“Yaelah…Rin…Rindu Senja!” teriakan itu memenuhi lorong kampus. Sedangkan yang dipanggil terus berjalan lurus tidak peduli. Gadis itu menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang juga lewat di koridor, atau hanya sekedar duduk di bangku yang memang disediakan di sana.
Fakultas kedokteran selalu sunyi, bahkan di koridornya sekalipun. Sudah horor, makin horor ketika para mahasiswa itu duduk di koridor dengan buku yang tidak lepas dari pandangan mereka.
“Rindu, lo kenapa sih? Pagi-pagi udah bete aja jadi orang, niat hidup gak sih lo? Udah fakultas kayak kuburan heningnya, lo malah…yaelah, gue ditinggal kan!” Pandu berdecak sebal saat sang sahabat sudah berpindah lebih dulu.
Dia berusaha mengejar lagi, namun seseorang lebih dulu mendaratkan tangan di bahunya. Lekas Pandu menoleh dan mendapati si oleh yang sepertinya tidak tahu permasalahanya pagi ini.
“Lo kenapa sih pagi-pagi udah berantem sama mahluk satu itu, Ndu?” Miquel menatap Pandu dengan sorot mata bertanya.
“Ck. Lo tau gak sih itu bocah gak mau ikut kegiatan vaksin siang ini? Padahal prof Imam udah ngubungin gue buat bujuk itu anak anjir. Gue yang jadi serba salah di sini!”
Mengetahui permasalahan, Miquel hanya tersenyum. Dia tahu kenapa Rindu sampai sekesal itu pada mereka berdua. Itu karena semalam mereka berdua telat datang, dan Rindu juga kena semprot lelaki mabuk yang entah kenapa sepertinya menarik perhatian gadis itu.
Tanpa mengucap sepatah kata pada Pandu, Miquel melepas rangkulannya dan mengejar Rindu. Dia harus meluruskan masalah sepele mereka.
“Ya elah, kenapa sih kalian berdua pada main tinggal segala? Rasanya effort gue benar-benar un-useless tau gak sih? Bocah freak!” kesal Pandu, mengambil jalan yang berbeda. Dia butuh menyerahkan laporannya ke perpustakaan pagi ini dan gara-gara permintaan salah satu professor mereka, jadilah dia akan telat dan siapa diomelin lagi.
“Apes…apes, udah perut gue keroncongan, punya teman modelan kingkong yang always marah lagi. TBL…TBL..takut banget loh!” guman Pandu sambil berjalan.
Dia tidak peduli jika segala tingkah lakunya yang bermonolog sendiri itu mengundang pemikiran aneh dari para mahasiswa yang juga ada di sana. Siapa yang tidak berpikiran begitu coba? Pandu dan circlenya, selain dikenal pintar, juga dikenal dengan kumpulan orang aneh yang sering bermonolog sendiri.
Tidak di LAB, tidak saat melakukan operasi bedah, bahkan saat berjalan di koridor pun mereka selalu bermolog sendiri.
“Rin!”
Langkah Rindu berhenti, dia menatap tidak suka pada sosok yang menahan pergelangan tangannya.
“Lo mau ngapain? Kalo soal urusan yang Pandu bilang tadi, sory dory mory, gue Big No. Males tau gak sih jadi volunteer. Mana panas lagi, kapan kota Malang jadi sepanas ini!”
“Ini…”
Hampir saja Rindu melangkah pergi, namun karena Miquel menempelkan minuman dingin itu tepat pada wajahnya. Jadilah dia mengurungkan niatnya.
“Lo nyogok gue?”
“Anggap aja gitu!” Miquel sudah berlalu dari sana, tidak lupa mengacak rambut Rindu sebelum pergi, “jangan lupa ikut jadi volunteer vaksin nanti, siapa tau lo ketemu jodoh kan di sana?”
“Dasar…tapi jujur, gue malas tau gak sih? Kayak gak mood aja gitu buat ikut!”
“Lo mau teman lo jadi korban?”
“Pandu?”
Miquel mengangguk, dia memang kasihan dengan Pandu jika sampai tidak bisa memenuhi permintaan sang profesor.
“Ya udah deh, gue ikut. Lo ada kelas apa hari ini?”
“Bedah minor!”
“Sama prof Imam dong?”
“Itu lo tau, gue duluan ya, btw ntar siang makan bareng di kantin kan?”
Rindu dan Miquel berpisah di lift. Hari ini Rindu sebenarnya tidak punya jadwal kelas, dia hanya bimbingan untuk skripsinya yang entah seperti apa kabarnya. Semuanya membludak di akhir, kadang membuat Rindu Overthinking. Udah lulus susah, cari kerja apalagi?
Ya mau gimana lagi ya. Rindu juga harus menyelesaikan studinya tepat waktu agar beasiswanya tidak dicabut.
Siangnya, Rindu berakhir di lapangan rektorat. Wajahnya benar-benar tidak bisa diselamatkan. Dia menatap banyak antrian yang sudah menunggu untuk di vaksin. Pandu yang ada di sebelahnya sejak tadi takut menatap wajah Rindu yang menggambarkan singa kelaparan.
“Rindu, itu dokternya belum datang ya? Lo gak tanya dulu sama Rektor? Kan ini acara mereka, kita cuman mau bantu doang kan ya? Kasihan juga anak-anak udah pada di jemur tuh di lapangan!”
Chika, salah satu mahasiswi kedokteran yang hits karena cantik. Semua orang bisa dikatakan hampir mengenalnya. Namun, baik Rindu dan kedua gengnya tidak pernah menyukai mahluk satu itu.
See? Udah dari tadi berteduh di bawah pohon sambil kipasan, bisa-bisanya datang-datang terus ngeluh gitu? Rindu tidak bisa tahan lama-lama kalo udah gini, apalagi sejak pagi moodnya benar-benar hancur. Niatnya ke kampus biar bisa bimbingan, tapi yang ditunggu-tunggu malah seenak jidatnya membatalkannya perkara hal sepele?
Kan minta ditabok itu kepala dosen. Untung Rindu masih waras, jadi masih bisa tidak barbar. Selain itu, dia juga masih sayang pada nilainya. Jika sudah berbuat masalah, maka kelulusannya yang menjadi taruhan.
“Lo kok diam aja sih? Lo dengar kan?” Chika mulai ngegas.
“Lo…”
“Kenapa bukan lo aja yang nanya sama….”
“Perhatian, karena dokter dari rumah sakitnya sudah datang. Silahkan bersiap-siap ya semuanya, buat yang mau divaksin juga siap-siap ya!”
Chika dan Pandu yang tadi sempat berseteru akhirnya kembali pada posisi masing-masing. Di tempatnya, Rindu sedikit gugup. Tidak sengaja, dia menatap sosok yang semalam muntah tepat di depannya ada di kampus juga. Mengenakan jas putih dan dia dokter? Gumamnya dalam hati.
Dugaan Rindu benar saat sosok itu menuju ke arahnya.
“Jadi…Anda seorang dokter?” Rindu mulai bertanya sambil membuka beberapa jarum suntik. Diperhatikannya sosok itu yang sejak bergabung dengan stannya hanya diam saja, menyapa saja tidak.
Sungguh dingin. Tapi masih dingin Thomas Shelby sih.
Ragata hanya menatap sebentar. Dia jelas ingat siapa sosok yang membantunya. Tapi jujur, Ragata tidak expted jika gadis yang dia temui di café itu adalah mahasiswa kedokteran. Rindu Senja namanya, Ragata membaca name tag gadis di sebelahnya sekilas lalu lanjut dengan kegiatannya.
Ya Ampun, itu mulut bisa ngomong gak sih? Geram Rindu dalam hati.
“Dok, ini dosisnya benar?” Rindu bertanya sambil menunjukkan dosis yang sepertinya terlalu kebanyakan.
“Kamu mahasiswa kedokteran bukan?”
Rindu mengangguk kikuk. Ternyata dia bisa ngomong ya, lanjutnya dalam hati.
“Ya udah, bisa mikir kan seberapa dosis yang benar? Sudah baca buku petunjuk kan?”
Baru kali ini Rindu merasa tertohok. Tidak hanya Rindu saja, tapi Miquel, Pandu dan bahkan Chika yang hanya membantu ikut terkejut saat seorang Rindu Senja diperlakukan demikian. Bukannya apa, tapi Ragata memang sedikit keterlaluan.
Angga yang merasa ada masalah segera menghampiri.
“Gak usah dengerin dia, biasalah, lagi PMS. Sini, tukeran sama stan saya saja!”
Dengan kikuk Rindu berpindah dari sana. Nasibnya hari ini sepertinya tidak baik-baik saja. Dia mengikuti sosok dokter bernama Angga itu ke stan Pandu. Dan posisinya digantikan dengan Pandu. Sepanjang berjalannya kegiatan, Rindu sesekali curi pandang pada sang dokter yang bahkan tidak pernah tersenyum.
Gila. Batin Rindu.
“Dia emang kayak gitu, anyway, saya Angga. Kamu Rindu ya? Pasti nama panjangnya Rindu Sekali?”
Suasana sedikit mencair. Rindu akhirnya banyak bicara, dan juga bertanya. Tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan, dia selalu belajar jika ada kesempatan.
“Oh ternyata itu kamu ya. Tadi professor Imam juga banyak bercerita tentang kamu. Ternyata anaknya memang sepintar ini!” kekeh Angga.
Orang terakhir sudah selesai, dan hari sudah sore. Beberapa panitia yang menyelenggarakan vaksinasi bagi mahasiswa UB itu sudah mulai mempersiapkan makanan.
“Dokter sudah berapa lama bekerja?”
“Sudah hampir 7 tahun, sudah lama bukan?”
Rindu mengangguk, mereka sudah berpindah tempat ke bawah pohon. Di tangannya sudah ada nasi kotak dan juga minuman yang baru dibagikan. Pandu dan juga Miquel lekas bergabung, dan tentu saja dengan Chika yang ketara sekali tertarik dengan Angga. Dia bahkan mengusir Rindu secara halus agar bisa duduk di sebelah Angga.
Sebenarnya Rindu tidak masalah, namun cara Chika selalu saja tidak ada benar-benarnya di matanya. Tapi demi kebaikan semuanya, dia akhirnya berpindah tempat duduk di sebelah Pandu. Sialnya, sosok yang sejak tadi ingin dia hindari malah duduk di sebelahnya.
Mendadak Rindu merasa gugup. Berdekatan dengan dokter Ragata sungguh tantangan baginya. Aura dokter itu sangat mengintimidasi.
“Maaf!”
“Hah?” Rindu otomatis menoleh.
“Saya tidak bermaksud berkata seperti tadi kepada kamu. Hanya saja saya terbawa suasana karena panas juga, maaf, saya tidak bermaksud!”
“I…iya dok!” guman Rindu kikuk. Tapi entah kenapa dia merasa senang ketika mendengar permintaan maaf itu.
Sejak itu, Rindu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Dokter…dokter juga sudah lama bekerja?”
“Ya, sama dengan dokter Angga!” jawab Ragata seadanya.
“Dokter tampan sekali, sudah menikah belum?” seru Chika, memainkan matanya bermaksud menggoda Ragata.
Mendadak situasi menjadi awkward. Angga dan Andreas yang tadi bicara hangat kini menatap langsung ke arah Ragata. Raut wajah muka lelaki itu sudah berubah, tidak ada lagi wajah ramah seperti tadi.
Ragata lekas menyelesaikan makannya, mengambil ranselnya dan pergi dari lapangan rektorat. Bahkan mengabaikan sapaan dari Prof Imam yang baru saja bergabung.
Chika di tempatnya merasa serba salah. Dia kan hanya bertanya, tidak salah dong dia mempertanyakan hal itu?
“Lo selalu aja buat masalah, Chika. Kayak lo gak di ajarin aja batasan bertaya!” guman Pandu.
“Ya elah, gue kan cuman nanya dong. Apa salahnya coba? Dokternya saja yang gengsian, mudeng gue. Tau gak, kesel gue jadinya!” Chika ikutan ngambek.
“Udah…udah, Ragata tidak seperti itu kok aslinya. Hanya saja dia ada masalah, dan topik itu cukup sensitif untuknya. Jadi…saya mohon, jika bertemu dengannya sekali lagi, jangan pernah menyinggung masalah tadi. Jangan lupa buat minta maaf juga!”
Angga menengangi. Lalu lekas sibuk berbincang dengan Prof Imam dan beberapa professor lainnya yang masih banyak Angga kenal. Sebagai lulusan dari Universitas itu, jelas saja semuanya membuatnya terasa flashback.
Rindu dan kawan-kawannya pamit lebih dulu. Sejak tadi, mata Rindu tidak bisa berhenti untuk mencari keberadaan sosok itu. Jujur, dia sedikit penasaran kenapa topik itu menjadi sensitif bagi seorang dokter yang memiliki wajah rupawan sepertinya.
Jika untuk masalah gadis, Rindu yakin itu bukan masalah sulit. Karena semua gadis first impression dengan penilaian tampan atau tidak. Masalah perilaku itu adalah masalah terakhir buat para wanita-wanita.
“Lo nyari dokter Ragata?” tebak Miquel.
“Tumben lo tertarik sama cowok, atau jangan-jangan lo…” Pandu menaik turunkan wajahnya, menggoda sang sahabat.
“Bukan, gue cuman mau bilang makasih doang anjir. Tadi gue lupa nanya, mana si Chika berulah lagi!”
“Kenapa sih itu nenek lampir terus buat masalah? Heran gue tau gak sih?”
“Bukan cuman lo kali, Ndu. Hampir semua nyerah sama kelakuan chika!”
“Ya udah deh, gue mau pulang aja.” Seru Rindu, namun matanya masih menatap ke arah parkiran. Jikalau saja sosok yang tengah dia cari itu ada di sana. Meski cuek begitu, tapi Rindu merasa nyaman ketika berada di dekatnya.
Apa mungkin karena dokter itu sedikit mirip dengan ayahnya ya? Rindu juga tidak tahu, tapi dia tertarik saja dengannya.
“Lo jalan?”
“Ya!”
“Gue anterin aja, ayok!”
“Cie…kok kalian main tinggal-tinggal sih? Gue gimana dong? Kan jadi solo ini!” Pandu memegang tangan Miquel dengan manja.
Namun segera dihempaskan oleh Miquel yang memasang muka jijik. Lalu menjitak kepala Pandu yang selalu saja ada tingkahnya.
“Isss…kok kamu gitu sih mas? Kamu masih gak ingat selama kita kan main panggil sayang-sayangan, terus kamu elus….”
“Stop it, Pandu. Jijik tau gak sih? Lo jangan kebanyakan nonton drama thailand, lama-lama otak lo jadi geser. Udah ah, ayo Rin!”
“Miquel…Miquel…kamu kok tega banget sih!”
Bukannya berhenti, Pandu malah semakin menjadi-jadi. Rindu sejak tadi tidak bisa menahan ketawanya. Kedua temannya memang seabsurd itu jika sudah urusan saling menggoda.
“Apaan sih lo, singkirin tangan lo gak?” Miquel mulai jengah.
“Endak mau, aku maunya kamu!” guman Pandu memainkan matanya.
“Please Ndu, gue gak mau kasar sama lo!”
“Iss…berarti kamu memang beneran sayang kan sama aku ahh?”
“SIALAN, GUE…”
“Kabur” sebelum Miquel lepas kendali, Pandu sudah lebih dulu kabur. “Gue duluan ya Rin, makasih buat hari ini!”
“Sinting!” guman Miquel kesal.
“Udah, kayak lo baru kenal Pandu aja!” kekeh Rindu.
“Tapi dia buat kesal terus loh, Rin. Udah deh, gue antar ya.”
“Okay siap!”
Rindu dan Miquel berjalan ke arah parkiran sambil membicarakan banyak hal. Sampai mereka tidak sadar jika sejak tadi, ada seseorang yang mendengar semua percakapan mereka dari lantai 2. Bahkan sampai Miquel dan Rindu menghilang di parkiran, Ragata masih tetap pada posisinya.
Dia menghela nafas, lalu segera pergi dari sana.