Nina POV
“Na…”
Aku tersentak saat mendengar suara dari belakang. Tanganku lekas mengambil tissue dan menghapus jejak air mata yang tadi sempat menguasaiku.
“Loh…kamu nangis?”
Harry duduk di sebelahku sembari menyodorkan segelas kopi. Aku menggeleng, menandakan bahwa aku baik-baik saja. Tapi aku tahu jika Harry tidak akan pernah bisa di bohongi.
“Gak…aku gak nangis kok, cuman kelilipan aja tadi!”
Hening sejenak. Baik aku dan juga Harry sama-sama tidak ada yang berbicara. Tatapanku lurus kedepan, kelap-kelip lampu malam menghiasi gelapnya malam.
“Kamu tahu Na? Kita udah temenan dari mulai kuliah, sampe sekarang, dan kalo lo masih bilang gak kenapa-apa. Aku cukup sedih, Na!”
Kali ini, semuanya terasa kembali berputar di kepalaku. Rasanya sesak, mendengar kata itu keluar langsung dari mulutNya, membuatku merasakan semua duniaku háncur.
Kenapa? Kenapa harus menjadi seperti ini, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?
“Aku ketemu sama Rinaldy lagi!”
“APA? Rinaldy mantan kamu?”
Aku mengangguk, ucapan Harry tadi benar. Dia adalah satu-satunya temanku yang tahu seluk beluk kehidupanku seperti apa. Jadi, tidak ada juga gunanya untuk berbohong darinya.
“Jadi, kamu nangis karena ketemu dia lagi? Na…”
Harry memiringkan badanku, membuat perhatianku hanya tertuju padanya. Tatapannya menunjukkan belas kasihan, aku tahu apa yang kali ini sedang dia pikirkan.
“Na…you’re so special, dan dia gak berhak buat dapetin kamu. Jika Rinaldy itu bijak, dia gak bakal ninggalin kamu kek gini. Air mata kamu ini gak pantes loh buat dia, jadi…” Harry menghapus jejak air mata di wajahku.
Sekilas, aku merasakan jika waktu berhenti. Tapi aku lekas menarik diri dari Harry, dan kembali menatap bangunan kota. Harry itu sahabatku, dia satu-satunya orang yang mau mendengarkanku.
“Kamu gak sedih lagi kan?”
“Harry…”
Kali ini aku serius, aku kembali menatap wajahnya sedikit serius.
“Apa?”
“Mau gak jadi pacar gue? Bosan gue hidup gini terus”
Plakk—bukannya jawaban, Harry malah menjitak keningku. Aku tertawa melihat wajahnya yang memerah karena marah. Harry memang sangat sensitif jika sudah berhubungan dengan hal seperti ini.
“Lo ngajak pacaran berasa ngajak anak orang main petak umpet Na, kamu pikir hati untuk dimainkan gitu? Enggak!.”
Aku tidak bisa menahan gelak tawa mendengar lantunan nada frustasi Harry.
“Udah ah…jadi, setelah ketemu Rinaldy, kamu kok sedih gini? Bukannya kamu udah lama move on dari dia? Atau karena dia, sampe sekarang kamu gak punya pacar?”
Lagi-lagi aku hanya bisa menggeleng. Dikatakan move on juga tidak, dikatakan gak punya pacar karna Rinady…bisa ya, bisa tidak. Tapi faktanya, setelah kami berpacaran dan ternyata berpacaran tidak seenak yang aku pikirkan, aku…aku jadi berpikir untuk menjalin hubungan lagi.
Aku takut untuk dikecewakan. Cengeng, dan mungkin lebay, tapi percayalah, jika sudah sering dikecewakan, maka suatu saat pasti ada titik dimana kita tidak lagi ingin berada di posisi itu.
“Dia udah punya anak. Dan…dan pas pertama…”
“WHATT? LO BILANG APA BARUSAN?”
“Harry…!”
Aku menatap Harry jengkel, lalu mengusap telingaku yang terasa berdengung. Harry berteriak tepat di telingaku. Membuatku ingin menghantamkannya ke batu.
“Hehehe…maaf, Na. Kamu sih, mukamu lempeng banget pas bilang Rinaldy udah punya anak!”
“Ck! Udah deh, gosah lebay. Dia memang udah punya anak, putranya tampan!”
“Wait, kamu jatuh cinta sama putranya? Hebat ya, gak bisa ambil jalur darat, jalur angin pun dilewati!”
“Ry, denger dulu ah. Malas gue kalo udah gini!”
Harry hanya tertawa dan membentuk tanda pitch di antara sela jarinya. Lalu segera diam, menunggu kelanjutan ceritaku tadi.
“Jadi, pas 2 hari lalu, itu kan aku baru di tolak. Jadi, karena panas, aku neduh di taman. Trus, ada anak kecil yang lari ke arah aku trus manggil mama sambil nangis. Awalnya aku bingung mau ngapain, tapi pas lihat bola matanya, aku gak jadi ngusir dan meluk dia. Trus, pas udah lama, Rinaldy muncul dan mengambil anak yang ada di tangan aku, sambil manggil daddy gitu!”
“Oh My God! Poor Nina, gila sih, aku tahu perasaan kamu sekarang. Jadi…kenapa kamu sekarang sad lagi? Hasil interview nya gimana, Na?”
Pertanyaan itu membuatku harus kembali mengingat kejadian tadi siang. Mataku berkaca-kaca saat mengingat perkataan lelaki itu.
“Perusahaan itu punya dia juga, dan udah pasti dia bakal nolak aku!”
Kembali hening, tidak ada lagi yang membuka suara. Dan isakanku mulai terdengar, dádaku sesak saat kembali mengingat kata-katanya.
“Dia ngatain aku jaláng, dia bilang aku perusák hidup orang. Apa…apa aku seburuk itu, Ry? Kenapa? Kenapa harus aku, aku juga gak mau berada di posisi merusák hidup orang lain.”
“Na!” Harry menarikku ke dalam pelukannya, menepuk punggungku dan mengusap bahuku.
“Aku tahu, aku tahu aku miskin dan tidak terlalu beruntung. Tapi…tapi aku tidak pernah menjadi seorang jálang, aku…aku punya harga diri, Ry. Aku…”
Kata-kataku terasa tercekat, aku tidak mampu untuk melanjutkannya lagi. Semuanya terasa tidak adil, rasanya benar-benar takdir sedang mempermainkanku. Aku tidak pernah ingin merusák apapun, aku…aku…
“Na, listen to me. Kamu gak perlu ngelakuin apapun sama dia, cukup buktiin kalo dia yang salah. Lagipula, Rinaldy itu juga salah, dia gak mau dengerin penjelasan dari kamu. Sekarang stop crying pliss, aku jadi mau nangis juga. Kamu gak sendirian, ada aku Na, ada Lia yang lebih membutuhkan kamu!”
“Tapi Ry, aku tidak tahan jika harus begini terus. Aku tahu mengeluh itu salah, tapi aku benar-benar sudah tidak mampu untuk bertahan!”
“Na…please!”
Harry diam, tidak lagi membuka suaranya. Isakanku juga perlahan sudah mulai menghilang. Digantikan dengan rasa haus, kali ini aku ingin minum alkohol, sekalipun aku tahu itu tidak baik untuk kesehatanku.
“Mau kemana?”
Aku menatap Harry yang menahan tanganku. “Mau ke bar, aku mau minum alkohol dulu. Mau ikut gak? Kalo gak, yaudah!”
“Na, kamu gila? Jangan gara-gara cowok, kamu jadi gini. Ke bar juga, emang kamu punya uang?”
Langkahku berhenti di anak tangga, kami memang sedang berada di atap gerai kopi milik Harry. Dan perkataannya barusan sangat benar, sok-soan mau ke bar, makan aja susah. Aku kembali duduk dan menekuk wajah saat menatap Harry menatapku kesal.
“Udah, gak usah sok-soan an deh mau mabuk-mabukan. Kita berbeda kasta dengan mereka. Better kalo kia minum ini kopi aja, aku ada bawa…tada!”
Harry dengan antusias menunjukkan beberapa bungkus kacang kulit di depan wajahku. Tanganku menjauhkannya, setidaknya tidak di depan wajahku juga. Wajah Harry masih menunjukkan kegembiraan.
“Gimana? Kacang sama kopi, sama drakor, kurang apa lagi coba?”
“Kamu yang terbaik, Ry.” Kekehku, tidak bisa menolaknya lagi.
BERSAMBUNG