Sepanjang perjalanan menuju kesekolah di lalui dengan penuh keheningan, Stephan yang sadar di dalam mobilnya ia tak sendiri hanya mengerutkan kening. Yah, anak-anak manusia ini melalui pagi dengan pikirannnya masing-masing. Gio yang duduk di depan tidak luput dari perhatian Stephan, terlihat kurang nyaman sepertinya ia sangat canggung, Stephan paham akan hal itu. Selang beberapa menit mobil Stephan memasuki area sekolah, walau pun oini mobil berwarna hitam yang ia kenakan tetap saja mengundang perhatian. Namun, sebelum mereka sampai orang tua dari Laura sudah sampai lebih dahulu bahkan mengumpulkan komite disiplin siswa untuk mendiskusikan agar Hillary di keluarkan dari sekolah, Stephan yang tidak pernah masuk ke group orang tua siswa tidak tahu menahu soal hal tersebut, hingga telpon nya berdering,
Kamu dimana? Ucap seseorang di ujung sana.
"Di Sekolah Hillary"Jawab Stephan
Aku kesana sekarang, kenapa anak kita akan di keluadkan aku tidak faham, apa yang telah Hillary lakukan? Ia anak yang polos tidak mungkin melakukan hal yang melanggar hukum bukan? Ucapnya panjang lebar terdengar sangat prustasi.
"Iya, siapa yang berani mengeluarkan Hillary Jane?" Tanya Stephan.
Di group orang tua, para orang tua sedang mengumpulkan komite disiplin siswa untuk mengeluarkan Hillary dari sekolah. Jawab seseorang yang di panggil Stephan dengan sebutan Jane.
Mommy? Batin Hillary.
Stephan meradang, langkahnya di percepat menuju ruangan kepala sekolah, sementara Hillary dan Gio hanya beradu pandang, hingva sopir yang tak lain adalah sekertaris ayahnya mengintrupsi.
"Mari non, den kita ikuti tuan." Ajaknya. Gio dan Hillary pun mengikuti Stephan dengan langkah yang tidak bisa menyulus Stephan.
Di ruangan kepala sekolah sudah ada beberapa orang tua siswa dan juga Laura yang terus menghasut orang-orang yang ada di sana. Stephan masuk tanpa permisi mengejutkan mereka.
"Pak Stephan?" Ujar kepala sekolah. "Silahkan duduk pak." Lanjutnya kembali. Mendengar kedatangan Stephan kepala yayasan bergesgas mencari keberadaan Stephan.
"Apa yang membuat anda kemari? Apakah lelucon yang salah satu siswa kami yang menjadikan anda sebagai objek hayalannya sudah sampai pada anda?" Ucap kepala sekolah dengan percaya diri. Stephan menghela nafas, namun Laura yang baru faham bahwa orang yang kemarin memukulnya di Caffe benar-benar Stephan sang pengusaha sukses yang mengaku sebagai Daddy Hillary.
"Pak Stephan, anda tidak bisa tinggal diam anak saya bahkan sampai di pukul oleh oknum pengusaha yang membooking anak itu, tidak pantas seorang siswi amoral ada di sekolah ini." Ucap ayah Laura, Stephan tersenyum miring hingga ia membuka suara.
"Siapa yang menggunakan nama saya sebagai lelucon? Siapa yang kalian sebut dengan siswi amoral Itu?" Suara Stephan meninggi, membuat semua yang ada di situ terkejut dengan sikap Stephan yang biasa nya tenang kini seperti penuh dengan emosi. Tidak ada sepatah kata pun yang keliar dari mulut mereka, hingga Hillary dan Gio masuk, entah kepala sekolah merasa sepenuhnya benar atau percaya dirinya mencapai 10000% atau otaknya tidak dapat membaca situasi, saat melihat Hillary dan Gio masuk ia main tuduh-tudih saja.
"Ini dia pak siswanya." Ucap kepala sekolah dengan tersenyum miring, seakan mengejek Hillary. Stephan menoleh lalu memeluk Hillary, sontak semua yang ada di ruangan itu kembali terkejut. Stephan mengecup kening Hillary dan menggenggam tangannya menahan emosinya di depan anak semata wayangnya yang terlalu sering melihat ia dan ibunya bertengkar, ia tidak mau mental Hillary semakin rusak karena sikapnya.
"Anak ini yang kalian sebuat dengan anak amoral, anak yang menjadikan nama saya lelucon adalah anak saya, anak semata wayang saya. Saya mau tanya kepada anda kepala sekolah yang terhormat, mengapa anda menganggap anak saya sebagai leucon? Mengapa anda tidak mempercayai kata-kata anak saya? Jika kepala sekolah sudah tidak mempercayai kebenaran yang di ungkapkan muridnya karena muridnya miskin, maka yang amoral disini adalah kepala sekolahnya! Apakah kebenaran ifu datangnya hanya dari mulut orang-orang yang dianggap anda kaya? kerabat? lalu kebenaran lain itu salah dimata anda? Atau hanya orang kaya yang benar dan orang miskin salah dimata anda?" Ucap Stephan penuh penekanan seolah menahan amarah. Jangan tanya ekspresi kepala sekolah ia memucat, darahnya seolah berhenti mengalir. Tidak lama kepala yayasan masuk dan terkejut dengan suasana yang tercipta di ruangan tersebut.
"Ada apa ini? Pak Stephan mari ke ruangan saya." Ajaknya.
"Tidak perlu pak, saya di sini bukan sebagai investor, saya di sini sebagai seorang ayah yang anaknya menjadi korban bully di sekolah yang bisa di bilang sekolah miliknya sendiri." Stephan dengan penuh penekanan.
Tatapan Kepala Sekolah berpindah ke Laura meminta penjelasan. Laura kelimpungan dan bergelayut pada lengan ayahnya.
"Saya ingin dengar Kepala Sekolah atas dasar apa anda mengscore anak saya? Dan atas laporan siapa anda berani mengatakan anak saya di booking saat saya sendiri yang mengantarkan nya ke sekolah ini?" Ucap Stephan mengintimidasi. Kepala sekolah gelagapan dan memandang Laura, kini pandangan Stephan tertuju pada Laura, Laura memegang tangan ayahnya seolah meminta perlindungan.
"Pak Stephan mungkin ini hanya slaah faham." Ucap Ayah Laura
"Salah Faham? Salah Faham nya dimana silahkan anda jelaskan? Tadi anda yang meinta saya memberi pelajaran kepada anak amoral kan? Bagaimana dengan anak yang menyebarkan fitnah hingga membuat siswa lain nyaris di keluarkan? Apakah tindakan anda untuk anak yang seperti itu? Dibiarkan saja karena ia anak anda? Atau karena ia anak orang kaya? Maka hukum di negara ini tidak berlaku?"
"Mohon maafkan ucapan saya pak, saya mohon masalah ini jangan terlalu di perpanjang kasihan anak saya ketakutan." Ucapnya polos.
"Bagaimana dengan anak saya? Beberapa hari ini di rundung? Bahkan di kucilkan gara-gara tuduhan palsu yang anak anda sebarkan? Hingga nyaris di keluarkan dari sekolah? Ia lebih dari ketakutan pak, apakah saya sebagai ayah harus diam saja karena yang berbuat demikian adalah anak anda?" Ucapan Stephan mengintimidasi. Dalam Hati Hillary berkata,
Pantas saja Daddy sangat di segani di dunia bisnis, ia sangat tegas. Ah aku ingin seperti Daddy.
Seseorang masuk ke dalam ruangan tabpa permisi, terlihat dari cara ia masuk bahwa ia tak kalah emosinya dengan Stephan, ia menghampiri Hillary dan memeluknya.
"Kalian tidak perlu repot-repot mengadakan rapat komite disiplin siswa untuk mengeluarkan anak saya dari sekolah ini, saya sendiri yang akan membawanya ke sekolah yang lebih baik! Anak saya tidak perlu kepala sekolah, guru dan teman seperti kalian dan satu hal, saya akan menarik semua dana yang saya tanamkan untuk sekolah ini sekarang juga." Ucapnya tanpa basa-basi setelah melepas pelukannya dari Hillary.
Waww Mommy lebih keren dari Daddy, mereka orang tua yang keren, kenapa aku nggak jadi anak keren yah? Kenapa aku nggak sekeren mereka? Batin Hillary