“Bagaimana dengan anak saya dok?” Melanie kembali cemas, begitu juga Andi dan Revano yang berdiri saling berhadapan dengan dokter. Digenggamnya erat jemari Melanie yang telihat bergetar menunggu dokter tersebut memberitahukan kondisi Arkana. “Maafkan saya, tuan dan nyonya. Anak anda—“ ‘Maaf? Maaf untuk apa?’ batin Melanie mendadak hatinya mulai tak enak mendengarkan kata ‘Maaf’ “Anak saya kenapa dok?” tanya Melanie dengan nada tinggi. Dokter laki-laki tersebut pun nampak menghembuskan napas pelan. “Saya dan tim meminta maaf, kami sudah berusaha menyelamatkan putra anda. "Namun keadaan pasien mengalami pendarahan hebat di kepalanya hingga mengalami banyak kehilangan darah dan henti jantung.” Deg! Degup jantung Melanie berdetak cepat, bersamaan tubuhnya mundur selengkah ke belak

