“Tinggallah untuk sarapan, Abian pasti akan mogok makan lagi jika kau meninggalkannya!”
Nina memperhatikan Rinaldy yang mempersiapkan cukup banyak makanan di atas meja makan. Dia ragu, namun Abian lebih dulu datang dan menarik tangannya.
Suasana di meja makan terasa canggung. Selain Abian yang terus mengoceh, tidak ada percakapan kecuali ajakan untuk sarapan itu.
Hanya itu, dan Nina merasa sedikit tidak enak hati.
Sudah lama dia tidak menatap wajah Rinaldy seperti ini. Dulu…semua kenangan itu kembali berputar di kepalanya. Dia menjadi sedikit gugup, dan kehilangan sedikit jati dirinya.
“Ma…Abi nanti mau sekolah, mama datang kan?”
Nina yang sedang minum tersedak. Nina menatap tissue yang terulur di depannya. Rinaldy bahkan memberikan benda itu padanya.
Dengan segera Nina lekas menghapus jejak air minum yang tadi membasahi pakaiannya.
“Nanti kakak harus kerja, maaf ya Abi!”
“Mama…mama…mama, kenapa mama bilang kakak?” Abian meletakkan sendoknya, dan memajukan bibirnya, melihat kedua tangannya di depan dadanya. Bocah kecil itu mengamuk.
Rinaldy memperhatikan Nina sebentar, gadis itu bahkan enggan untuk menatapnya. Bukannya Rinaldy ingin, tapi dia hanya merasa aneh jika Nina seperti ini.
“Abi, cepetin makannya atau ayah bakal ninggalin kamu nanti!”
“MAMA…POKOKNYA MAMA HARUS ANTERIN ABI DULU, AYAH!”
Mata besar itu melotot, dan mulai berkaca-kaca. Lagi dan lagi Abian membuat Nina tidak bisa melawan kelemahannya. Nina menatap Rinaldy sebentar, dan tidak ada tanggapan.
“Iyaa…Mama bakal nemanin kok, Abi harus cepat makan dulu ya!”
Bibir manyun itu langsung berubah ceria, Abian mengangguk, membuat rambut ikal berombaknya itu juga ikut bergoyang. Senyuman Nina sedikit terbit, dia kali ini mungkin akan merubah konsep pikirannya. Kemungkinan, dia sudah mulai menyukai anak kecil.
Mereka…tidak seburuk apa yang Nina pikirkan selama ini.
“Maafin Abi, Na. Dia emang semaunya aja, nanti kamu gak usah ikut, biar Saya saja yang nganter dia sekolah!”
Suara itu menghentikan Nina yang sedang asik memperhatikan senyuman Abian. Mata mereka sempat bertemu beberapa saat, sebelum Rinaldy lebih dulu mengalihkan perhatiannya. Membuat Nina juga segera kembali pada dirinya sendiri.
“Dan…maaf soal semalam juga. Saya benar-benar gak sengaja, Saya harap Kamu gak masukin hati. Itu cuman kejadian tidak terduga saja. Dan untuk jasa kamu malam ini, Saya juga akan membayarnya. Tidak ada yang gratis, bukan begitu?”
Nafas Nina berhenti. Kembali menatap Rinaldy yang sudah selesai dengan makanannya. Nafas Nina kembali terdengar, dia menatap punggung Rinaldy. Benar, Nina jadi merasa bodoh saat merasa jika Rinaldy sudah sedikit berubah.
Sayangnya, itu hanya harapan bodoh.
Nina pamit lebih dulu pada Abian dengan alasan ada keperluan khusus. Bocah pintar itu awalnya merajuk, dan tidak ingin dia pergi. Sayangnya, usaha Nina tidak sia-sia. Abian akhirnya setuju, dan membiarkannya pergi.
Sampainya di kantor, berbagai macam tatapan tertuju pada Nina. Membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Dia yakin, jika kejadian semalam pasti sudah tersebar di seluruh penjuru kantor.
“Sabar, Ni. Kamu hanya bekerja di sini, mereka gak kasih kamu makan kok. Gak usah di hiraukan!” Guman Nina dalam hati, berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
Pintu lift terbuka. Nina masuk ke ruangannya setelah menyapa Elsa yang hanya membalasnya seadanya. Wajah gadis itu terlihat tidak baik-baik saja, dan kantong mata itu menunjukkan jika Nina bersalah kali ini. Aturannya semalam mereka masih begadang, karena Jefri berkata jika yang punya nikahan sedikit tidak suka dengan beberapa ide mereka.
Jadilah mereka begadang sampai pukul 01 dini hari.
Memasuki ruangan, Nina di sambut dengan Jefri yang masih menguap.
“Ahh…lo udah balik? Jadi gimana semalam, satu kantor kepo kenapa anak si bos manggil lo mama. Apa jangan-jangan lo…”
“Ck!” Nina berdecak sebal, dia menatap Jefri yang lagi-lagi menguap dan menggosok matanya, “btw, semalam kalian begadang lagi?”
Jefri mengangguk lemas. Energi kehidupannya terasa tidak baik-baik saja, semua kapasitas otaknya benar-benar terpakai semalam. Itu…benar-benar mengerikan.
“Hari ini kita akan presentasi, trus lanjut survey lapangan. Ini project Wedding paling ribet yang pernah gue tangani. Tapi untungnya, mereka suka sama konsep yang lo kasih. Cuman dari pihak tamu undangan yang perlu revisi. Anak-anak udah kerja juga kok, jadi…gimana?”
Nina menyandarkan badannya.
Tidak tahu harus memulai darimana. Tidak mungkin dia mengatakan jika dulunya, dia dan Rinaldy pernah menjalin sebuah hubungan, lalu putus karena kesalahpahaman yang tidak terluruskan.
Itu memalukan. Nina juga tidak ingin membuat citra Rinaldy buruk.
“Kamu cuman kenal, gue juga terkejut kenapa anaknya bos manggil gue mama. Itu juga terjadi saat di taman, pas gue ditolak dari perusahaan Traveller.”
“Wohh, klasik sih, tapi gue percaya sama lo. Btw, semalam lo nginap dimana?”
Uhuk
Nina tersendak lagi saat tengah meminum mineralnya. Dia memperhatikan Jefri yang kini tersenyum jenaka, lelaki yang lebih tua darinya itu benar-benar tahu waktu yang tepat untuk membuat Nina merasa kesal.
“Gak usah dijawab, gue udah tahu!”
Tidak ada lagi jawaban. Nina memilih untuk segera mengerjakan proposalnya, dan memberikan materi yang akan mereka presentasikan pukul 9 pagi nanti. Dan mereka hanya memiliki sisa 30 menit sebelum presentasi di mulai.
“Lo udah, Ni?”
“Udah!”
Elsa mengangguk. Tampilannya sudah lebih fresh daripada saat tadi pagi. Sepertinya dia sudah membersihkan tubuhnya.
Semuanya berjalan ke aula rapat. Termasuk Nina yang kali ini punya tugas penting. Dia akan melakukan presentasi dengan Elsa, dan 65% presentasi akan dibawa olehnya.
“Udah siap, Ni? Pak Rinaldy sudah dalam perjalanan kemari!”
Nina mengangguk. Dia menatap rekan-rekannya yang lain yang juga mengangguk padanya.
Dari luar, terdengar suara khas Rinaldy yang tengah berbicara dengan seseorang. Nina yakin itu adalah orang yang akan menilai project Wedding mereka kali ini.
Begitu pintu di buka, semuanya lekas berdiri dan saling menyambut satu sama lain. Dan presentasi Nina di mulai.
Semua berjalan dengan cukup lancar, sekalipun Nina masih sedikit gugup. Beruntung Elsa, juga Rinaldy lekas mengambil tindakan jika Nina tidak bisa menjawab atau jika dia sedikit gugup.
“Jadi, itu adalah tema yang kami bawakan untuk Wedding yang Anda pesan, semuanya sudah sesuai dengan konsep. Jika ada masukan, dipersilahkan!” Nina mengakhiri presentasinya.
Wiryanto, yang saat ini ditugaskan untuk memeriksa WO apakah sudah sesuai dengan konsep atau tidak memperhatikan dengan detail kembali susunan acaranya, juga dengan band penghibur, konsumsi, dan semua yang termasuk di dalamnya.
“Saya pikir ini sudah sangat bagus. Jadi…kapan kalian akan mulai bekerja, sir Rinaldy?”
Rinaldy tersenyum sopan, “Panggil Rinaldy saja pak Wiryo, saya jadi sungkan jika bapak juga sungkan!”
Wiryanto tertawa, dan menepuk bahu Rinaldy. Mereka memang sudah kenal sebelumnya. Dan itulah sebabnya Wieyanto mempercayakan WO putri pemilik perusahaan besar itu pada Rinaldy. Karena dia tahu jika Rinaldy tidak pernah membuat citranya buruk terhadap pekerjaan.
“Kamu memang tetap sama saja. Jadi, kapan kantormu akan mulai bekerja, Rinaldy?”
“Karena Weddingnya 5 hari lagi, maka kami akan lekas bekerja untuk hari ini, pak. Sebenarnya sebagian karyawan lapangan sudah mulai bekerja beberapa hari lalu. Namun masih hanya yang dasar-dasar saja, tidak semuanya, karena proposalnya masih tidak disahkan!”
“Aku sangat suka dengan konsepnya. Siapa yang memilih konsep pernikahannya? Mempelai perempuannya sangat suka, dia bahkan ingin bertemu dengan siapa yang memilih konsep untuk pernikahannya. Dia bilang jika konsep itu punya makna yang sangat dalam!”
Semua tatapan kini tertuju pada Nina.
“Ahh…apa itu Anda yang memilih, nak?”
Nina mengangguk sopan. Dia tidak tahu jika konsep yang dia pilih akan di sukai.
“Konsepmu benar-benar menunjukkan dirimu. Sederhana, tapi elegan, itu cerminanmu sekali. Ahh…karena ini sudah selesai rapat, aku pamit dulu, masih banyak yang harus di urus di perusahaan. Terima kasih atas kerja keras kalian semua, semoga semuanya berjalan sukses.”
Anggukan di ruang rapat itu mengakhiri rapat mereka. Elsa dan juga Rinaldy mengantarkan beliau ke parkiran. Tepuk tangan di ruang rapat terdengar setelah pintu tertutup.
“Kau hebat, kami tidak pernah mendapatkan pujian seperti itu sebelumnya. Mungkin, inilah yang dikatakan dengan sentuhan wanita. Terima kasih, Nina. Tapi kita tidak bisa langsung bersenang-senang dulu, kita harus sibuk untuk 5 hari kedepan!”
“Ini berkat kita semua, aku senang bekerja dengan kalian!”
***
Mereka lekas menuju Langham Hotel. Tempat dimana pernikahan akan di adakan. Semuanya menyibukkan diri. Nina dan juga Jefri memeriksa semua tempat yang akan digunakan. Elsa dan yang lainnya membantu petugas untuk membantu petugas.
Waktu berlalu dengan cepat, pekerjaan mereka masih terselesaikan sedikit.
“Ini sudah waktunya pulang, kita lanjutin besok aja yok. Anak gue udah nangis minta di jemput dari tadi!” guman Jefri, satu-satunya yang berani mengatakan waktu untuk pulang.
“Tapi…ini masih nanggung Jef, lo pulang sendiri aja deh. Yang lain di sini aja dulu, daripada di kerjain besok, lebih baik sekarang aja!”
Mendengar Kana yang bicara, semua wajah-wajah yang tadi cerah berubah menjadi suram lagi. Kana memang penggila kerja, gadis dengan kacamata tebal itu terkenal sangat rajin di kantor mereka.
“Lo aja sendiri gimana, Kana? Kita-kita manusia loh, mesti isi ulang dulu, gak bisa terus ngegas buat kerja. Yang ada ntar semua malah jadi berantakan!” tolak Juan, dia membenarkan posisi kacamatanya, dan menatap yang lain.
Meminta bantuan.
“Benar Kan, gue udah capek banget loh dari semalam begadang!” Elsa yang baru saja ikut berkumpul setuju dengan rencana Jefri.
Kana yang merasa dipojokkan akhirnya memilih untuk bungkam dan mengemas tasnya lebih dulu. Bahkan lekas pergi tanpa pamit.
Nina hanya bisa tersenyum. Manusia memang unik. Hal itu selalu saja membuat Nina tidak bisa berhenti untuk mengagumi ciptaan sang kuasa. Dia menciptakan berbagai macam perilaku manusia untuk menjadikan semuanya bertumbuh menjadi dewasa.
“Ya udah, kita balik aja malam ini. Besok pagi kita gak usah ke kantor, langsung ke sini aja, pakai baju bebas aja. Kita juga gak ada projek selain ini. Mungkin cuman gue aja yang besok laporan ke kantor, sisanya langsung ke sini aja ya!” Elsa mewakili.
“Pak bos dimana, El?” seru Jefri.
“Biasalah. Kita cuman kacung biasa, gak layak buat nanya dimana pak bos. Mungkin lagi santai kali?”
Jefri memutar bola matanya malas. Lalu lelas berbena juga. Semuanya sudah sibuk berbena, dan mulai menghilang satu-satu. Begitu juga dengan Nina, Elsa, dan juga Jefri yang kini sudah berdiri di lobby.
“Arah rumah kita bertiga beda, sorry ya, gue bukannya pelit, tapi anak gue udah cengeng banget!”
“Iya gapapa kok, Jef. Lo pergi aja, lagian grap juga banyak!” seru Nina.
“Okey deh, gue pamit duluan, hati-hati di jalan, jangan sampai ditabrak nyamuk!”
Elsa dan Nina tertawa pelan. Mereka keluar dari lobby, dan menunggu di depan taman.
“Gue duluan ya, Ni. Jangan begadang malam ini, lo harus jaga kesehatan juga!”
Nina melambaikan tangannya begitu grab Elsa datang lebih dulu dan menghilang bersamaan dengan mobil-mobil lain yang saling berebut siapa duluan di jalan raya. Nina tersenyum, Jakarta dan kemacetannya memang satu hal yang tidak akan bisa dipisahkan.
Perhatian Nina tertuju pada ponselnya. Pesan masuk dari Harry. Benar juga, dia tidak memberikan kabar pada sobatnya itu karena kesibukannya juga.
Nina lekas melangkah memasuki mobil yang sudah dipesan.
***
“Lo…minta putus?”
Wajah datar di depan Harry cukup menunjukkan apa yang saat ini terjadi. Aca, pacar Harry semenjak kuliah itu benar-benar membuat Harry merasa tidak baik-baik saja. Dia menatap wajah Aca yang memerah, matanya bahkan sudah memerah.
Inilah alasan Harry tidak suka memulai sebuah hubungan.
Dia memang tidak pernah menyukai Aca dengan tulus. Mereka jadian karena Nina yang menjodohkan mereka, dan juga karena Harry ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi hubungan.
Walaupun nyatanya, hubungan mereka…bahkan bisa dikatakan bukan seperti pasangan pada umumnya. Setiap kali Harry minta ketemuan, Aca pasti selalu banyak alasan dan mengatakan jika dia sibuk.
Bukan apa-apa sebenarnya, Harry tidak keberatan dengan hal itu. Karena dia menghubungi Aca-pun karena di paksa dengan kedua temannya—Nina dan Vira.
“Maafin gue, Ry. Tapi gue rasa kita emang gak cocok. Sorry, gue pergi duluan!”
“Tapi…”
Harry mengurungkan niatnya. Dia menatap punggung Aca yang sudah berlalu dari restoran. Tatapan Harry tertuju pada langit yang cerah. Dia mengambil ponselnya, dan menatap pesannya yang tidak dibalas Nina sejak semalam.
Ada perasaan aneh saat Nina perlahan mulai jarang membalas pesannya.
Meskipun Harry tahu jika Nina sibuk dengan pekerjaannya. Juga Vira yang bahkan tidak lagi pernah berkunjung ke gerainya.
Temannya perlahan menjauh.
Harry memutuskan untuk mengirimi Nina pesan selagi gadis itu online. Dia lekas mengambil ranselnya, dan ikut berlalu dari arah gerai restoran.
Mungkin, ada baiknya jika Harry kembali pada kehidupannya dulu. Sebelum ada teman-temannya yang membuat hari-harinya berwarna.
Karena ada saatnya semua itu akan menghilang, itu tidak permanen, dan Harry sadar akan hal itu. Dia tidak seharusnya menjadi egois, Harry juga harus menjalani kehidupannya sendiri.