Bab 2: Wilayah Alpha

629 Words
Tubuhku masih terasa berat saat terbangun. Ranjang kasar dari jerami dan kain wol membuat punggungku pegal, dan aroma kayu basah mengisi udara. Di luar, cahaya jingga fajar menyusup lewat celah-celah dinding kayu yang kasar. Suara burung liar terdengar jauh, diiringi angin pagi yang membawa wangi hutan. Aku duduk perlahan. Rasa perih menjalar di tengkukku. Ketika kusentuh, tanda itu masih terasa hangat—lambang aneh yang kemarin muncul seolah dibakar langsung ke dalam kulitku. Bukan mimpi. Semua nyata. Aku telah ditandai. Langkah kaki terdengar dari luar. Aku sontak mundur ke sudut, menggenggam selimut seadanya. Tapi yang masuk bukan sosok buas... melainkan seorang perempuan. Rambutnya putih, matanya tajam, namun wajahnya tidak memancarkan ancaman. "Dia membawamu semalam. Dia tidak biasanya membawa manusia," katanya datar sambil menaruh semangkuk sup hangat di meja kecil. Aku tidak menjawab. Aku bahkan belum bisa membentuk pertanyaan. "Namamu?" tanyanya. "Alya," sahutku pelan. Ia mengangguk. "Namaku Serel. Aku penyembuh kawanan. Kau di wilayah Raventhorne. Jangan keluar dari pondok ini sampai Lycus mengizinkan." Nama itu—Lycus. Aku langsung mengingat matanya. Suaranya. Sentuhannya. Naluri yang membuat tubuhku bergetar bukan hanya karena takut, tapi... karena sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Setelah Serel keluar, aku menatap sup yang disediakan. Aku lapar, tapi hatiku penuh pertanyaan. Siapa mereka? Apa maksud dari tanda ini? Kenapa aku? Beberapa jam kemudian, pintu terbuka keras. Dia muncul. Lycus. Alpha itu masuk dengan langkah pasti. Rambutnya basah oleh embun pagi. Matanya tetap tajam, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda—keraguan, atau mungkin rasa bersalah? "Kau merasa lebih baik?" tanyanya singkat. Aku menatapnya tajam. "Apa yang kau lakukan padaku?" Dia tidak langsung menjawab. Tangannya terlipat di dada. Wajahnya tegas seperti ukiran batu. "Aku menandaimu," katanya akhirnya. "Kenapa?" suaraku bergetar. "Karena tubuhku mengenalmu sebagai mate-ku," jawabnya pelan. "Aku tidak memilih. Tapi insting... memilihmu." Aku menggeleng, bingung. "Aku manusia." Dia mengangguk. "Itu yang membuat segalanya... rumit." Dia menjelaskan, perlahan. Tentang dunia yang tersembunyi dari manusia. Tentang shifter—makhluk yang hidup di antara kami. Mereka punya aturan, dan aturan pertama: Manusia tidak boleh menjadi Luna. "Tapi aku tidak bisa mengingkarinya," gumam Lycus. "Setiap alpha punya satu mate. Dan sekarang, itu kau." Hatiku menolak. Tapi tubuhku... masih merasakan panas di tanda itu. Dan di dalam diriku, sesuatu mulai terbentuk—rasa takut, tapi juga rasa terikat yang tak bisa kugambarkan. Hari-hari berlalu. Aku tetap di pondok itu. Serel sesekali datang membawa makanan. Tapi selain itu, aku sendirian. Terisolasi. Lycus datang tiap malam. Bukan untuk menyentuhku, bukan untuk berbicara... hanya duduk di luar pondok. Menjagaku dari bayang-bayang. Seolah dia tahu sesuatu bisa datang. Atau... dia tahu bahwa tubuhnya sendiri ingin masuk, dan dia sedang berperang dengan nalurinya. Malam kelima, aku tak tahan lagi. Aku melangkah keluar. Dia berdiri di sana. Di bawah cahaya bulan separuh, tubuhnya berdiri tegak seperti patung dewa tua. Tapi wajahnya... lelah. "Kau harusnya di dalam," katanya tanpa menoleh. "Aku butuh jawaban," desisku. "Apa yang akan terjadi padaku? Apa yang terjadi jika aku menolak?" Ia akhirnya menoleh. Tatapannya gelap, suaranya dalam. "Jika kau menolak, kau akan merasakan sakit. Karena ikatan itu akan tertarik, merobekmu dari dalam perlahan. Sama halnya denganku." Aku tercekat. "Lalu... jika aku menerimanya?" Lycus mendekat. Napas kami nyaris bertemu. "Jika kau menerimanya, tubuh kita akan bersatu. Jiwamu dan jiwaku akan terikat. Kau akan menjadi bagian dari kawanan. Bagian dariku." Aku tidak menjawab. Tapi aku tidak mundur. Dan untuk pertama kalinya, dia menyentuh wajahku. Lembut. Seperti ingin memastikan bahwa aku nyata. "Aku tidak akan memaksa," bisiknya. "Tapi waktu tidak menunggu. Dan saat bulan purnama datang... ikatan ini akan menarikmu lebih kuat. Dan aku tidak yakin... aku bisa bertahan menahan diri." Aku menatapnya. Hati dan tubuhku bertabrakan. Dan di ujung malam itu, aku tahu... Aku hanya punya dua pilihan: Menolak dan hancur perlahan... atau menerima dan menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia sepenuhnya. Dan waktu terus berjalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD