"Untuk keperluanmu setelah ini, jangan pernah mengkhawatirkannya. Aku yang akan menanggungnya," ucap Heru sambil mengacak kepalaku lembut.
Aku menatapnya kemudian tersenyum dan mengangguk patuh. Padahal sebenarnya ... ingin sekali aku melarikan diri bersamanya. Meninggalkan kehidupan yang berhubungan dengan Anthony, bersamanya. Kemudian merajut mimpi-mimpi kehidupan yang selama semingggu ini sempat kami bicarakan bersama. Hidup seatap dengannya bahkan kami sudah merencanakan bahwa aku akan menjadi ibu dari anak-anak nya. Akan tetapi kini dia menolak untuk ku ajak melarikan diri bersama.
"Jangan terlalu kentara, aku yang membantumu lari. Karena kita juga harus memikirkan langkah selanjutnya. Percayalah! Kita akan bersama tapi tidak untuk saat ini. Bersabarlah, kita tidak boleh gegabah," ucapnya seolah mampu membaca kegalauan yang menderaku.
Sekali lagi kupandang manik matanya untuk mencari kejujuran. Namun aku tidak mampu menebak apa yang sesungguhnya menjadi rencana besarnya.
"Hahhh ...." Aku mendesah berat. Berharap ketakutan dan keraguanku bisa menghilang seiring dengan keluarnya nafas dari tarikan.
"Aku akan melindungimu," ucapnya sambil menggenggam tanganku yang sejak tadi terasa dingin dan gemetar. Kemudian dia mengecup keningku dengan lembut untuk meredakan kegelisahan yang dari tadi tidak mampu kusembunyikan.
"Cepatlah ganti bajumu! Kita tidak mempunyai banyak waktu. Aku tidak ingin tiba-tiba Anthony datang ke mari, dan menggagalkan rencana yang telah kita susun bersama," ujarnya sambil meletakkan bungkusan di pangkuanku. Setelah kubuka ternyata baju ganti yang hendak ku pakai untuk melarikan diri.
Dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tempat aku dirawat. Tak lupa ku angkat tinggi-tinggi tabung infuse yang masih melekat di tangan. Ketika selesei berganti baju, dengan terburu-buru aku keluar. Kuedarkan pandang keseluruh ruangan, namun tak kutemukan lagi hadir Heru di tempatnya dia berdiri tadi.
Dengan hati-hati kucabut jarum infuse yang masih melekat ditangan. Kemudian dengan perasaan kecewa Kulangkahkan kaki mengendap-endap menuju keluar dari rumah sakit. Kupakai baju gamis baru dan hijab lebar yang sengaja Heru siapkan untuk memudahkan penyamaran pelarian. Apalagi dipadu dengan niqop yang hanya memperlihatkan sepasang bola mataku. Tak banyak yang ku bawa, karena ketika aku masuk rumah sakit ini, sebelumnya tak ada sedikitpun rencana untuk melarikan diri.
Langkah demi langkah ketakutan menguasaiku saat keluar dari rumah sakit tempat dirawat. Sisa sakit di sekujur tubuh masih lekat aku rasa. Bahkan lebam di wajah masih sering terasa nyeri saat ku buat tersenyum atau tanpa sengaja tergesek niqop yang kupakai. Tertatih-tatih aku berusaha mencapai pintu utama rumah sakit. Perbuatan menegangkan itu memang belum pernah aku lakukan. Jangankan keluar jalan, di rumah saja, keluar gerbang tidak pernah aku lakukan jika tanpa didengani ibu mertua.
'Hhhh ... Ibu mertua' mengingat sebutan itu, seolah aku tak ingin sedetikpun berjumpa kembali dengannya. Dia seorang wanita yang sifat ke-ibuannya tak pernah aku rasakan selama hampir setahun ini kami tinggal bersama.
Perencanaan kabur ini memang sudah jauh-jauh hari sengaja kami rencanakan. Namun aku tidak menyangka jika akan secepat ini kesempatannya datang. Dan aku merasa ini rencana masih kurang matang karena terkesan mendadak. Namun aku tidak bisa melepaskan waktu berharga ini begitu saja. Karena belum tentu lain kali ada kesempatan ke-dua.
Di saat seluruh keluarga Anthony berangkat untuk menjalankan ibadah kepercayaan mereka. Kesempatan itu tidak ingin kami sia-siakan. Heru menyuruh Kang Maman untuk menjemputku di perempatan jalan dekat rumah sakit. Selepas itu, Lelaki yang baru dikenalkan Heru semalam akan membawaku entah ke mana. Karena susunan rencana selanjutnya hanya mereka berdua yang tahu.
Saat melewati gerbang rumah sakit reflek kakiku terhenti. Dari kejauhan ku melihat mobil Anthony menuju ke arah gerbang di mana aku sedang berdiri. Kaki serasa tidak menjejak tanah. Gemetar dan takut tidak bisa kusembunyikan begitu saja. Keringat dingin mengalir dengan deras di sekujur tubuh. Entah karena trauma dengan penyiksaan keji yang sering suamiku lakukan atau karena aku bingung mau sembunyi di mana, kaki ini benar-benar tidak mau diajak kompromi untuk menyingkir.
Mobil yang seharusnya dihindari malah sengaja aku hadang seolah memang sengaja aku menunggu kedatangannya. Tubuh ini berdiri mematung dan semakin gemetar saat mobil itu kian mendekat. Kesadaran itu baru pulih ketika mendengar bunyi klakson kencang dari mobil. Kugeser kaki dengan berat. Sempat terfikir, 'Bukankah pagi ini harusnya dia beribadah. Kenapa sepagi ini dia sudah ada di rumah sakit?'
"Mba ... jalan lebar di samping jangan berdiri di tengah jalan, nanti Mba celaka."
Aku menundukkan kepala dalam saat kaca mobil dibuka pelan. Terdengar suara khas suami yang selama ini jangankan suaranya, mendengar langkah kakinya saja mampu membuat tubuhku bergetar hebat sangking takutnya. Namun kali ini ada yang berbeda. Suara itu halus penuh perhatian.
"Maaf kalau suara klakson tadi mengagetkanmu. Soalnya dari tadi aku menunggu, tapi kamu sedikitpun tak menggeser langkah," ujar dia sambil memandang ke arahku dari atas sampai ke bawah.
Aku mengangguk sambil menyembunyikan senyum kecut, tak bisa kubayangkan dengan orang lain saja dia mampu bersikap hangat begini, namun kenapa tidak dengan istrinya. Coba kelakuan dia baik, siapa sih yang tidak ingin mempunyai suami setampan dan sekaya dia. Aku segera berlalu dari hadapannya karena tidak ingin membuat dia terlalu lama memandangku dengan seksama. Tak ingin lambat laun menyadari bahwa yang berdiri di depannya ini adalah istri dia.
Aku menghembuskan nafas lega ketika kaki sudah menjejak di jalan besar. Walau dengan gerakan perlahan akhirnya aku sampai di perempatan yang telah kami rencanakan. Di perempatan dekat rumah sakit kuedarkan pandangan mencari sosok lelaki yang semalam Heru perkenalkan untuk mengantarkan aku ke tempat tujuan.
Aku tersenyum lebar ketika melihat bayangan lelaki itu berdiri tegap tidak jauh dari sebuah pohon rindang di tepi jalan. Kulangkahkan kaki menuju ke arah dia berdiri dengan kebahagiaan membuncah. Kebebasan itu terpampang nyata di depan mata.
"Ya Rabb akhirnya kebebasan itu di depan mata," ucapku tak terasa sambil menitikkan air mata haru. Pandanganku semakin kabur karena air mata kebahagian tak kunjung surut. Kuhapus air mata dengan tisu yang sempat kubawa dari rumah sakit.
Aku berusaha melangkah lebar walau masih tertatih karena ingin segera mengikis jarak dengan Kang Maman yang sedang menunggu di seberang jalan. Namun langkahku terhenti. Sebuah tangan kekar tiba-tba menghentikan langkahku. Tangan itu kuat mencekal lenganku dari belakang. Kupandang dengan seksama tangan kekar siapa yang kini sedang ada di lenganku. Perlahan kutelusuri tangan kekar itu dengan pandangan menelisik. Dan aku hanya bisa terkejut ketika pandanganku jatuh di wajah manusia yang memiliki tangan kekar itu sebenarnya.
"Haaahhh ..."
Aku berteriak tertahan. Kakiku goyah. Dengan sempoyongan aku berusaha mencengkeram tangan itu untuk medapatkan dukungan supaya badanku tidak jatuh. Ku edarkan pandangan ke arah Kang Maman yang berada di jalan seberang. Namun sosok bayangan itu tak kulihat kembali berdiri di sana. Aku telah ditinggalkan.
Bersambung ...