Chapter XIV

1764 Words
    Bisa dibilang ini pertemuan pertama Acha dan Aika setelah setahun tidak bertemu. Mereka sesekali sering bertemu di acara-acara tertentu, tapi hanya sebentar untuk saling menyapa. Padahal mereka sahabat yang cukup dekat sebelum populer. Yah... Mereka berdua sama-sama sibuk. Yang satu sibuk pemotretan dan iklan, yang satunya lagi sibuk sinetron striping dan kuliah. Jadi, wajar saja mereka heboh begitu bertemu.     “Aku tuh kangen banget sama kamu Cha!” Aika menggoyang-goyangkan tangan Acha.     “Iya. Aku juga. Kita pada sibuk, sih. Mbak Kinan sama Sou-jisan* gimana kabarnya?” tanya Acha.     “Okaa-sama sama Otou-sama mah sehat terus. Mana ada mereka sakit? Lagian apaan sih, udah nenek-nenek gitu dipanggil Mbak!” sungut Aika membuat Acha terkekeh.     Mbak Kinan dan Sou-jisan, begitulah Acha memanggil orang tua Aika. Aika adalah gadis berdarah campuran. Ibunya dari Indonesia yang juga berdarah Pakistan dan Belanda, sedangkan ayahnya adalah orang Jepang. Karena itulah Aika memiliki visual yang tidak biasa sampai-sampai dia mendapat julukan ‘bidadari’.     “Betewe mereka nanyain kamu tau. Sampe-sampe Papi berantem sama anak buahnya gara-gara pengin ngirim mata-mata buat liatin kamu.” Aika bercerita.     “Mereka masih suka berantem aja.” Tanggap Acha.     “Ga tau, deh.” Kata Aika sambil menaikkan bahunya.     Obrolan mereka terpotong karena suara ketukan dan kehadiran delivery jajanan yang tadi Acha pesan.     “Permisi, saya mengantar pesanan atas nama Acha Juniatha. Apa betul ini ruangannya?” tanya petugas pengantaran itu.     “Betul!!” seru Aika dengan semangat.      Kini mereka terfokus pada makanan yang baru saja datang itu. Aika langsung menghampiri dan mengarahkan petugas itu ke meja untuk menaruh jajanan itu.     “Ya ampun, Acha repot-repot beliin. Makasih, ya!” Ucap Aika.     “Ini lo beliin buat kita, Cha?” tanya Juwono.     “Iya. Buka aja. Nanti dibagiin ke yang lainnya juga.” Jawab Acha.     Acha kini beralih ke petugas delivery itu.     “Mas, berhubung orang-orangnya belum pada dateng kami pesen buat yang ada dulu. Nanti bolak-balik gapapa kan?” tanya Acha.     “N...nggak papa, Kak. Itu sudah tugas saya. Ini menu minumannya kalau mau langsung pesan.” Jawabnya sambil menyerahkan buku menu pada Acha.     Petugas delivery itu nampak canggung karena berbicara dengan Acha. Sepertinya dia terpesona pada Acha yang lebih sering dilihatnya di televisi. Padahal sebagai karyawan cafe di gedung yang sering dikunjungi para artis, seharusnya dia sudah cukup kebal dengan aura mereka.     “Guys! Kalian pesen apa?” tawar Acha pada yang lain.     Petugas itu dengan sigap siap-siap mencatat pesanan di memonya.     “Iced Americano!” seru Juwono tanpa melihat menu, karena sudah biasa memesan di cafe bawah.     “Brown Sugar Milk Tea.” Kata Aika yang kini memegang menu itu.     “Aku idem Mas Juwono, Cha.” Kata Rake.     Lalu semua yang ada di sana satu persatu menyebutkan pesanan mereka. Ada sekitar dua puluh orang yang telah memesan. Petugas delivery itu beruntung karena sebagian memesan minuman yang sama, jadi catatannya tidak terlalu ribet.     “Baik. Nanti dibayar di belakang saja kalau sudah semuanya.” Kata petugas itu yang sepertinya sudah mulai santai.     “Ok. Makasih ya, Mas.” Ucap Acha.     “Sama-sama, Kak. Mohon ditunggu pesanannya. Mari...” Sahut petugas itu yang kemudian undur diri.     Tak lama kemudian, aktor dan aktris yang lainnya pun mulai berdatangan. Sepertinya jalanan cukup macet pagi ini, sampai-sampai mereka datang mepet sekali dengan jadwal yang dijanjikan. Tetapi, beruntung rapat bisa dimulai sesuai jadwal.     Kini mereka mulai membicarakan agenda hari ini. Misalnya rencana syuting, pemotretan untuk promosi, konferensi pers, dan diakhiri dengan script reading.     Suasana nampak seru saat pembacaan naskah berlangsung. Beberapa aktor mencoba membacakan naskah itu dengan berbagai gaya yang mereka rasa menarik. Ada pula yang mencoba gaya-gaya lucu serta menertawakan dialog dan monolog yang mereka pikir kocak dan aneh. Tetapi, acara tetap kondusif dan efektif. Suasana seperti itulah yang nantinya akan membuat mereka kompak kedepannya. *     Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Pertemuan mereka pun akhirnya berakhir dengan sukses. Para kru dan aktor yang satu persatu keluar dari ruangan. Aika mengaku masih ada jadwal setelah ini, lalu dengan terburu-buru dia pergi bersama managernya.     Acha dan Lina juga bersiap-siap pulang. Karena, setelah ini Acha harus melakukan pemotretan di kota sebelah. Begitu naskah Acha masuk ke dalam tas yang Lina bawa, mereka berdiri dan bersiap untuk keluar ruangan. Namun, saat Acha sudah berada di ambang pintu, tiba-tiba Juwono memanggilnya.     “Cha, bisa ngomong bentar gak?”     Acha menengok dan berkata, “Boleh.”     Kemudian, dia berpesan pada Lina, “Kamu ke bawah duluan aja, Lin. Bayarin minuman yang kurang tadi.”     “Ok.” Sahut Lina.     Begitu Lina berbalik, Acha kembali ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Juwono.     “Gimana, Mas?” tanya Acha.     Napas Juwono terhengus pelan. Pria yang agak tambun itu meletakkan kedua tangannya di atas meja. Jari-jari kedua tangannya ditautkan, lalu dia mulai berbicara.     “Gini, Cha. Ini soal gosip tadi pagi.” Katanya.     Acha mendengarkan dengan seksama apa yang akan Juwono katakan.     “Gue rasa lo tahu sendiri lah... gue gak terlalu suka kalo ada artis di sinetron gue yang kena gosip sebelum atau saat sinetron yang gue sutradarain tayang?” lanjut Juwono serius.     Kepala Acha mengangguk paham. Ini bukan pertama kalinya mereka bekerja sama. Acha paham betul bahwa Juwono adalah orang yang idealis dan perfeksionis.     “Tenang aja, Mas. Itu cuma salah sangka, kok. Aku sama anak bos itu gak ada apa-apa. Kemarin itu cuma kebetulan ketemu di mall. Eh, ternyata dia lagi inspeksi. Ada Ibunya juga kok.” Acha menjelaskan tanpa membeberkan kejadian sebenarnya. Dia tidak ingin Juwono tahu pekerjaan sampingannya.     “Oke, deh. Gue cuma mau ngingetin lo aja. Emang sih, kalo tiba-tiba ada gosip, sinetron kita bakal dapat exposure, tapi bakal lebih banyak yang nyinyirin. Gue males liatnya!” keluh Juwono.     Sekali lagi Acha mengangguk paham. Tentu saja dia tidak mau merepotkan temannya ini.  karena itu, kali ini Acha harus segera menyelesaikannya.     “Ya udah. Aku cabut dulu ya. Kasihan Lina nungguin.” Kata Acha sambil berdiri.     “Ok. Ati-ati. Bye!” balas Juwono yang juga ikut berdiri.     Dan mereka pun berpisah di sana. *     Jam pulang kantor tinggal dua puluh menit lagi. Hanya saja pekerjaan Dariel masih saja menumpuk. Sesekali dia melakukan peregangan agar ototnya tidak kaku. Seperti yang saat ini dia lakukan. Dia menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, lalu dilanjut dengan mengangkat tangannya dan menariknya ke belakang hingga bunyi ‘kretek’ terdengar.     Saat dia selesai peregangan terdengar ketukan pintu dari luar ruangan.     “Masuk!” perintahnya.     Lalu pintu terbuka dan Hans pun muncul dari sana. Pria kurus berpostur tegap itu mendekati meja Dariel, lalu mengeluarkan sebuah flash disk dari sakunya.     “Ini adalah informasi yang Anda minta. Dan sebelumnya saya mohon maaf.” Kata Hans.     Dahi Dariel berkerut.     “Sewaktu kami mencoba melacak pengirim berita gosip itu, kami memang berhasil mendapatkan lokasi pengirim berita. Tetapi, setelah kami kunjungi, ternyata itu adalah sebuah gudang kosong di area pesawahan. Kami... tidak berhasil bertemu langsung dengannya.” Lanjut Hans penuh penyesalan.     “Licin sekali dia. Apa ada hal lain?” tanggap Dariel.     “Kami hanya berhasil menghapus sumber artikel itu. Kami juga sudah menghubungi semua media masa untuk berhenti memberitakan hal itu dan mereka setuju.” Kata Hans.     “Bagus. Lanjutkan cari tahu siapa dalangnya. Takutnya dia bertingkah lagi. Apa ada lagi?” tanya Dariel.     “Tidak ada, Pak. Kalau begitu, apa boleh saya undur diri dulu untuk melanjutkan pekerjaan saya?” Hans meminta izin.     “Ya. Silakan.” Sahut Dariel.     “Baik, Pak. Terima kasih.” Ujar Hans. Setelah itu, dia keluar dari ruangan itu.     Sepeninggal Hans, Dariel membuka isi flash disk yang Hans berikan padanya tadi. Cukup banyak file di sana, dari halaman website sampai dokumen privat tentang Acha. Dibukanya salah satu file yang berisi rangkuman.     “Acha Juniatha. Nama asli Rasha Sapta Dewi Juniatha. Umur 25 tahun. Tanggal lahir 20 September. Seorang yatim piatu yang diadopsi oleh dr. Firza Juniatha dan dr. Ariana Sasmita saat berusia lima tahun...” Dariel membaca isi rangkuman itu.     “Dokter Firza... kayak pernah dengar di mana ya?” Dariel mengingat-ingat.     Dibacanya lagi kalimat demi kalimat dalam rangkuman itu dalam hati. Hingga akhirnya dia menemukan keterangan tentang dr. Firza Juniatha, ayah angkat dari Acha.     “Oh!? Dia dokter obsgyn yang dulu membantu operasi mama!” serunya.     Dia ingat setelah melihat daftar riwayat tempat praktik ayah Acha. Salah satunya adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan Abadi. Dulu, saat Dariel masih SD, mamanyanya mengalami keguguran. Padahal kandungannya sudah hampir delapan bulan. Terpaksa bayi di perut Sarah harus diangkat untuk menyelamatkan nyawa Sarah yang saat itu sedang sekarat.     “Ternyata dia cewek gila itu?” gumam Dariel.     Terbesit sebuah kenangan yang lain di kepala Dariel. Saat Sarah masih pemulihan setelah operasi, Dariel menangis sesenggukan sendirian di luar ruangan tempat mamanya istirahat. Lalu, seorang anak perempuan yang terlihat sedikit lebih tua dari Dariel menghampirinya. Anak perempuan itu mencoba membuatnya berhenti menangis dengan memberikannya permen cokelat.     Mereka mengobrol cukup lama. Dariel menceritakan bahwa dia telah kehilangan calon adiknya dan Ibunya sakit hingga belum juga bangun. Dan yang membuat Dariel tergelitik saat ini adalah kata-kata yang disampaikan anak perempuan itu.     “Ya udah. Aku jadi adikmu aja mulai sekarang.” Katanya.     “Lho, bukannya kamu umur sepuluh ya? Aku baru umur sembilan. Harusnya aku yang adik, dong! Kamu juga lebih tinggi dariku.” ujar Dariel.     Lalu anak perempuan itu menjawab, “Kata Papaku, anak cowok itu kebanyakan bakal lebih tinggi dari cewek. Badannya juga bisa lebih besar. Asalkan dia rajin olah raga dan makan.”     “Papaku jauh lebih tinggi dari Mamaku. Papamu gimana?” tanya anak perempuan itu.     “Hm... mama sedikit lebih tinggi sih kayaknya. Tapi badan papa lebih gede dari mama.” Jawab Dariel.     “Tuh, kan!” seru gadis kecil itu.     “Pokoknya mulai sekarang aku jadi adik kamu! Kamu gak boleh protes! Janji?” gadis kecil itu mengacungkan jari kelingkingnya.     Dengan enggan Dariel menjawab, “Oke...” dan jari kelingkin mereka pun bertaut.     Tak lama kemudian dokter Firza datang untuk visit pasien. Lalu gadis itu berlari menghampiri dokter itu sambil berteriak, “Papa! Aku dapet kakak, lho!”     Lalu tentu saja, sang dokter kandungan itu menghardik puterinya karena berteriak di rumah sakit. Dan hari-hari setelahnya, gadis itu sering mengunjungi rumah sakit untuk bertemu dengan Dariel sampai akhirnya Sarah sehat kembali dan dipulangkan.     Bibir Dariel tersungging mengingat kejadian itu. Lamunannya membawanya kembali ke masa-masa yang membuatnya cukup bersedih. Tetapi akhirnya, gadis itu berhasil mengurangi kesedihannya. Tidak disangka, akhirnya dia bertemu dengan gadis kecil itu lagi.     ‘Tok! Tok!’     Seseorang kembali mengetuk pintu ruangannya.     “Masuk!” perintah Dariel.     Begitu pintu terbuka, seorang perempuan muda menyumbulkan kepalanya. Sambil tersenyum, gadis itu menyapa, “Sayang!”     “Sayang!” Dariel balas menyapa gadis itu yang ternyata adalah Melati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD