“Bagaimana keadaannya, dok?” Lelaki dengan kacamata yang melorot di hidungnya itu menatap Nina dari atas sampai bawah. Lalu menatap kembali ke arah Rinaldy yang memainkan sebelah matanya. Namun Rinaldy buru-buru bersikap biasa saat Nina juga ikutan menatap ke arahnya. “Apa Anda…” “Mama, dia mama aku, dokter!” Bukan Nina yang menjawab. Tapi malah Abian, si kecil itu sama-sekali tidak mengantuk, padahal jam sudah menunjukkan tengah malam. Nina menghela nafas, ingin rasanya dia menyangkal semua itu. Tapi, tatapan memohon Abi membuatnya tidak bisa menolak. “Iya, dok. Saya…mama Abi!” ujar Nina sedikit lirih di akhirnya, dia tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya kali ini, “lalu, bagaimana keadaan Rinaldy, dok?” Lelaki tua itu mengangguk, dan tersenyum lebar. “Suami Anda mungkin butuh per

