APA SALAHKU

1003 Words
Part 6 Malam ini aku tidur kelewat larut. Ibu mertua kedatangan kedua saudara perempuannya. Dan tentu saja itu membuatku harus mendapat pekerjaan tambahan. Tidur setelah menunggu seluruh penghuni rumah masuk kamar. Karena semenjak ada menantu, mereka menyuruh Mbok Jum hanya datang ketika siang hari. Selepas Maghrib menjelang mereka menyuruh Mbok Jum pulang kerumahnya sendiri. Setelah membersihkan semua ruangan dan peralatan makan yang tadi mereka pakai, aku memastikan bahwa seluruh penghuni rumah terlena. Sehingga aku bisa memulai melaksanakan aktivitas rutin yang sering aku lakukan ketika malam menjelang dengan tiada rasa was-was. Hanya waktu sepertiga malam ini saja yang bisa dipergunakan untuk bertemu Sang Khaliq. Apalagi ketika posisi Anthony di peternakan desa sebelah, aku akan lebih leluasa lagi. Lebih memudahkan bermunajat dan mendekatkan diri kepada Sang Sutradara Hidup ketika para penghuni rumah sudah terbuai di alam mimpi. Semenjak masuk rumah ini gerak dan batas waktukupun selalu dipantau terkhusus oleh wanita yang sekarang ini harus dengan terpaksa kupanggil dengan sebutan ibu mertua. Dalam diam aku bersujud lama mengadukan seluruh deritaku kepada Sang Maha Penguasa Mutlak. bersimpuh dan meratap memohon perlindungan dari Yang Maha Pembolak-balik Hati. Perlindungan yang selalu aku nantikan namun tidak pernah aku dapat dari siapapun di rumah ini. Seringnya mengharap keajaiban yang sampai saat ini masih kuyakini akan segera datang, kadang membuatku selalu berhayal. Tak harus seorang pangeran berkuda putih yang dengan gagah berani menolong mengeluarkanku dari kungkungan para manusia yang tidak mempunyai hati. Intinya aku ingin bebas dari sini. Terlepas siapapun yang akan Allah utus buat menolongku. Aku tidak habis pikir kenapa dia menipu kami, bahkan seluruh keluarganya ikut andil dalam hal ini. Bahkan tidak pernah terbersit sedikitpun terbayang dalam angan akan mempunyai seorang suami seperti dia. Memang, tidak diragukan lagi kelebihan fisik yang Allah karuniakan buat dia, namun jika mental dan emosi dia suka tidak terkontrol siapa yang akan sanggup menjadi pendamping hidupnya. Sering kudengar sebuah ujaran bahwa suami adalah cerminan diri. Aku sadar memang mempunyai kekurangan diciptakan bukan sebagai wanita sampurna, tidak terlalu sholehah tidak juga baik. Namun aku juga bukan wanita jahat yang akan begitu tega bila membuat orang lain sengsara. "Jadi ... apakah karena kekurangan ini yang membuat Engkau memberikanku cobaan melalui suami seperti dia. Gustiii ... tunjukkanlah di mana salah dan dosaku, biar aku berusaha memperbaikinya." Tak terasa aku kembali meratap dengan pilu. Beban ini begitu berat, sehingga kadang membuat aku tak sanggup untuk mengangkatnya. Lelaki yang kuimpikan akan mampu melindungi ternyata menjadi orang pertama yang melukai. "Setiap manusia mempunyai sisi baik dan juga sisi buruk. Ampuni setiap dosa-dosa hamba. Berikan keajaibanMU, Ya Rabb. Ijinkanlah aku mengecap kebahagiaan di dunia ini walaupun hanya sementara." Tak kuasa menyimpan asa, akhirnya aku menangis menumpahkan segala rasa dengan keras. Tergugu pilu bahuku terguncang keras sarat dengan emosi. Aku sudah tak mampu lagi melewati semua ini, melewati beban yang kusandang sendiri. Tak ada tempatku buat meluahkan rasa. Jangankan dengan dunia luar, keluarga mertua telah memutus kontakku dengan orang tua sekalipun, sehingga semua benar-benar tidak tahu bagaimana keadaanku di sini. Gedoran pintu kamar membuat doa yang kupanjatkan menggantung seketika. Apalagi disertai suara Ibu mertua yang tiada henti meneriakkan namaku. Aku baru sadar, karena begitu emosi tangis itupun meledak tak terkendali. Dengan penuh ketakutan aku mengelap air mata yang sudah membasahi seluruh wajah. Cepat namun gemetar kusimpun mukena dan sajadah tempat bersimpuh tadi, akan sangat berakibat fatal jika mereka tahu semua ini masih tersimpan. Belum sempat aku menyembunyikan semua peralatan ibadah, dobrakan pintu menggema di kesunyian malam. Langkah-langkah pongah mengiringi repetan ibu mertua yang tiada henti. Ibu mertua mendekatiku diiringi kedua saudara perempuan yang semalam menginap di rumah mertua. Wajahku pias, kaget dengan kedatangan mereka, sama kagetnya dengan mereka ketika melihat mukena dalam pelukanku terlepas. "Kamu ijinkan menantumu melakukan kegiatan seperti ini di rumahmu?" ujar budhe sambil melihat ke arah ibu mertua. "Maaf, Mbak yu ini lepas dari kontrolanku." Dengan serta Merta ibu mertua menyahut sambil menunduk. Terlihat ketakutan dari segala geraknya. "Kamu mau melenceng dari kepercayaan leluhur kita? Sudah siap kamu dengan bala dan konsekuensi yang akan kamu tanggung?" "Dari kemaren sudah sering kubilang, jangan menikahkan Anthony dengan wanita ini. Namun kamu bersikeras, dan kalau hal ini terjadi apa yang akan kamu buat sebagai alasan" Ujar Sang Kakak masih dengan tatapan bengis yang menghujam. Aku sampat berpikir bagaimana dulu kehidupan dalam rumah nenek dan kakek Anthony jika mempunyai anak-anak sejahat dan sekasar mereka. "Maaf Mbak yu, kali ini yang terakhir, berikan aku kesempatan mendidiknya sekali lagi." Tergesa-gesa Ibu mertua segera menyahut seraya menyalangkan tatapannya ke arahku. Dan aku hanya mampu menunduk membalas tatapannya. Tak akan mampu kubayangkan apa yang akan dia perbuat selepas saudaranya pulang. Hanya kengerian yang ada dalam benak dan pikiranku. "Untung sempat aku mendengar suara tangisan dari dalam kamar wanita ini tadi Mbak yu Ratih, Kalo enggak, pelanggaran kepercayaan leluhur kita seperti ini nggak akan bakal ketahuan terjadi di rumah Mbak yu Ramly. Ceroboh banget kamu, Mba" ujar saudara satunya yang merupakan adik bungsu mereka. "Kamu ini pembangkang ya, kupikir hanya kabar yang nggak bener saja yang kudengar, ternyata memang kamu benar-benar pembangkang." Bu dhe berujar sambil mendekatiku. Aku beringsut mundur menjaga hal buruk yang akan terjadi. "Jangan Budhe, tolong ijinkan aku menyimpannya" ujarku memberanikan diri ketika melihat Budhe Ratih berjongkok mengambil sajadah dan mukena yang tadi lepas dari dekapanku. "Kamu pikir setelah melihat kejadian ini secara langsung, aku akan mempercayai ucapanmu, begitu saja? Sudah untung aku tidak lupa batasan bahwa kamu bukan hakku, kalau kamu itu menantuku, aku sendiri yang akan menindakmu." Budhe Ratih menjawab dengan tersenyum sinis. Aku menghentikan gerak bibirku yang akan membela diri ketika melihat tatapan tajam ibu mertua. Kalau tidak ingin mendapatkan masalah dengan ibu mertua, aku harus merelakan mukena itu dibawa Bu dhe Ratih. "Kamu urus tuh menantumu, jangan sampai membuat perubahan dalam keluarga besar kita. Kalau kamu nggak bisa menghandlenya, tanggung sendiri akibatnya." Bu dhe Ratih keluar kamar diiringi adik bungsunya. Sedangkan ibu mertua masih di kamar dan memandangku dengan tajam sambil menggeretakkan gigi kuat-kuat seolah ingin menelanku bulat-bulat. "Selepas ini, urusanmu denganku baru kita selesaikan. Tunggulah!" Sambil mengomel lirih tidak lama kemudian ibu mertua menyusul mereka yang sudah berada di luar kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD