Pulang sekolah.
Kai berjalan keluar dari kelasnya bersama Anni di sampingnya. Bel Sekolah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Dan saat ini Kai mendengarkan celotehan-celotehan yang keluar dari mulut gadis berkaca mata itu. Kai berharap, langkah mereka segera sampai di parkiran Sekolah. Tempat di mana Aska memarkirkan mobilnya.
"Jadi, tuh aku nggak tega banget. Jadinya aku bantuin tuh cowok. Tapi, sumpah sih ganteng banget. Dia kayanya siswa baru makannya nggak tau letak ruang BK." jelas Anni sepanjang jalan mereka menuju parkiran Sekolah.
"Kai..ih Kai. Kamu dengerin aku nggak sih?" tanya Anni kesal saat memperhatikan Kai yang sibuk dengan lamunannya.
Kai terseret kembali dan tersadar dari lamunannya. Matanya mengerjab beberapa kali sebelum akhirnya menoleh ke arah Anni dengan wajah kesalnya.
"Kenapa?"
"Ish! Tuh kan kamu nggak dengerin aku. Aku lagi cerita soal cowok itu,"
"Aku denger kok,"
"Apanya denger? Kamu ngelamun tau." Kesal Anni sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Yaudah kamu ceritain lagi besok ya. Sekarang aku mau jalan ke parkiran. Bay Anni.." kata Kai mempercepat langkahnya ke arah parkiran sambil melambaikan tangan ke arah Anni.
Bukannya tidak mau memperpanjang percakapan mereka. Hanya saja, Kai merasa kurang enak badan dan ingin segera pulang.
Gadis berambut sebahu itu berjalan sendiri dengan langkah pasti ke arah parkiran mobil. Menungu Aska di sebelah mobilnya. Seperti biasa, cowok itu sudah menunggunya bersama kedua temannya yang menyadari kedatangan Kai.
"Eh Kaira," kata salah seorang teman Aska yang tadi siang berusaha menggodanya.
Kai membalas sapaan itu dengan senyum singkat di wajahnya.
Mata indah itu melirik ke arah Aska yang menatapnya dengan tatapan malas.
"Sendirian aja? Mau pulang ya?" tanya cowok itu lagi dengan nada yang berbeda dari tadi saat mereka di kantin.
Kai menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Lebih tepatnya, malas menanggapi ucapan dua cowok di sebrang sana yang berusaha menggodanya.
"Gue anterin yuk," goda salah seorang cowok yang berada di antara mereka. Cowok itu terlihat lebih keren di banding cowok yang menyapanya. Cowok itu duduk di atas motor ninja hitam yang bertengger manis di parkiran.
Kai menggelengkan kepalanya tanpa niat menjawab pertanyaan itu dengan suara.
"Kenalan dulu, nama gue Kikin. Dan Ini adek saye Ipin," kata Kikin dengan cengengesan di wajahnya.
"Ini bukan tentang Mei-mei dan Mail, nyet! Ini tentang Kaira.." kata Rayno sambil memukul bahu Kikin kesal.
"Sakit b**o!"
"Ya lo kenapa malah promosi kartun sih?" kesal Rayno lagi.
"Ya terus maksut lo gue harus promosi sinetron Azab gitu?"
Rayno menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan sahabatnya yang melenceng dari topik pembicaraan.
Kai memutar bola matanya. Kepalanya terasa sakit. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin. Kai tidak tau apa yang terjadi, tapi mual melanda isi perutnya. Kai mulai tidak kuat menahan berat tubuhnya sendiri.
"Ya kenalan yang bener dong lo,"
"Oke oke. Gue Kikin, dan yang jelek ini Rayno. Panggil aja dia nono..atau nano-nano," kata Kikin semakin membuat Rayno kesal. Sedangkan Aska mendengus dengan wajah yang melihat ka arah lain.
"Nono pala lo. Nggak, panggil gue Ray.." kata cowok bernama Rayno dengan percaya diri.
"Halah sok di bagus bagusin namanya,"
"Ya emang nama gue itu, Kin." Protes Rayno.
"Nama lo kan yang asli kunyuk. Kenapa jadi Rayno?"
"Kalo gue kunyuk lo nyamuk!!" tegas Rayno sekali lagi.
"Oke gue nyamuk, lo kunyuk, Aska munyuk."
"Kok gue?" tanya Aska tak terima karena namanya di bawa bawa.
"Iya, lo kan suka nggak mandi.." kekeh Kikin heboh sendiri yang membuat kedua temannya memutar bola mata malas.
"Garing banget sih lo. Kurang makan? Atau kurang cewek? Makannya punya komuk jangan pas-pasan biar banyak yang suka," ledek Rayno penuh percaya diri menunjukan ketampanannya.
"Enak aja muka gue pas- pasan. Lo kira muka gue sama kayak harga baju di pasar? Bandrolan harga pas? Gini gini harga gue mahal,"
"Mahal apanya. Sama gas LPG tiga kiloan masih mahal gas. Lagi pula bau gas lebih seger di banding bau mulut lo,"
Kikin mendengus kesal. Sedangkan Rayno tertawa renyah merasa puas dengan ucapannya yang memberikan reaksi kesal pada temannya.
"Udah, lo berdua ribut mulu deh.." kata Aska berusaha menghentikan perdebatan receh yang membuat kepalanya berdenyut.
"Oh iye, Aska lo nggak mau kenalan? Cakep nih si Kaira? atau lo udah kenal dia lebih dulu? Kebangetan lo nggak ngenalin sama kita berdua?!" goda Kikin semakin membuat Aska mendengus kesal.
"Gimana sih Kin? Mereka udah kenal sebelum kita tau soal Kaira,"
"Eh iya ya. Aska mah kalo cakep nggak mau bagi bagi,"
"Kalo sodara yang nggak gitu lah, Ka. Setidaknya kalo dia sepupu lo, lo bisa bersikap baik sama dia. Contohnya mempertemukan Kai dengan jodohnya, yaitu gue." jelas Rayno yang di angguki cepat oleh Kikin.
"Bay gue cabut dulu," kata Aska sambil beranjak dari hadapan dua temannya.
Kai berusaha kuat menahan berat tubuhnya sendiri saat tumpuan di kakinya melemas. Keringat bercucuran membasahi keningnya. Tangannya meremas dengan kuat ujung rok yang ia pakai.
"Lo nggak pulang sama boneka anabel kan, Ka?" teriak Kikin dari tempatnya.
"Diem lo!" bentak Aska sambil membuka pintu mobilnya di belakang kemudi.
Kai membuka pintu di sebelah Aska. Namun, sebuah tangan menahan niatnya untuk duduk di tempat itu.
"Ini tempat gue, lo di belakang.."
Kai sedikit terkejut dengan kedatangan cewek itu secara tiba-tiba. Tanpa mau berdebat, dan bicara banyak. Kai akhirnya membuka pintu mobil bagian belakang. Mendaratkan pantatnya agak kasar karena tidak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Aska melihat ke arah Rara yang sudah duduk di sampingnya. Dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, akhirnya cowok itu memasang sabuk pengaman untuknya.
Setelah benar-benar duduk dengan posisi nyaman, Kai juga menyandarkan punggung yang bersandar pada sisi kursi mobil. Tubuhnya melemas. Kemudian matanya terpejam.
"Aska, anterin aku sampai rumah ya.." pinta Rara saat Aska melajukan mobilnya meninggalkan halaman Sekolah.
Aska melirik ke arah sepion tengah mobilnya. Gadis itu terlihat sedang menutup matanya tanda tidur. Mungkin Kai lelah.
"Nggak bisa, Sorry.." jawab Aska menolak dengan halus.
"Why?" Tanya Rara tidak terima dengan jawaban Aska.
"Ada acara keluarga."
Rara terlihat menerima keputusan itu sambil menganggukan kepalanya paham.
Namun tiba- tiba di waktu berikutnya Aska tersentak kaget dengan pertanyaan Rara. Dengan cepat cowok itu merubah ekspresi wajahnya kembali datar.
"Boleh aku ikut ke rumah kamu? Aku pengen ketemu Mama kamu.."
"No," jawab Aska singkat. Dan itu sudah cukup mewakili semua penjelasan untuk Rara.
"Why? I can."
"No, you Can't. Ini keluargaku," jawab Aska mulai kesal dengan ucapan Rara yang memaksa.
"Kenapa aku nggak bisa? Dia aja bisa," lanjut Rara dengan mata yang melirik ke arah Kai yang tertidur di belakang mereka.
"Ya. Dia bisa. Karena dia keluargaku."
"Kenapa sih? Apa bedanya aku sama dia?" tanya Rara semakin membuat Aska geram.
Aska menginjak rem mobilnya secara mendadak. Mengejutkan Rara yang tampak sangat terkejut dengan ekspresi wajahnya.
"Kamu bisa nyetir nggak sih?!!"
Aska menggeram kesal. Tatapan matanya mungkin sangat mematikan saat seseorang menatapnya. Tatapan mata dingin dan menusuk, giginya menggertak dengan rahang mengetat. Tangannya menggenggam erat setir mobil hingga buku jarinya berwarna putih pucat. Aska menahan amarahnya dengan tatapan tertuju pada Rara yang balik melihatnya dengan tatapan menantang.
"Turun!"
Rara melihat ke arah Aska dengan tatapan tidak percaya.
"Nggak! Kamu apa- apaan sih?"
"Turun!"
"Nggak mau," jawab Rara sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Gue bilang. Turun!"
Aska tidak peduli dengan tatapan kecewa yang Rara tunjukan padanya. Aska tidak peduli dengan air mata yang entah dari mana mulai menggenang di kelopak mata gadis itu. Aska tidak peduli, dan dia benar- benar tidak peduli. Aska marah. Hanya itu yang ia rasakan saat ini. Entah karena apa, tapi dia merasa kesal dengan seorang gadis di sampingnya.
Tanpa sepatah kata apapun, Rara segera turun dari mobil Aska sambil membanting pintu mobil miliknya. Memejamkan matanya beberapa saat. Mengatur napasnya yang tadi mulai tidak teratur. Setelah merasa lebih tenang Aska kembali melajukan mobilnya.