Kelvin kembali terkesiap kena sindiran lagi dari Lotta, lantas menghela napas merasa si gadis berani menyudutkannya dengan sindiran.
“Hais! Oke, aku minta maaf kemarin kasar ke kamu, lantas meninggalkanmu begitu saja.”
“Sudah telat menyesal kemudian.”
“Lotta, please.”
“Anda tahu kah?” Lotta memandang Kelvin dengan kesal, “Saya bukan manusia yang gila dengar kata terima kasih, tetapi saat itu saya mencemaskan anda, makanya saya bertanya siapa nama anda. Lantas apa yang anda lakukan? Anda marah-marah ke saya. Sakit hati tauk anda begitu ke saya!”
“Kamu mencemaskanku?” Kelvin terkesiap mendengar pengakuan polos Lotta.
“Iyalah! Kalau tidak untuk apa saya menolong anda dari begal?”
Kelvin terkesiap lagi, lantas menghela napas, “Maafkan aku. Sungguh hari itu aku tidak bermaksud kasar ke kamu.”
“Sudah terlambat.”
“Tidak ada kata terlambat, Lotta!”
Dokter Samuel duduk di sisi lain Dellon, lantas mereka menyaksikan pertengkaran Kelvin dan Lotta sambil mereka-reka penyebab keduanya debat mulut karena apa.
“Pokoknya sudah terlambat!”
“Apa kamu menanti aku mencarimu?”
Lotta terkesiap mendengar pertanyaan Kelvin, lantas menggelengkan kepala,
“Bukan.”
“Lantas apa?”
“Saya kehilangan satu paket yang hendak saya antar gegara menolong anda.”
Kelvin tersentak kaget mendengar ini, lantas,
“Kok bisa? Apa para begal itu sempat membobol kontainer motor kamu?”
“Kok tahu saya pake motor?”
“Aku melihatnya setelah melihat seragam yang kamu pakai.” Kelvin memberi jawaban, tampak raut wajahnya penasaran sekaligus cemas, “Lotta, tolong dijawab, apa kontainer motor kamu dibobol para begal itu?”
“Aku tidak tahu dibobol siapa. Yang kutahu tutup kontainer itu dibuka dengan kunci motorku.”
“Astaga! Kamu kenapa slebor banget? Pasti pas menolongku tidak kamu cabut kunci motor dan menyimpan dalam saku celana panjangmu!”
“Mana aku terpikir itu! Yang ada dikepalaku menolongmu, karena aku melihat lenganmu kena tebas celurit. Kalau tidak segera dibantu, nyawamu melayang!”
Dokter Samuel dan Dellon mulai mengobrol pelan,
“Sepertinya Lotta menolong teman anda dari begal.”
“Sepertinya begitu. Lantas gegara itu, Lotta kehilangan satu paket dari kontainer motornya.”
“Kemudian teman anda mengabaikan pertolongan Lotta. Bikin Lotta kesal saat ini.”
“Betul sekali.”
Lantas kedua pria itu kembali menyimak kelanjutan pertengkaran Lotta dengan Kelvin.
“Jadi,” terdengar suara Kelvin, “Kamu menyesal menolongku karena membuatmu kehilangan satu paket, di mana kamu pasti diwajibkan mengganti paket itu?” pria itu mengambil kesimpulan dari semua perkataan Lotta dalam pertengkaran mereka ini.
“Aku menyesal mengapa slebor.” Sahut Lotta jujur, “Lantas melihatmu, aku teringat kesleboranku, itu bikin aku kesal.”
“Oke,” Kelvin paham jawaban yang diberikan Lotta, “Sekarang katakan ke aku, apa isi paket yang hilang itu?”
“Untuk apa anda tahu?”
“Katakan saja dulu.”
“Menurut atasanku adalah satu set perhiasan yang dipesan oleh nyonya Emma.”
“Apa perhiasan itu original atau imitasi?”
“Asli, karena nyonya Mirna atasanku bukan sekedar memintaku mengantar paket regular, tetapi mengantar paket perhiasan dari outletnya.”
“I see.” Kelvin paham, “Adakah dia mengatakan berapa harga perhiasan itu?”
“Kalau aku tanya, apa aku sanggup menggantinya? Aku hanya pengantar paket yang digaji tiga juta setiap bulan. Gajiku hanya mumpunin untuk biaya hidupku dan kakekku!”
Kelvin terkesiap mendengar ini, lantas menghela napas,
“Kalau begitu, ayo bawa aku menghadap atasanmu itu. Biar aku bantu kesulitanmu.”
“Untuk membalas pertolonganku kemarin ke kamu?”
“Lantas kamu ingin aku balas dengan apa?”
“Tidak dengan apa pun.”
“Lotta, kamu sudah bertaruh nyawa untuk aku, jadi biarkan aku membalasnya dengan membantu kesulitanmu itu.”
“Aku tidak mau itu!”
“Lantas mau kamu apa?”
“Kamu tahu kah, pertolongan kemarin tidak bisa dibalas dengan barang atau sesuatu. Aku pun tidak meminta balasan apa pun, karena menyadari menolongmu dari begal itu kewajiban sesama manusia!”
Kelvin tersentak kaget mendengar semua perkataan Lotta yang tidak terpikir sama sekali olehnya. Selama ini dia diajarkan William memberi balasan pertolongan dari orang dengan barang atau sesuatu hal seperti menolong kesulitan orang tersebut.
“Sudahlah.” Terdengar suara Lotta, “Terima kasih anda masih mengenali saya saat ini. Terima kasih anda ingat membalas pertolongan saya.” Dia mengucapkan terima kasih ke Kelvin, lantas berdiri, hendak meninggalkan sang dokter.
Si ganteng cepat meraih tangan gadis cantik ini.
“Anda?”
“Namaku Kelvin.” Kelvin memperkenalkan namanya, “Maaf kemarin aku tidak memperkenalkan namaku.”
“Kamu takut aku memerasmu setelah menolongmu jika aku tahu namamu?”
Kelvin terkesiap mendengar ini, lantas menghela napas,
“Mungkin.” Sahutnya segan mengatakan dia arogan karena malu dibantu perempuan menghadapi begal, “Maafin aku.”
“Tidak masalah. Anda kemarin dicegal begal, pasti akan bersikap lebih waspada.”
“Lotta bukan begitu.”
“Tuan Kelvin,” Lotta cepat menghentikan Kelvin berkata-kata sambil melepas tangan pria itu, “Maaf saya permisi dulu.” Ujarnya berpamitan.
“Kamu mau kembali ke tempat kerjamu? Aku antar ya?”
“Tidak perlu.”
“Lotta, kamu tu ngeselin banget sih.”
“Kalau begitu anda tidak usah perdulikan saya!” Lotta menjadi sewot, lantas main pergi begitu saja, tetapi berhenti sebelum mencapai pintu keluar, kemudian kembali ke tempat tadi, “Ayo tuan guru!” dia langsung menarik Dellon berdiri, tersadar tadi melupakan pria itu.
“Lantas tekwannya gimana?” tanya Dellon dengan polos menunjuk makanan di meja.
“Kita makan tekwan di tempat lain saja.”
“Oke lah. Aku bayar dulu ya makanan kita.”
“Orang itu saja yang bayar!” Lotta main menunjuk Kelvin yang mengamati Dellon dengan sorot mata menyelidik berbaur cemburu.
“Kok dia yang bayar?” Dellon melihat Kelvin yang ditunjuk Lotta.
“Pokoknya dia yang bayar karena sudah merusak acara maksi kita.” Lotta memberi jawaban lantas menarik Dellon ikut dia meninggalkan tempat ini.
Kelvin melihat ini menjadi gemas, lekas berdiri, lantas terbirit menyusul Lotta dan Dellon.
Dokter Samuel melongo melihat semua ini, lantas melihat ke meja, kemudian mengalihkan pandangan ke meja tempatnya dan Kelvin tadi, baru menghela napas,
“Apes gue!”
Sedangkan Lotta tersadar Kelvin mengejarnya, lekas dia membawa Dellon setengah berlari menuju elevator, lantas keduanya menuruni tangga berjalan dengan cepat.
“Lotta!” terdengar seruan Kelvin dengan lantang, “Lotta tunggu! Kita belum selesaikan masalah kemarin!” dia berusaha mengejar gadis penolongnya, “Lotta!” serunya menjadi gemas karena sang gadis bersama Dellon berlari menghindarinya dengan cepat, “Hais memang gadis pendekar ini, larinya seperti kelinci!” desaunya menilai kemampuan berlari si gadis sangat bagus.
Dia lantas mengeluarkan jurus berlari super cepat salah satu jurus kungfu yang dimilikinya. Sedari dia berusia 7 tahun, William mendatangkan khusus guru kungfu untuk mengajarinya seni bela diri bangsa Cina yang sangat melegenda di dunia ini. Dia mengikuti semua pelajaran kungfu dengan serius, lantas rajin melatihnya sendiri.
“Astaga!” terdengar jeritan kaget Lotta karena Kelvin berhasil menghadangnya dan Dellon.
“Hayo!” Kelvin tampak sedikit tersenyum kemenangan karena berhasil menghadang Lotta dan Dellon, “Mau lari dariku, hmm? Urusan kita belum selesai, Lotta.” Ujarnya sambil menyilangkan kedua tangan ke d**a lantas memandang si gadis dengan ekspresi serius.
“Hayah anda ini!” Lotta menjadi kesal dengan sikap sang dokter, “Saya kan sudah menerima ucapan terima kasih dari anda, juga sudah mengetahui nama anda, berarti urusan sudah selesai!”
“Ooo tidak bisa begitu, Lotta.” Kelvin menolak semua perkataan Lotta, “Kamu belum memberitahuku apa yang kamu inginkan untuk membalas pertolonganmu itu.”
“Hais anda ini,” Lotta menjadi gemas, ingin rasanya menonjok muka si dokter yang ternyata bukan hanya arogan tetapi pantang menyerah, “Kan sudah saya katakan, pertolongan saya itu tidak bisa dibalas dengan barang, atau melakukan sesuatu.”
“Bisa.”
“Bisa katamu?”
“Iya bisa, agar aku tidak terhutang budi terus ke kamu.”
“Ooo jadi anda membalas pertolongan saya demi tidak terhutang budi ke saya?”
Kelvin terkesiap mendengar pertanyaan ini, lantas sedikit menjitak keningnya sambil mengoceh pelan,
“Hais kenapa mulutku bilang itu, meski memang benar? Aku berharap membalas pertolongannya agar terbebas tidak memikirkan dia lagi.”
Dellon yang mengamati semua ini, lantas terlihat kebingungan harus bagaimana menengahi kedua manusia ini yang kembali bertengkar, mengundang banyak mata melihat ke mereka.
Kelvin pelan meraih tangan Lotta, digenggam lembut,
“Sudah jangan kita bertengkar lagi.” Sahut Kelvin meminta mereka berhenti bertengkar, “Sekarang ikut aku.”
“Ikut kemana?”
“Tuan,” Kelvin malah menegur Dellon, “Maaf, saya pinjam sebentar Lotta ya.” Dia minta izin untuk membawa Lotta ke Dellon, “Anda tenang saja, saya segera mengantar dia kembali ke anda.”
Dellon melongo mendengar ini, “Emm, silahkan kalau Lotta mau.”
“Terima kasih.” Kelvin cepat bersuara lagi sebelum Lotta memberi pernyataan setuju atau tidak ke Dellon, lantas dibawanya si gadis pergi.
“Kelvin!” Lotta menjadi kesal karena si dokter main membawanya pergi tanpa persetujuannya, “Lepas, Kelvin!” dia berusaha melepaskan jemarinya yang dirangkum jemari tangan sang dokter. “Astaga!” jeritnya pelan karena pria itu menghentikan mendadak langkah mereka, lantas menariknya agar mereka lebih dekat berhadapan, “Kelvin.”
“Terima kasih kamu memanggilku dengan Kelvin, tidak dengan anda atau tuan Kelvin.”
“Hais!” desis Lotta menjadi jengkel mendengar ini, “Anda ini sebenarnya mau apa sih dari saya? Saya kan sudah bilang tidak meminta anda membalas budi ke saya.”
“Aku terima itu kok.” Sahut Kelvin dengan ekspresi serius, “Sekarang aku mau membuat kamu senang.”
Lotta melongo mendengar ini diamati dengan serius si dokter, karena pertama kali mereka bertemu sikap sang dokter luar biasa arogan tidak mengganggap dirinya yang hanya pengantar paket.
“Aku mau membuatmu senang saat ini.” Kelvin mengulang kembali pernyataannya, “Ikhlas bukan demi membalas budi baikmu.” Imbuhnya.
“Apa yang mau kamu lakukan untuk membuatku senang saat ini?”
“Nanti kamu akan tahu kok.” Kelvin memasang senyum termanisnya untuk Lotta, lupa bahwa dirinya berwatak arogan, “Ayo kita jalan lagi.” Imbuhnya sambil sedikit menggoyangkan tangan si gadis yang masih dirangkum jemarinya.
“Iyalah, biar anda senang.” Lotta terpaksa mengalah, karena tingkah laku mereka sedari tadi menjadi sorotan para pengunjung di pusat perbelanjaan ini. “Lepasin dulu tanganku.” Imbuhnya berusaha melepaskan tangan Kelvin dari jemarinya, tetapi si dokter malah menariknya untuk melanjutkan perjalanan. ‘Hais ini orang aneh banget sih?’ desau hatinya terpaksa mengikuti kemana dibawa sang dokter, ‘Nyesel aku menolongnya kemarin.’
+++
Emma terkesiap saat William masuk ke dalam ruang kerjanya di Emalan Boutique, di mana tampak sorot mata kakak iparnya membuat dia bergidik, meski wajah sang kakak tampak tenang.
‘Astaga ada apa ini?’ desaunya mencoba menerka-nerka mengapa William datang menemuinya.
Selama ini sang kakak ipar jika datang dengan roman seperti ini biasanya ada hal sangat serius yang ingin disampaikan ke dia. Atau ada sesuatu kesalahan yang dibikinnya.
Emma segera berdiri dari kursinya, sedangkan Castelo melipir keluar dari ruangan sambil menutup rapat pintu.
“Kak Will.” Terdengar suara Emma menyapa si kakak ipar di mana sudah berada di depannya, lantas dia tersentak kaget saat pucuk dagunya dicengkram tangan sang kakak ipar, “Kak Will.” Dipandang pria itu dengan cemas.
“Harus berapa kali aku mengatakan ke kamu?” terdengar suara William yang bernada tenang tetapi membuat adik iparnya semakin tegang penuh kecemasan, “Berhenti ingin Lotta membalas kematian Arman, atau menggunakan anak itu untuk menekanku mengembalikan semua harta dan perusahaan Arman sekaligus memberikan Loani Company yang diinginkan Arman.”
Emma tersentak kaget mendengar ini, bagaimana bisa William mengetahui dia menyuruh Castelo mencari terus jejak Lotta kecil.
“Se, sebenarnya,” Emma memberanikan diri bicara sama sang kakak ipar, “Mengapa kakak begitu melindungi anak itu? Harusnya kakak singkirkan karena orang tua anak itu menewaskan Arman adik kandung kakak.”
“Kamu sudah tahu jawabannya karena setiap kamu menanyakan itu, aku memberi jawaban yang sama.” William menatap adik iparnya ini yang selalu menanyakan hal sama mengapa melindungi Lotta. “Anak itu tidak bersalah apa pun, karena saat tragedi terjadi baru berusia 2 tahun.”
“Meski begitu dia sebagai anak harus menanggung kesalahan orang tuanya.”
“Begitu kah? Lantas apa Kelvin harus menanggung kesalahan Arman dengan masuk penjara, lantas menyerahkan semua harta dan perusahaan Arman ke Lotta sebagai ganti rugi atas kematian orang tua Lotta?”
Emma tersentak kaget lagi mendengar pertanyaan-pertanyaan William, ditelan salivanya karena dia sebenarnya tahu yang bersalah adalah Arman, bukan Agung. Namun demi menjaga citra sang suami tetap baik, dilimpahkan kesalahan itu ke Agung. Kemudian dia sakit hati sebab William menyita semua harta dan perusahaan milik Arman sebagai hukuman ke Emma yang diketahui mendukung penuh rencana sang adik dalam tragedi tersebut.
Hukuman itu masih bagus daripada sang tuan besar menjebloskan adik iparnya ke penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana atas Agung dan Arini sekiranya pasangan itu menolak menyerahkan Loani Company ke Arman.
William lantas melepas kasar cengkramannya sehingga wajah si adik ipar terhempas ke bawah.
“Emma!” terdengar suaranya ke adik ipar yang mengangkat wajah lantas memandangnya dengan ketakutan, “Kalau kamu masih melakukan pencarian atas Lotta, maka aku tidak segan mengirim kamu ke meja eksekusi kepolisian agar menyusul Arman.” Ujarnya memberi ultimatum tegas ke si adik ini, “Ingat, kamu dan Arman menyusun rencana pembunuhan atas Agung dan Arini sekiranya mereka menolak menyerahkan Loani Company ke Arman. Merencanakan sudah masuk dalam tindakan kriminal untuk mengakhiri hidup seseorang, dan hukuman atas tindakan itu adalah eksekusi untuk ke alam abadi.”
Emma tersentak kaget mendengar ini, dipandang sang kakak ipar dengan gemetaran. Benarkah William tega melakukan itu?