“Siang dek Mala.” Kudengar suara mas Tomo yang mendekat kearahku.
“Siang mas.” balasku. Aku meletakan sapu yang kupegang ditempat penyimpanan dan segera menemui mas mas Tomo yang masib terlihat membawa tas yang ia biasa gunakan untuk berkuliah.
“Lagi apa dek?” tanyanya
“Baru selesai beres-beres, mas. Mas baru pulang kuliah ya?” tanyaku basa-basi.
“Iya, tadi pulng bareng Andi.” jawab mas Tomo. Aku juga baru menyadari bahwa aku tidak mendengar suara motor vespanya mas Tomo saat ia datang.
“Motornya kemana mas?” aku mencoba melihat keparkiran home stay untuk mengecek apakah ada motor vespa mas Tomo atau tidak, namun sayang dari tempatku berdiri tak terlihat apapun.
“ Motor mas lagi diservis, dek. Katanya besok nanti sore bisa diambil.” Mas Tomo membuka resleting tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas berpotongan persegi panjang kepadaku.
“Dek Mala besok sore mau nonton film bersama? Kebetulan mas gak ada kuliah juga besok.”
Aku mengambil karcis untuk menonton film yang diberikan mas Tomo padaku. Aku sangat ingin ke bioskop karena selama ini aku belum pernah ke bioskop sama sekali, lagipula mas Tomo juga sudah membelikan ini, sayang kalau tidak dipakai.
“Aku tanya bibi sama paman dulu ya mas. Kalau mereka ijinkan ya kita pergi.”
“Oke dek, atau mau ditanya sekarang aja? Biar mas yang mintakan ijin.” mas tomo menawarkan dirinya. Aku senang melihat wajah mas Tomo tanpak bersemangat seperti siang ini.
“Nanti Mala bisa tanyakan sendiri kok mas.” Mas Tomo segera menerima inginku. Aku pikir akan meminta ijin, nanti saja saat bibi pulang kerumah.
***
“Cieeee yang mau kencan.” goda Dewi saat melihatku sedang menyisir rambutku.
“Gak kencan Wi, Cuma nonton film aja.” balasku. Aku sudah meminta ijin pada bibi dan saat mendengar bahwa aku akan pergi bersama mas Tomo sore ini, bibi langsung mengijinkannya.
“Itu namanya kencan, Mal. Mau kudandai?” tanyanya
“Tak usah. Begini saja cukup.” aku memoleskan bedak diwajahku dan memakai lipstik tipis berwarna merah muda yang diberikan Dewi padaku.
“Kupikir kamu gak mau jalan sama mas Tomo, Mal.”
“Mas Tomo sudah belikan karcis untuk nontonnya, Wi. Dia juga ngomongnya baik-baik ke aku. Gak enak aku nolaknya, aku juga belum pernah nonton di Bioskop, jadi kupikir tak apa kalau aku pergi dengannya.”
“Oh…. Ya udah hati-hati ya.” ucap Dewi. Aku mengambil tas kecilku berwarna cokelat yang kubawa dari Lombok yang isinya hanya cukup dompet dan sapu tanganku saja.
“Iyaa, Wi. Daa…” aku meninggalkan kamar karena melihat jam sudah menunjukan pukul 4 kurang 10 menit. Jadi lebih baik aku menunggu mas Tomo di home stay saja.
Saat sampai dihalaman home stay ternyata mas Tomo dan vespa birunya memasuki home stay. Ia menggunakan kemeja kotak-kotak biru putih dengan celana jeans biru dan juga tas selempang batik yang selalu ia gunakan.
“Catiknya. Sudah siap dek?” tanya mas Tomo. Aku melihat penampilanku sekilas yang hanya menggunakan kaos putih dan rok kain ungu bermotif polkadot dibawah lutut sedikit. Tidak terlalu buruk kupikir untuk sekedar menonton film saja.
“Sudah mas.” Aku segera naik kebelakang motor vespa mas Tomo dan tak lupa menggunakan helmku.
“Pegangannya ya.” pinta mas Tomo. Aku lebih nyaman memegang pada jok motor daripada harus berpegangan pada mas Tomo.
***
Kamipun tiba disebuah bioskop yang berada didekat bandara, masih diwilayah Kuta. Kudengar hanya ada dua bioskop saat ini di Bali, dan kami pergi kesalah satu bioskop yang ada.
Mas Tomo turun dari motornya begitupun denganku. Saat akan melepas helm dan menaruhnya, aku tiba-tiba teringat Ryuzaki yang biasanya akan membantuku melepaskan helmu dan memasakannya untukku.
“Yuk dek.” ajak mas Tomo saat melihatku sedikit melamun.
“Yuk mas.” akupun berjalan disebelah mas Tomo sambil memperhatikan beberapa ornag yang memasuki Gedung biokop juga.
“Kita nonton apa, mas?” tanyaku pada mas Tomo saat sudah memasuki Gedung bioskop. Kulihat ditempat pembelian tiket ada beberapa orang yang sedang membeli tiket. Selama di Lombok aku belu pernah masuk ke gedung bioskop jadi ini merupakan pengalaman baru untukku.
“Mas sudah belikan tiket untuk nonton film Horor dek.” ujar mas Tomo.
“Mas suka nonton film horror?” tanyaku penasaran.
“Lumayan ya, kalau dek Mala?” tanya balik mas Tomo padaku.
“Aku suka mas, apalagi filmnya Suzana. Aku suka banget.” aku teringat bagaimana aku dan keluargaku sering berkumpul bersama untuk nonton film horor Suzana dirumah. Aku dan Anggun biasanya saling berebut bantal untuk menutup mata ketika hantunya keluar. Aku benar-benar merindukan keluargaku.
“Oh, begitu. Hebat kamu.” puji mas Tomo. Kami berjalan menuju sebuah sofa panjang dimana ada beberapa orang sedang menunggu.
“Ini filmnya mulai jam 5 dek. Mala mau beli minuman atau popcorn?” tanya mas Tomo.
“Tidak usah mas, Mala masih keying.” jawabku. Harga minuman dan makanan di bioskop pasti mahal, untuk membeli tiket ini saja pasti mas Tomo sudah mengeluarkam uang cukup banyak, aku tak ingin ia haru mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman lagi disini.
“Beneran dek?” mas Tomo memberikanku wajah tak yakinnya.
“Iya, beneran gak apa-apa kok Mas. Nanti aja kalau sudah selesai nonton kita beli minuman diluar ya mas.” aku pikir itu adalah ide terbaik untuk kami agar kami bisa lebih menghemat uang.
“Oke. “ jawab mas Tomo yang menyetujui ideku.
“Tapi kalau dek Mala merasa haus bilang ya, biar mas belikan minuman.” Tambah mas Tomo.
“Iya mas.” jawabku singkat.
Sambil menunggu, kami berdua disibukkan membahas mengenai kegiatan kami sehari-hari. Mas Tomo banyak bertanya mengenai persiapan yang sudah kulakukan untuk mengikuti tes ujian masuk yang akan diadakan beberapa bulan lagi dan kau banyak bertanya mengenai kegiatan kuliah mas Tomo.
“Dek nanti kalau takut sama filmnya, tutup mata aja ya. Ga kapa-apa nanti mas jagain.” ujar mas Tomo saat kami berjalan masuk menuju ruangan tempat pemutaran film.
“Iya mas.” Jawabku singkat. Kami menaiki nak tangga untuk menuju bbangku kami yang berada ditengah-tengah. Posisi kami terasa begitu pas dengan layer biosop yang ternyata sangat besar ini. Aku masih begitu terkesima melihat layar bioskop yang besar ini saat sepasang pasangan berjalan melewati kami berdua. Aku menduga mereka berpasangan saat sang pria menggenggam erat tangan pasangannya. Mereka tertawa dan terlihat begitu gembira.
“Permisi…” ucap sang pria dnegan sopan padaku dan mas Tomo.
“Iya…” aku menggeser kakiku agar pasangan itu bisa lewat. Kedua pasangan itu terpisah dua buah bangku disebelah kananku. Aku tak begitu memperhatikannya dan mulai fokus pada film yang akan mulai tayang.
Lampu-lampu dibiokopun dimatikan dan ruangan biskop menjadi henting, hanya ada suara film yang diputar.
“Dek, kalau takut sembunyi aja dibahu mas ya.” ujar mas Tomo sambil menepuk bahunya.
“Oh….” aku tak mengiyakan atau menolak ucapan mas Tomo dan kembali fokus pada film yang sudah dimulai.
Aku begitu fokus menonton film dan sesekali menutup mataku. Mas Tomo tampak tidka dapat duduk dengan tenang, ia beberapa kali mengubah posisi duduknya. “Kenapa mas?” tanyaku. Aku pikir mas Tomo mungkin ingin ke toilet.
“Gak ada apa-apa dek.” jawab mas Tomo. Aku dapat melihat wajah mas Tomo tampak sedikt ketakutan diruangan yang gelap ini.
“Oh. Oke mas.” Jawabku lalu fokus kembali ke film yang kutonton. Suasana difulm semakin mencekam saat seorang anak kecil berjalan melewati lorong-lorong gelap dirumahnya. Suara jam dinding terdengar jelas dan tiba-tiba sosok hantu muncul dilayar. Aku begitu terkejut dan ingin menutup wajahku namun kubatalkan karena kaget mendnegar teriakan penonton lainnya dan juga teriakan mas Tomo disebelahku.
“Ini filmnya keren ya dek.” ucap mas Tomo kepadaku saat ia menyadari aku sedang menatapnya.
“Iya mas. Mas gak apa-apakan?” aku sedikit khwatir melihat mas Tomo yang semakin jelas terlihat ketakutan.
“Ga kapa-apa kok dek.” mas Tomo memperbaiki posisi duduknya dan menatap kelayar bioskop lagi.
“Oke mas.” jawabku. Sesekali aku melirik ke mas Tomo untuk melihat keadaannya. Ia terlihat kebih tenang sekarang dan nampak karena ia sedang menutup matanya seperti orang yang tertidur. Sebenarnya kau ingin tertawa melihat ini, namun kutahan karena tidak enak bisa menyinggung perasaan mas Tomo.
Tidak terasa sudah satu jam setengah kami menyaksikan film. Saat film akan berakhir, aku tak sengaja mendengar perdebatan yang terjadi pada pasangan yang tampak harmonis yang duduk satu deret denganku. Aku bahkan bisa mendengar wanita bermabut panjang itu terisak seakan sedang menahan tangisannya.
Aku tak habis pikir bagaimana bisa mereka bertengkar padahal sebelumnya mereka terlihat begitu manis dan baiknya.
“Yuk dek, sudah selesai filmnya.” mas Tomo bangkit berdiri dari kursinya dan memintaku untuk bangkit berdiri juga. Lampu bioskopun dinyalahkan hingga aku bisa melihat jelas para penonton yang ada diruangan ini. Jumlahnya tidaklah banyak, tidak sampai setengah dari ruangan ini.
Saat akan menuruni tangga untuk keluar ruangan bioskop aku masih tidak bisa berhenti memikirkan wanita yang tadi terisak didekatku. Mas Tomo mungkin tidak mendengar hal itu, namun aku jelas bisa mendengarnya. Saat akan keluar ruangan ini, aku masih melihat kedua pasangan itu masih duduk dibangkunya dan tampak sedang membicarakan sesuatu. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkin sesuatu yang penting dan kurasa cukup meyakitkan untuk sang wanita.
“Aku mau ke toilet ya dek.” ucap mas Tomo.
“Iya mas, aku tunggu disana ya.” jawabku sambil menunjuk sebuah bangku yang berada tak jauh dari toilet.
“Iya…” mas Tomo berjalan menuju toilet dan akupun duduk menunggu diatas kursi sambil memperhatikan poster-poster film yang akan tayang atau sedang tayang saat ini.
Aku melihat kembali pasangan yang tadi kujumpai diruangan bioskop. Mereka berjalan berdekatan namun taka da lagi rangkulan tangan seperti sebelumnya. Kedua pasangan itu nampaknya sedang bertengakar. Sang wanita terus berjalan menunduk dan berbelok arah menuju toilet wanita. Sata itu kepalaku seperti terasa ringan sesaat dan saat aku membuka mata kau sudah berada ditempat lain. Keadaan disekelilingku terlihat berwaran jingga samar. Aku jelas sedang melihat potongan masa depan lagi. Sudah beberapa watu sejak kecelakaan aku tidak melihat potongan masa depan, namun sekarang aku mampu melihat sesuatu yang menjadi rahasia waktu ini.
Aku memperhatikan sekelilingku, aku berada disebuah rumah, diruang tamu rumah itu tepatnya. Rumah ini terlihat tak terlalu besar, malah cukup kecil menurutku jika dibandingkan dengan rumah paman dan bibiku disini. Tak banyak perabotan yang mengisi ruangan ini selain sebuah kursi dari kayu dan meja kayu. Tiba-tiba seorang wanita berpakain kuning dengan celana jeansnya masuk, aku tau wanita ini. Dia adalah wanita yang kulihat dibioskop. Wanita itu masih menangis lalu duduk diatas kursi kayu. Tak lama kemudian pasangannya memasuki rumah juga dan memarahinya dengan keras.
“Aku sudah bilang supaya kamu minum obat yang kukasi!Aku pikir kamu sudah melakukannya!” pria berkaos hitam itu berdiri mondar mandir didepan wanita itu dengan tangan berkacak dipinggangnya. Wajahnya terlihat begitu gusar dan marah.
“Aku gak mau!” teriak wanita itu keras.
“Kalau kamu gak mau, kamu pikir aku mau bertanggung jawab sama bayi itu, hah?!” balas teriak pria itu.
“Aku bahkan tidak tahu itu anakku atau bukan!” lanjutnya dengan mata melotot.
“Ini anakmu, aku hanya melakannya denganmu. Kamu harus tanggung jawab!” tangisan wanita itu semakin menjadi.
“Aku tidak mau! Aku sudah bilang agar gugurkan saja bayi itu! Biar kita bisa tenang!”
“Ya Tuhan, jadi keributan yang terjadi diatara mereka adalah karena sang wanita sedang mengandung dan pria ini memaksa untuk menggugurkan bayinya. Aku melihat kedua pasangan ini tampak begitu harmonis. Melihat penampilan mereka yang sudah berkisar usia 25 tahun keatas kupikir mereka sudah menikah."
“Kalau kamu gak mau bertanggung jawab, aku akan beritahu pada isterimu, ibu dan bapakmu.” teriak wanita itu sambil tangannya memeluk erat perutnya.
“Apa kamu bilang? Kamu berani mengancamku saat ini dasar w************n!.” aku tak tega melihat ini. Pria itu kini meremas kedua pipi wanita hamil ini dengan kedua tangannya dan tangan kirinya menahan tangan wanita itu saat mencoba melindungi dirinya.
“Iya…” jawab wanita itu. Air matanya terus mengalir, namun ia tak melepaskan tatapannya pada pria yang sedang menyakitinya kini, wanita jelas tidak memiliki rasa takit sedikitpun.
Aku tersentak kaget saat pria itu dengan keras meghantam kepala wanita itu pada tembok dibelakangnya dan ia melakukannya dua kali dengan keras tanpa ada rasa kasihan sedikitpun. Aku menutup kedua mataku. Kakiku terasa bergetar, tak sanggup aku melihat hal sekeji ini. Wanita itu terlihat melemas dengan kedua mata yang masih terbuka.
"Aku sudah bilang, gugurkan anak itu!." teriak pria itu lalu menampar pipi wanita itu.
"Aku tidak mau..." ujar wanita itu dengan lemasnya.
Pria itu menjambak paksa rambut sang wanita lalu menghantamkan kembali kepalanya ketembok dengan lebih kerasnya.
Ya Tuhan... Ingin pingsan aku rasanya, namun aku harus menolong wanita ini. Aku harus menolongnya.