“Terima kasih banyak ya.” aku harap Ryuzaki benar-benar bisa membaca isi hatiku saat ini agar ia tahu betapa senangnya aku menerima buku pemberiannya.
“Sama-sama, saya tahu kok kamu sangat senang menerima buku-buku ini.” balas Ryuzaki dengan santainya. Ini terasa horor, kutarik nafasku dalam-dalam. Aku semakin yakin kalau pria ini benar-benar bisa membaca pikiranku.
“Kamu bisa membaca pikiranku ya?” tanyaku akhirnya. Aku sangat ingin tahu hal ini sedari dulu, namun baru kini aku baru berani tanyakan padanya.
“Iya aku bisa. “ jawab Ryuzaki dengan serius.
“Benarkah?” aku menatapnya begitu lekat. Ini hal paling mengejutkan yang kudengar tahun ini.
“Hahaha, tidak. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku bisa baca pikiranmu. Tentu tidak ya. Saya tidak bisa baca pikiran siapa-siapa.” tawa Ryuzaki pecah dan membuat beberap orang yang berjalan didekat kami melihat kearah Ryuzaki.
“Aku pikir kamu benar-benar bisa baca pikiranku.” aku tak menduga kalau Ryuzaki hanya bercanda saja. Ia tampak begitu serius tadi, tidak terlihat sedang berbohong.
“Aku hanya bercanda Nirmala. Jangan menganggapnya serius ya.” tangan Ryuzaki mengusap rambutku, mengacak-acaknya lalu memperbaikinya lagi.
“Ayo kita pergi makan siang dulu ya. Baru pulang.” Ryuzaki mengambilkan helm dan seperti sebelum-sebelumnya ia memasangkannya padaku.
“Mau pergi makan? Apa tidak apa-apa?” aku baru ingat aku belum minta ijin pada bibi saat hendak pergi ketoko buku ini dan sekarang akan pergi makan lagi. Aku takut bibi dan pamanku akan bingung mencariku karena tadi aku ijin hanya untuk kerumah sakit.
“Tenang saja, aku akan menghubungi ibu Ayu dan memberitahunya bahwa kita akan makan siang dulu.” Ryuzaki melihat jam ditangannya. “Ini sudah jam 12 siang lebih, sudah jam makan siang.” tambah Ryuzaki.
“Tapi, aku harus minta ijin dulu.” aku tak bisa pergi begitu saja dengan orang lain tanpa meminta ijin dulu dengan bibi atau paman.
“Baiklah, aku akan telepon sekarang ya.” Ryuzaki mengeluarkan handphone dari saku celananya dan mulai menelpon bibiku.
“Halo ibu Ayu.”
“Iya, ini Ryuzaki.”
“Sudah selesai bu, kata dokter Nirmala keadaannya sudah lebih baik.”Ryuzaku mengusap rambutnya beberapa kali.
“Begini, saya mau ajak Nirmala makan siang dulu, apakah boleh?”
“Iya, oh oke. Terima kasih ya bu. Baiklah sampai jumpa.” Ryuzaki mengakhiri teleponnya dan tersenyum kepadaku.
“Ibu sudah ijinkan ya, jadi kita bisa pergi. Ayo naik.” Sebelumnya aku tak pernah melihat Ryuzaki begitu bersemangat seperti ini, namun kini wajahnya tanpak begitu senang dan bersemangat.
***
Aku beberapa kali memperhatikan bangunan restoran tempat kami akan makan siang ini. Dari bangunannya saja jelas tempat makan ini pasti memiliki harga makanan yang tak akan sanggup kubayar.
“Kita akan makan disini?” kuhentikan langkahku begitupun Ryuzaki. Ia berhenti saat melihatku berhenti.
“Iya kita makan disini. Ada apa?” tanya Ryuzaki dengan wajah bingungnya.
“Pasti mahal.” ucapku terus terang. Seluruh uang didompetku mungkin tak akan sanggup membayar satu gelas minuman disini.
“Tidak mahal. Ayo…” Ryuzaki mengulurkan tangannya padaku.
“Tapi… Ini restoran mahal, Ryuzaki.” ucapku lagi.
“Tenang saja, ayo. Hari ini aku yang traktir ya.” ucapnya.
“Tapi…” aku masih tidak saya akan makan ditempat seperti ini.
“Lain kali kamu harus traktir saya minum kopi ya.”
“Baiklah.” ujarku. Akupun mengikuti Ryuzaki dengan berat hati karena tidak ingin berdebat dengannya. Harga kopi juga tidak akan sebanding dengan harga makanan disini.
Saat pertama kali melangkah masuk kedalam restoran ini, sudah ada beberap pengunjung yang menikmati makanannya dan sebagian besar yang ada di restoran ini adalah orang-orang dari luar Indonesia. Suara music merdu dan lembut seperti music-musik jezz diputar didalam restoran ini. Cat tembok cream berpadu dengan putih dan hitamnya membuat ruangan ini sangat nyaman. Ditambah dengan hiasan-hiasan dinding yang membawaku seakan berada di bangunan Eropa.
“Kita duduk disana ya.” Ryuzaki berjalan menuju sebuah meja bundar kosong yang diisi oleh dua kursi, sangat pas untukku dan Ryuzaki. Meja-meja yang lin terdiri dari 4 kursi bahkan ada yang 6 kursi juga.
Meja yang kami duduki tepat berada disebelah keca jendela besar yang memberi pemandnagan halaman samping dari restoran ini. Ada beberap kursi dan meja makan juga diluar, aku bahkan bisa melihat sepasang pasangan yang nampak sedang bersenda gurau sambil menikmati santap siangnya.
“Silahkan.” sebuah buku menu ditaruh tepat didepanku oleh seorang pelayanan wanita berseragam putih hitam yang terseyum ramah padaku.
Aku memandang Ryuzaki serius memilih makana yang dipesan, aku segera membuka buku menu yang berukuran seperti buku double folio ini dan benar-benar terkejut dengan harga makanan yang tertera. Tidak hanya itu, karena restoran ini adalah restoran barat, menu-menunya juga memiliki nama-nama unik yang sangat asing ditelingaku.
“Mau makan apa?” tanya Ryuzaki padaku.
“Aku bingung mau pesan yan mana.” jawabku jujur.
“Mau pasta saja?” tanya Ryuzaki lagi.
“Pasta?” tanyaku mencoba mendapatkan penjelasan lebih.
“Seperti spaghetti? Itu mungkin akan cocok.”
“Oke.” Jawabku cepat. Aku percayakan semua pada Ryuzaki.
“Pasta yang mana? Maksudnyamau spaghetti yang mana? Oglio olio, atau carbonara. Bolognaise atau pasto? Atau yang ini saja, spaghetti with shrimp sauce?
“Menurutmu yang enak yang mana?”
“Semuanya enak. Ehm… aku akan pesankan yang shrimp sauce ini saja ya. Ini rasanya enak, saya pernah coba juga. ” Ryuzaki menunjukan gambar spaghetti dengan banyak udang diatasnya yang ada didalam buku menu.
“Oke.” jawabku dengan cepat lagi.
“MInumnya?”
“Ehm.. Jus aja, jus apel.” Aku mencoba melihat harga minuman yang paling murah, yang pertama adalah air puth dan jus. Untuk sebotol air minm biasa saja harganya bisa kima kali lipat harga air mineral beli beli di warung, jadi kupkir kubeli jus saja sekalian harganya tak beda juah dengan sebotol air mineral biasa.
Ryuzaki berbicara dengan fasih pada pelayan yang suda menunggu. Aku mendnegar dia memesan sekitar 3 menu makanan dan dua minuman dan dua dessert yang ia minta untuk disediakan saat kami sudah selesai makan makanan utama.
“Bagaimana tempat ini?” tanya Ryuzaki padakau.
“Tempatnya bagus, terkesan klasik namun juga modern.” jawabku
“Saya kenal dengan pemilk tempat ini, orang Itali.”
“Oh…” aku tidak tahu seperti apa pergaulan Ryuzaki, namun menderngarnya kenal dengan pemilik tempat ini sudah membuatku menyadari betapa berbedanya pergaulan kamu berdua.
Tak lama kemudia, pelayan wanita yang tadi membawakan pesanan kami. Dengan hati-hati iya menaruh pesanan minuman kami dan juga sepiring berukurang besar salad sayur.
“Makanlah…” Ryuzaki mengambilkan salad sayur dipiringku.
Aku memandangi sayur-sayuran mentah dihadapanku. Ada potongan keju, roti serta ada daging ayam juga. Terlihat enak, namun aku tak yakin dengan rasanya karena ini pertama kalinya juga untukku makan salad sayur seperti ini. Saat kucoba menggabungkan potongan tomat, bawang bombai ungu, keju, salada dan potongan ayam dalam sekali suap, aku baru paham sekarang kenapa ada ornag yang suka memakan makanan seperti ini, ternyata rasanaya enak.
“Bagaimana?” Ryuzaki menyantap saladnya dengan lahap dan menunggu reaksiku.
“Ini enak, segar ada rasa gurihnya, asam dan manis. Aku suka.” jawabku sambil menyuap kembali salad dipiringku.
“Ini apa?” tanyaku pada Ryuzaki saat melihat buah bulat berwarna ungu mirip anggur namun rasanya sangat asam.
“Ini buah zaitun. BIasanya memang ada disalad-salad sayur seperti ini ya.” ujar Ryuzaki.
“Oh… Aku baru tahu soal ini.” Aku memandangi buah zaitun itu dan mencampurnya disaladku.
Belum habis salad yang kusantap, pelayan sudah membawakan menu pesanaku dan Ryuzaki. Aku sangat terpesona dengan penataan makanan dipiring ini sangat terlihat indah dan sangat mirip dengan Digambar yang kulihat di buku menu tadi.
Kulihat sepiring spaghetti yang sangat menggugah selera makanku dan juga piring Ryuzaki yang berisi potongan ikan salson yang entah apa tadi nama menunya, aku lupa karena terlalu panjang untuk kuingat.
Dengan cepat aku menghabiskan salad dipiringku agar bisa menikmati spaghetti yang nampak indah dengan campuran udang dan potongan-potongan sayur yang tampak seperti ketimun. “Ini ketimun?” tanyaku pada Ryuzaki sambil menunjuk sayuran yang kumaksud pada Ryuzaki.
“Bukan, itu namanya zucchini. Masih satu keluarga sama ketimun tapi rasanya sedikit berbeda ya. Pasti enak, coba saja.”
Aku selalu berpikir bahwa tidka ada yang mengalahkan makana-makanan Indonesia, namun setelah mencoba spaghetti ini mataku seakan dibuka tentang bagaimana luasnya dunia ini. Banyak makanan-makananluar yang terasa sangat enak dan cocok juga dengan lidahku. Rasanya ternyata tidak hanya hambar atau creamy saja seperti kata banyak orang.
Ryuzaki tersenyum melihatku yang begitu lahap menikmati makananku. Tanpa kuduga ia menggunakan jempolnya untuk membersihkan sesuatu diujung bibirku. Iya aku tahu, ini benar-benar seperti adegan dalam film-film romantis yang kutonton di TV dan kini aku tidak mempercayai hal itu terjadi padaku. Dengan cepat kuambil serbet dipangkuanku dan mengelap mulutku. Aku tidak siap dengan semua hal mengejutkan yang dilakukan oleh pria ini padaku. Benar-benar belum siap.
“Kau lucu sekali.” Senyum Ryuzaki mengembang saat melihatku. Aku tidak tahu dimana letak lucunya yang aku lakukan.
“Lucu apanya?”
“Maksud saya kamu manis. Bagaimana jelaskannya ya. Kamu terlihat lucu dan manis. Seperti itu.” Ucap Ryuzaki.
“Oh…”
“Ini pujian ya, bukaan hinaan.” Sambung Ryuzaku, mungkin ia menyadari bahwa aku masih bingung dengan uapannya.
“Terima kasih.” balasku lalu menunduk menatap sisa makananku. Aku takut wajahku akan memerah disaat-saat seperti ini.
“Hi Ryuzaki…” aku mendengar suara wanita yang tiba-tiba memanggil Ryuzaki. Segera kutoleh kearahnya dan untuk beberapa detik aku begitu terpesona melihat dua orang wanita yang terlihat begitu cantik. Salah seorang berambut hitam pendek sebahu dan seorang yang lainnya lagi menguncir rambut panjang hitamnya tinggi. Mereka berdua mengenakan pakaian-pakaian yang indah, terusan berwarna biru dongker yang satunya lagi menggunakan tengtop dengan rok pendek diatas lutut, cukup minim untukku.
“Oh hai…” balas Ryuzaki, wajahnya terlihat sedikit bingung.
“Kenapa? Kau mengingatku kan?” tanya wanita berambut pendek sebahu. Kuperhatikan jemarinya begitu lentik dengan indah. Kutek warna merah maron menghiasi jari-jari tangannya. Kuperhatikan kuku tanganku yang sangat pendek terpotong rapi.
“Ehm… Kita pernah bertemu?” tanya Ryuzaki kembali.
Kedua wanita itu lalu duduk dimeja disebelah kami, hanya berjarak 3 langkah dari kami dibatasi lorong untuk jalan. “ Apa karena aku memotong rambutku, kau jadi tidak mengingatku?” tanya wanita rambut pendek itu lagi.
“Kita sempat bertemu di club malam dekat pantai Kuta. Kau ingat?”
“Ehm…” Ryuzaki masih terlihat berpikir.
“Ah, aku tidak menduga kau akan secepat itu melupakanku. Kita menghabiskan waktu yang cukup panjang malam itu.” kuperhatikan wabita itu mengedipkan salah satu matanya.
“Ya Tuhan, haruskah aku makan saja dan mengabaikan pembicaraan mereka? Wanita itu bahkan tidak sedikitpun menganggapku ada.”
“Oke, mungkin karena rambutku yang kuubah ya jadi kau lupa padaku. Namaku Cynthia. Kau sempat meminta nomorku malam itu.” Gadis bernama Cynthia itu bangkit berdiri dan berdiri disebelah Ryuzaki dan dengan santainya ia mengusap lembut bahu Ryuzaki. Inginku pura-pura buta saja saat ini daripada melihat hal-hal seperti ini.
“Kau ingatkan?” tangan Cynthia masih dipundak Ryuzaki.
“Ahhh, iya-iya saya ingat. Malam itu kau mabukkan. Maaf saya tidak menandaimu.” jawab Ryuzaki.
“It's okay, aku memang sedikit mabuk malam itu. Aku sangat menanti telepon darimu. Kupikir kau akan menelponku setelah meminta nomorku.” suara wanit itu kini terdengar berubah, mungkin itu yang disebut orang dengan nada manja.
“Saya cukup sibuk, jadi tidak sempat menghubungimu.” Ryuzki menurunkan tangan Cynthia dari bahunya dengan berlahan lalu menatapku. Aku tak memberikan ekspresi apapun saat tingkat kedua orang itu, aku mencoba setenang mungkin, walau isi otakku terus menerus berbicara ketidaknyamananku.
“Oh iya, kenalkan ini Nirmala.” Ryuzaki tiba-tiba malah mengenalkanku pada Cynthia.
Wanita seksi itu menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala dua kali lalu mengulurkan tangannya. “Cynthia…” ucapnya dengan tegas.
“Nirmala.” balasku sesopan mungkin. Tangan kami hanya bersentuhan sedikit, lalu Cynthia segera menariknya seakan tak ingin bersentuhan lama denganku.
“Dia siapa? Adik temanmu?” Cynthia segera memalingkan wajahnya dariku dan fokus pada Ryuzaki lagi.
“Adik? Apa aku terlihat seperti anak-anak hingga ia bisa menyebutku adiknya Ryuzaki.” segera kuperhatikan pakaian yang kukenakan saat ini. Kaos putih tampa motif dan celana jeans hitam yang biasa kugunakan sehari-hari. Aku tahu dan sadar kalau dibandingkan kedua wanita ini, penampilanku memang seperti anak-anak sedangkan mereka seperti wanita dewasa yang begitu glamour dan seksi.