main cantik aja. Biar mulus jalannya. Kalau kamu mau, kamu bisa kok kasih Pak Wira apa gitu" Usul Dara meski dia sendiri tidak tau apa yang bisa membuat Wira luluh seperti Rindy.
"Kasih apa? Yang ada malah di lempar duluan sama dia kaya tutup spidol waktu itu!" Lolita tampaknya sudah tau bagaimana sifat Wira. Sepertinya Wira adalah dosen yang tidak mempan dengan hal-hal seperti itu.
Masih untung waktu itu dia tidak diusir keluar oleh Wira karena ketahuan tidur di kelasnya.
"Huuhhh" Nafas kasar keluar dari bibir Lolita.
Baru kali ini gadis berusa dua puluh dua tahun itu merasakan pusing dengan kuliahnya. Dia bukan gadis yang terlalu pintar, namun dua juga tidak bodoh, namun kali ini sungguh tidak bisa membuatnya berpikir.
Kalau dosen pembimbingnya tetap Pak Wira, yang ada semua yang telah tersimpan di otaknya untuk bahan skripsi bisa hilang semua. Belum lagi kalau harus berhadapan secara langsung. Lolita yakin semua yang telah ia susun dengan rapi langsung diminta revisi.
"Kamu kenapa Beb?"
Lolita langsung merapikan rambutnya ketika mendengar suara Excel.
"Kamu ada masalah?" Excel khawatir melihat kekasihnya dalam keadaan yang begitu berantakan.
"Bukan masalah lagi, tapi bencana!" Jawab Lolita dengan wajah memelas.
"Bencana?" Excel menatap ke arah Dara untuk meminta penjelasan.
"Pak Wira jadi Dosen pembimbingnya" Jawab Dara dengan malas. Dia menang sudah terlalu muak berhadapan dengan Excel. Pria buaya yang suka tebar pesona, tapi sahabat satu-satunya itu tetap saja percaya dengan mulut manis Excel.
"Pak Wira?" Excel terkejut.
"Iya, mana aku nggak bisa ganti Dosen pembimbing. Aku udah coba, tapi tetap nggak bisa katanya" Lolita kembali mengeluh, pikirannya saat ini bukan soal skripsi, justru tentang Dosennya itu. Dia memikirkan cara bagaimana untuk genti Dosen pembimbing.
"Ya udah kalau nggak bisa sayang, Pak Wira juga nggak galak-galak banget kok kalau kamu serius dan mendengarkan semua yang Pak Wira katakan. Katanya sih, Pak Wira nggak segalak kelihatannya"
"Ya udah deh, mau gimana lagi. Pasrah deh pasrah!" Ucap Lolita menyerah. Dia tak mungkin bisa mengganti Dosen pembimbingnya.
Lagipula kalau dia mengajukan keberatan, apa yang akan menjadi alasan Lolita? Mana mungkin Lolita mengatakan jika dia tidak suka Wira yang sok ganteng, dingin, ketus dan pelit.
Alasan yang dapat diterima hanyalah kalau Wira mengabaikan mahasiswanya, tidak memberikan bimbingan sebagaimana mestinya. Tapi sekarang saja Lolita belum menemui Wira sama sekali, bagaimana mungkin dia mendapatkan alasan-alasan itu.
"Kayaknya kamu butuh hiburan deh, kita jalan aja yuk! Kuliah kamu udah selesai kan?"
Mata Lolita langsung berbinar. Memang itu yang dia butuhkan saat ini. Dia harus menyegarkan pikirannya sebentar. Melupakan Dosen itu sejenak untuk meremajakan isi otaknya.
"Ke Mall!" Pinta Lolita dengan manja.
"Boleh" Excel mengacak rambut Lolita dengan gemas.
"Dih geli deh!" Cibir Dara yang muak dengan kemesraan mereka berdua.
"Bilang aja iri!" Lolita mengejek Dara yang sampai saat ini masih jomblo.
"Nggak sudi!" Balas Dara.
"Udah yuk, pergi aja!" Lolita menarik tangan Excel sambil menatap terus mengejek Dara.
Brug...
Lolita kembali menabrak seseorang karena dia tak memperhatikan jalannya.
"Maaf Pak, pacar saya nggak sengaja" Ucap Excel membuat Lolita ikut terkejut. Ternyata yang ia tabrak adalah Wira.
"Jadi kalian malah pacaran daripada mulai bimbingan sama saya?" Wira justru menatap tajam pada Lolita.
"Maaf Pak, saya memang belum sempat menghubungi Pak Wira. Kira-kira kapan saya bisa bimbingan ya Pak?" Lolita terlihat begitu gugup.
"Satu jam lagi saya tunggu kamu di ruangan saya!"
"S-satu jam Pak?" Bola mata Lolita hampir saja keluar.
"Kenapa? Kamu pikir saya tipe Dosen yang di WA sekarang jawabnya bulan depan, sengaja menunda-nunda bimbingan mahasiswanya?" Wira terlihat begitu ketus. Itu yang membuat Lolita kesal setengah mati.