Saat menekan tombok telepon, aku segera menaruh handphone ini ditelingaku. Untuk beberapa saat tak suara yang mengangjat teleponnya. Aku memandang Dewi sambil menunjukan layar handphone yang panggilannya terputus karena tak ada yang angkat. “Mungkin dia gak mau angkat teleponku ya, Wi.” ucapku. Mataku menatap lekat pada HP digenggaman tanganku. “Siapa tau dia sibuk. Coba telepon lagi.” Aku mengikuti saran Dewi. Aku menekan kembali nomor telepon Ryuzaki. Aku menunggu, aku menunggu dan sama seperti sebelumnya, hanya mesi yang menjawab dan memintaku meninggalkan pesan. “Gak bisa,Wi.” Aku mulai merasa tidak percaya diri untuk menghubungi Ryuzaki lagi. “Coba lagi, Mal. Baru dua kali.” Untuk kedua kalinya kuikuti kembali saran Dewi. Kumenunggu Ryuzaki untuk mengangkat teleponku, namun ha

