“Ada lagi yang bisa aku bantu? Apa kau sudah makan?” tanya Elena sambil menoleh ke sampingnya.
“Aku baru saja mendarat. Aku belum makan,” jawab Nicholas dengan sorot mata teduhnya, ia sebenarnya tak ingin mencari perhatian tapi melihat tatapan Elena yang tidak bersahabat membuatnya tertantang untuk melihat reaksi selanjutnya.
“Kau makan apa? Kau sangat paham bahasaku. Apakah kau sudah lama di Indonesia?"
Tanpa menoleh Elena masih mempercepat langkahnya menuju kamar untuk Eugene, suara gemeletuk hellsnya memenuhi lorong.
"Aku sudah sering ke Indonesia, selama di Kanada pun temanku banyak orang Indonesia."
Elena mengangguk. "Ok. Jadi kau mau makan apa?" tanya Elena lagi. Perempuan itu mencoba menatap mata teduh itu. Jantungnya mulai berdetak tak karuan, bergegas ia kembali menundukkan pandangannya.
"Terserah kau saja," jawab Nicholas mantap.
"Baiklah," ujar Elena.
Tiba-tiba saja muncul di benak Elena untuk mengerjai Nicholas . Sesuai jadwal hari ini ia akan makan malam di sebuah restoran bintang lima di salah satu hotel milik Galih.
"Tapi ...."
Elena berhenti mendadak dan membalikkan tubuhnya. Tapi sayang hak sepatu hell nya tiba-tiba oleng dan dia tergelincir.
Ia hampir terjatuh, untungnya Nicholas dengan cepat menangkap tubuh mungil itu. Hingga justru siku Eugene lah yang memar demi melindungi Elena agar tidak terjatuh ke lantai
“I’m so sorry!”
"Are you okey? tanya Nicholas .
Elena meringis, dia berusaha bangkit. Posisinya sangat tidak menguntungkan sekarang. Iya mendarat sukses di d**a bidang Nicholas .
"Kamu memar !" seru Elena yang langsung panik ketika melihat siku Nicholas membiru.
"I'm Fine. Ini tak seberapa. Bagaimana kakimu?
Elena panik, ia berdiri dengan terseok. Tetapi detik itu juga rok yang di pakainya malah robek setinggi pahanya.
Braaaak!!
"Siaaaaaal," umpat perempuan itu geram.
"No... Problem. Aku tidak melihatnya, kok!" seru Nicholas seraya berdiri.
"Liat apa hah? Duh ... Gimana nih."
"Aku jadi sial gara-gara kamu!"
Disaat Elena bingung, tiba- tiba di luar dugaan, Nicholas justru melepas jasnya lalu mengikatkan kepinggang perempuan itu.
Aroma maskulin langsung memenuhi rongga hidung Elena. Mereka hampir tak berjarak, sesaat kemudian Elena tersadar.
"Oh My God, apa kau sudah gila?"
Perempuan itu mengumpat dalam hati. Dia buru-buru menarik badannya, dan mundur serta merta merasakan panas di wajah karena kikuk dan malu.
“It’s okay, Elena. Kau mengagetkanku. Memangnya kita mau makan di mana?”
Nicholas sedikit meringis, lukanya mulai berasa sekarang.
"Apa kita perlu ke dokter?"
"No, Im fine. Jadi kita mau makan di mana?" ulang Nicholas . Mata teduhnya berhasil membuat Elena tak lagi kaku.
“Kita makan di warteg depan kantor saja."
“Tentu saja, aku tidak keberatan.”
Elena beranggapan dengan makan di warteg mungkin Nicholas akan merasa menyesal untuk makan siang lagi dengannya. Tentu saja warteg itu sudah pasti pengap, tidak ada pendingin ruangan, menu makanannya pun pasti merakyat. Lalu bagaimana, kalau dia komplain ke Galih ? Ah, itu urusan nanti" ujarnya dalam hati
***
Setelah berganti rok dan sepatu flat, Elena menunggu di loby, beberapa menit kemudian Nicholas datang dengan memakai celana se lutut dan kaos oblong.
"Follow me," pinta Elena.
"Bagaimana kakimu?"
"Lupakan, kau tiada hak menanyakan itu," jawab Elena sengit.
Nicholas tersenyum tipis. Menurutnya baru kali ini ada wanita yang menolak perhatiannya.
“WOW!"
“It’s awesome!" seru Nicholas ketika sampai di pintu warung bertenda biru itu.
Matanya meneliti ke seluruh ruangan. Banyak kerupuk bergelantungan. Suara televisi yang bercampur dengan suara peralatan masak. Ditambah suara ibu-ibu yang sedang merumpi.
WHAT? Elena terbelalak keheranan, Keren? Kerenn dari mana ya?
Gadis itu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut warung, tiada meja, tiada kursi. Mereka makan duduk bersila lesehan. Warung itu menyediakan masakan yang terlihat sangat enak. Ada nasi kuning, soto dan ayam geprek dan lain-lainnya.
Elena mengajak Nicholas untuk memilih menu di kaca. Ia terlihat bingung karena menu ini baru saja di kenalnya. Dulu ketika dia ke Indonesia, hanya memakan nasi goreng, aneka lalapan dan sate. Tapi tempat ini sangat berbeda dan membuat dia bingung.
“Jadi? Mau pesan apa?”
“Haha, hari ini aku pesan sama seperti yang kau pesan saja. Semua makanan ini terlihat menggiurkan," ujar Nicholas lalu duduk bersila di tempat lesehan.
Gila! Elena memejamkan mata dengan gigi gemeletuk. Nicholas terlihat senang dan bersemangat. Ini benar-benar di luar rencana.
"Mas Bule mau makan apa nih?" ujar si pemilik warung.
"Terserah mbak Elena saja, saya nurut," ujar Nicholas seraya mengangguk.
Tak lama kemudian si pemilik warung datang dengan 2 buah piring di tangan kanan dan kirinya.
“Apa ini ?” Nicholas menunjuk piring di hadapannya.
“Ini ... Nasi rames, Nasi dengan di bubuhi semur kentang, telor bayam dadar dan sedikit sambal." Elena menunjuk satu per satu makanan yang ada di depannya.
“Hah? Tapi … ini semua karbo ...!”
Elena setengah mati menahan tawa melihat ekspresi muka Nicholas.
“Katanya pesan menu yang sama, Nih?”
“Iya … tapi aku mau sarapan yang ringan saja, yang ada sayurnya saja juga boleh,” ujar Nicholas.
“Jangan khawatir, ini dia! Aku sudah pesan ayam geprek sambel ijo, tadi. See? Banyak sayuran nih. Ada terong goreng, tempe tahu dan petai, kemangi.”
Elena menyodorkan seporsi ayam geprek lengkap dengan nasinya yang baru saja datang diantarkan pelayan. Nicholas mengambil sendok lalu mencoba memotong tempe dengan garpunya.
Berbeda dengan Elena, dia mengambil air kobokan dan makan menggunakan tangan.
Nicholas pun melepaskan sendoknya lalu mencoba makan pakai tangan dan ternyata nikmat sekali.
Nicholas merasa telinganya berdenging ketika mengecap pedasnya sambal geprek hijau itu. Tetapi ia tetap menelannya agar tak terlihat lemah di depan Elena.
"Mengapa pedas sekali," ujar Nicholas sembari meneguk es jeruknya.
“Iya, kalau gak pake sambal namanya ayam tepung, ha ... ha ...ha.”
Elena tertawa kecil mencoba berkelakar tetapi kemudian tersadar, Nicholas tidak memperhatikannya.
Nicholas terlalu fokus dengan Es jeruknya.
“Kenapa? Kamu tidak suka? Ya sudah ganti yang lain saja," ujar Elena. Padahal dalam hatinya dia tertawa sepuasnya.
“Mm...tak apa, aku akan menghabiskannya," ujar Nicholas .
Elena melihat keragu-raguan di wajah Nicholas tetapi dia sedang tidak ingin ambil pusing. Terserah dia mau menghabiskan atau membuangnya.
Nicholas menghabiskan makannya dengan mata berair. Elena tak tahan untuk menertawakannya.
Nicholas bolak-balik meneguk air putih, dia tampak kepedasan dan gerah. Sapu tangannya semakin basah setiap kali ia mengusap peluh di wajah.
“Kau dapat kelasku kapan?” tanya Nicholas .
“Rabu dan kamis pukul tiga sore,” jawab Nicholas singkat.
“Apakah aku tetap bisa minta bantuanmu di luar hari-hari itu?”
Elena ingin sekali menjawab tidak, tetapi ia bisa kena pecat. Lalu bagaimana dia akan mengirimi uang ke orang tuanya? membayar Kosnya? Ambisinya ingin ke luar negeri?
“Oke, tapi hanya sebatas pekerjaan.”
Nicholas tertawa memperlihatkan senyumnya yang menawan. Ini gila! Mengapa dia menjadi sesempurna ini! Hush... hush.. Buatlah dia cacat di mataku, sisipkan jerawat di hidungnya yang mancung itu ,Tuhan! Elena memohon dalam hati.
“Memangnya kau pikir aku mau minta tolong apa?”
Elena membisu, awas saja kalau kau mencoba menebar pesona. Dia merutuk lagi-lagi hanya dalam hati.
" Nanti ku beri tau," kata Nicholas .
“Oya, kamu akan diantar pulang dan dijemput pagi-pagi setiap hari oleh Pak Parman supir kantor. Jangan sampai terlambat jika tidak ingin terjebak macet sepanjang jalan.”
“Oke, jangan khawatir. Aku hampir tidak pernah terlambat.”
“Baguslah.”
Setelah makan siang, mereka berpisah di depan kantor Elena. Perempuan itu harus kembali bekerja menjadi sekretaris Galih.
"Aku lewat tangga saja," ujar Elena menghindari Nicholas dan ia pun berlari kecil menuju tangga.
Nicholas menaiki lift dan berhenti di lantai lima untuk mulai mengisi kelas.
Sementara Elena lanjut ke ruang kerjanya di lantai tiga.
Keduanya tidak bertemu lagi sampai pulang kantor. Ketika Elena sudah sampai kost dan siap untuk memejamkan mata. Tiba-tiba sebuah panggilan ke ponsel mungilnya. Benda bergambar apel di gigit itu bergetar dan berkedip.
"Halo Feb, Kamu dah tidur?"
"I... iya, Pak. Ada apa?" Elena pura-pura bersuara seolah sedang terjaga dari tidurnya.
"Tadi siang kamu ajak Nicholas makan apa?"
Deg! Elena melompat dari selimutnya lalu mondar-mandir tak karuan harus menjawab apa.
"Dia bilang pengen makan sayur, Pak. Jadi aku ajak aja ke warteg depan kantor," jawab Elena.
"Why Elena? Aku kan menyuruhmu makan di resto Hotel. Setiap tamu di jamu dengan makanan mewah di sana. Aku malu Elena," ujar Galih mulai terdengar marah, nadanya meninggi kentara dengan hatinya yang sedang kecewa.
"Maaf, Bos! Aku gak bermaksud gitu. Aku hanya berniat memperkenalkan makanan nusantara ke padanya. Kalau makan salad, Spaghetti itu udah biasa," sahut Elena membela diri.
"Oh... oke. Bagus... bagus banget itu. Terus kenapa harus kasih Ayam geprek?Kan bisa kasih soto betawi, nasi pecel atau apapun?"
"Ya Elah bos. Di warung depan kan yang hits banget itu ya Ayam geprek. Jadi aku pesankan itu," jawab Elena santai.
"Tapi itulah yang menjadi penyebab dia di opname sekarang," teriak Galih dengan suara lantang, hingga Elena harus menjauhkan ponsel pada telinganya.
"Woah... Bule lemah!" sahut Elena.
"Dia diare gara-gara gak bisa makan pedas! Ya Tuhan Elena!"
Tut! Elena mematikan sambungan teleponnya dan bergegas menelpon Pa Parman yang sedari tadi bolak-balik mengantar Nicholas.
"Ya Tuhaaaan! Angkat dong, angkat dong," ujar Elena. Kakinya serasa lunglai mengetahui Nicholas yang di opname gegara ulahnya. Ia tak tau harus bagaimana sekarang.