“Dari mana saja lo?” Luara menatap Lucas dengan tatapan tajam, lalu menghembuskan napas kasar. Laura lebih memilih untuk pergi, mengabaikan Lucas dan kembali ke meja kerjanya dari pada harus melayani atasanya yang super nyebelin. Lucas tidak pernah bersikap baik padanya, pria itu selalu ketus dan juga galak. Apa-apa marah padahal Laura tidak melakukan kesalahan. Semanjak Revano memindahkannya menjadi sekretaris atasnya yang menyeramkan itu, hidup Luara seperti berada di dalam neraka. “Laura, gue tanya!” seru Lucas. “Anter Melanie.” Laura tidak menoleh ke arah pria tampan yang berdiri di depan mejanya. Ia memokuskan kedua netranya pandangani layar komputernya. “Kemana?” Laura lagi lagi menghembuskan napas, kini ia menaikan pandangannya pada atasnya. Selain galak, ketus. Tapi pria

