Siapa Suruh Gak Pake Leging?

1418 Words
Regina, gadis sembilan belas tahun yang baru dua bulan bekerja sebagai admin itu, memang dikenal ceplas-ceplos dan berani bicara asal meskipun dengan karyawan yang lebih tua. Maklum, anak bos. Siapa yang berani protes? Gina sebetulnya gadis yang periang dan tidak malu untuk menyapa banyak orang. Namun sayang, dia sedikit keras kepala dan susah diatur. Boleh jadi hanya dia yang dipekerjakan oleh ayahnya sementara kakak-kakaknya, sibuk berbisnis dan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Meski bercandanya keterlaluan, aku sebetulnya tidak bisa marah dengan gadis itu. Karena bagaimana pun, Regina sudah aku anggap seperti adik. Adik yang suka traktir kakaknya kalau kehabisan duit. Setelah mendapat surat jalan dari Regina, aku pun bergegas menaikkan sekarung paket ke atas motor. Seluruh rekan sepertinya sudah lebih dahulu pergi ke rute pengantaran masing-masing, tinggal aku sendiri yang belum berangkat karena paling terakhir melakukan presensi. Plaaak! Baru saja aku menyalakan motor, seseorang dari belakang tiba-tiba menepuk bahuku keras. “Woy, Bang! Jam segini kok, belum jalan, telat, Lu?” tanya seseorang yang suaranya sangat kukenal. Siapa lagi kalau bukan Basuki, pemuda yang dijuluki bulldozer itu memang tidak pernah sadar kalau tepukan tangannya setara dengan hantaman paku bumi. Kalau tangan dia sudah mendarat, dijamin, besok badan salah urat. “Iya, gue telat. Emang kenapa?” Aku menoleh sambil meringis. “Lah ... telat berapa bulan, Bang?” tanyanya lagi sambil menahan tawa. “Kagak tau, belum periksa ke bidan.” Dan Basuki pun terbahak-bahak. Aku yang sudah standby di atas motor, segera melaju sebelum menjadi sasaran hantam Basuki untuk yang kedua kali. Gila! Baru ditepuk sekali saja, pundakku rasanya mau copot, apalagi dua kali? Karena belum sarapan, akhirnya aku memilih mampir dulu di AW, Aneka Warteg yang sudah menjadi tempat makan langgananku. Perut ini harus mendapat nutrisi lebih dahulu. Karena kalau tidak, paket-paket ini pasti akan salah tempat. Jika aku sebagai kurir, mengirim paket ke alamat yang salah. Itu akan menjadi masalah besar. Apalagi di zaman sekarang yang apa-apa serba viral. Aku takut masalah salah kirim akan dijadikan judul sinetron yang sedang viral di televisi, “Azab Kurir Yang Tidak Amanah Dalam Menjalankan Tugas, Jasadnya Tidak Sampai-sampai Ke Kuburan Karena Salah Alamat." Astagfirullah! Yaaa .... beginilah pekerjaanku setiap hari, mengukur satu sampai puluhan kilometer jalan demi mengantarkan paket-paket kepada pemiliknya. Dari melewati jalan yang lebar dan padat merayap, sampai ke jalan tikus yang tukang siomay atau tahu bulat pun, tidak bisa masuk. Kalau aku, masih bisa masuk karena punya orang dalam. Dari membelah aspal panas empat dimensi_alias berlubang, sampai menerjang aspal tak kasat mata yang dilapisi air 10-50 CM, sudah pernah kuarungi semua. Sebut saja banjir. Dari bertemu konsumen ramah yang tidak segan-segan memberi ongkos kirim tambahan, sampai bertemu konsumen abnormal yang pura-pura kesurupan karena tidak mampu bayar. Tolonglah, readers jangan meniru adegan tersebut, ya! Jika kalian tidak punya uang untuk bayar COD, bicarakan baik-baik pada kami. Nanti kami akan carikan solusi. Jangan kalian pura-pura kesurupan sampai makan rumput tetangga. Dikasihani enggak, mencret iya! Begitulah lika-liku pengalamanku selama bekerja. Aku yang diberi tugas mengantarkan kiriman, hanya bisa mengelus d**a ayam jika bertemu dengan costumer pengikut ajaran sesat seperti itu. Karena kalau mengelus d**a istri orang, itu hukumannya bisa berkali-kali lipat. Di tengah perjalananku mengantar barang, tiba-tiba saja aku mendapat sebuah pesan dari Pak Agus Soediono, si pemilik perusahaan jasa pengiriman yang rutin dalam dua kali seminggu datang ke outlet. Sebelum membuka isi pesannya, dadaku sudah bergemuruh lebih dulu. Aku takut terkena teguran karena pagi tadi terlambat datang. Namun, aku tidak lantas berpikir negatif terlebih dahulu. Mungkin saja, beliau hendak memberikan tugas tambahan kepadaku karena biasanya, beliau minta diantar bertemu client di hari minggu. Aku dan Pak Agus memang cukup dekat. Meskipun belum mendapat kesempatan naik jabatan selama 7 tahun bekerja, tetapi beliau amat menaruh kepercayaan besar terhadapku. Kurasa, itu sudah lebih dari cukup. Aku sedikit mengerti mengapa aku tidak pernah mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Di kota besar seperti ini, tidak mudah bagi seseorang mendapatkan pekerjaan, apalagi yang hanya lulusan sekolah menengah atas sepertiku. Setelah mengumpulkan keberanian, aku pun segera membaca pesannya. [Selamat pagi, Eki. Besok, jam 10 pagi, tolong kamu ke rumah saya.] Tidak menunggu waktu lama, aku pun segera membalas pesan Pak Agus dengan singkat. [Selamat pagi, Pak Agus. Siap, saya akan ke rumah besok.] Aku kembali menaruh ponsel ke dalam jaket dan melanjutkan misi hari ini. *** Malam harinya pada rute pengiriman terakhir, aku memutuskan untuk menepi di sebuah jembatan dekat kompleks perumahan yang tampak sepi. Aku memilih berhenti di sini karena lampu penerangan yang cukup meskipun banyak laron beterbangan di sekitar lampu. Aku sedikit kebingungan mencari di mana alamat penerima paket tersebut. Pasalnya, tidak ada nomor rumah, atau pun blok. Apa jangan-jangan orangnya tinggal di pos satpam? Ah, itu tidak mungkin! Tidak mau terlalu lama kebingungan, akhirnya kuputuskan untuk menelepon ke nomor yang tertera di kertas resi. Sayangnya sampai tiga kali panggilan, nomor tersebut tidak juga tersambung. Aku pun kembali memperhatikan layar ponsel yang masih terpasang foto Adelia di sana. Aku melihat tanda sinyal yang bergerak tidak stabil. “Asem bener sinyal. Gak tau orang lagi kebingungan, malah ngilang!” gerutuku, kesal. Di tengah rasa kesal dan lelah yang bergelayut minta digendong, tiba-tiba saja kedipan bintang berhasil menarik perhatianku Pemandangan langit malam hari ini sangatlah indah. Hingga tak sadar, mulut pun berucap menyuarakan isi hati yang tak kunjung terealisasi. “Tuhan, tolong kirimkan seorang wanita berparas cantik, putih, bersuara merdu, dan yang paling penting, berpenampilan sederhana. Aku lelah mencintai wanita yang punya standar tinggi sementara gajiku, masih di bawah standar. Jika suatu saat aku bertemu dengan wanita seperti yang kusebutkan tadi, aku berjanji akan segera menjadikannya istri," ucapku sembari memasukkan kembali paket terakhir ke dalam karung. Setelah menyuarakan itu, aku kembali menunduk sambil mengusap keringat di dahi. Sudah hampir pukul delapan malam, tetapi pekerjaanku sebagai kurir, belum juga selesai. Terlebih, di tempatku berhenti saat ini, sinyal mendadak hilang. Kalau saja aku tidak ingat kewajiban, pasti sudah aku bawa pulang paket ini biar penerimanya saja yang mengambil sendiri ke rumah. "Abang!" tiba-tiba saja terdengar suara lembut memanggilku dari arah belakang. Bulu kudukku langsung berdiri. Sebab sejak tadi, aku tidak melihat ada siapa pun yang lewat di sekitar jembatan ini. "Dipanggil Abang, kok, gak nengok? Memangnya mau dipanggil apa, Sayang? Hihihi ...." Mendengar lengkingan tawanya, sekujur tubuhku mendadak gemetar. Suara itu sangat mirip dengan suara hantu yang ada di film 'Beranak Dalam Karung'. "Oh Tuhan ... seandainya yang kualami ini hanyalah sebuah bab dalam novel horor, pasti segera aku skip dan langsung melompat ke ending," ucapku dalam hati. "Si-siapa kamu?" tanyaku tanpa menoleh. "Aku? Aku adalah seseorang yang kau sebut dalam doa, Bang. Wekawekaweka." Dia tertawa lagi. Mendengar tawanya yang kedua, dahiku lantas mengernyit. “Ini setan apa bukan? Kok, ketawanya mirip anak alay?” gumamku. Demi menuntaskan rasa ingin tahu, akhirnya kuberanikan diri untuk menoleh perlahan-lahan. “Astahfirulloh! Astagfirullah!” aku refleks menutup wajah dengan tangan, tidak berani melihatnya lagi. "Kenape, Bang? Kok, gak berani liat? Muka Aye serem, ye? Gakgakgak.” Suara tawanya terdengar makin aneh. Sial! Dia malah tanya kenapa. Bagaimana caraku menjelaskannya kalau begini? Aaargh! "Bukaan! I-itu, dasternya nyangkut di pohon," kataku sambil menunjuk dan mengintip sedikit. "Haaa?” Wajah wanita berbaju putih itu langsung berubah merah. Dua tangannya yang memiliki kuku panjang, langsung bertumpu di atas paha. Mungkin dia malu karena lupa pakai dalaman. Sejurus kemudian, terdengar suara seperti sesuatu terbang. Kuberanikan diri membuka mata lebar-lebar untuk memastikan makhluk itu masih ada atau tidak. Dan ternyata, kuntilanak itu sudah tidak terlihat lagi, mungkin dia langsung pergi ke kelurahan untuk mengurus surat pindah. “Lagian, siapa suruh kagak pake leging?” Aku menggeleng heran. Baru saja terbebas dari gangguan makhluk halus, tiba-tiba ponselku berdering keras. Bola mataku sontak berputar ke atas. “Pasti ini telepon dari Emak yang minta beliin obat asam urat. Aaargh!” Aku benar-benar sangat malas. "Halo, iya, Mak!" Kuangkat telepon cepat-cepat sebelum darah tinggi Emak kumat. "Ki, cepat, pulang!” Suara Emak terdengar nyaring di kuping. “Iya, Mak. Sebentar lagi kelar,” jawabku. “Buruan!” “Astagfirulloh, Mak. Paketnya belum dianter semua, sabar!” Aku mulai kesal. “Pokoknya buruan! Gak pake banyak alasan!” Suara Emak makin nyaring dan melengking. “Aduuuh, Mak! Emang ada apaan, sampe anaknya lagi kerja diburu-buru suruh pulang? Ada obralan panci?” Aku geregetan sampai mengacak-acak rambut. “Bukan, Ek. Ini, ada Bu Jenab di rumah." "Lah, terus kenapa? Bu Jenab nungguin Eki pulang? Kan, dia punya suami. Kenapa gak nungguin suaminya aja?" "Bukan gitu, Eki. Kata Bu Jenab, si Kemala hamil. Emang bener, kamu yang hamilin si Kemala?” “Haaa?” “Uhuuuk!” "Uuueeek!" Mulutku kemasukan laron.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD