"Sial! Kenapa semuanya jadi seperti ini?" batin Mirza dengan rasa frustrasi yang melanda. "Wanita ini sudah aku ambil keperawanannya, dan sekarang, jika terus begini, Oma pasti bisa curiga."
Pikirannya kalut, kekhawatiran yang datang begitu tiba-tiba membuatnya merasa terjepit dalam situasi yang semakin sulit.
Sadar bahwa Mirza menatapnya dengan penuh kemarahan, Yoeja menundukkan wajahnya, berusaha sekuat tenaga untuk menjauh dari tuan mudanya itu. Setiap detik yang berlalu seakan menggerogoti ketenangannya. Dia hanya ingin menghindar dari sorotan tajam yang begitu menusuk.
"Dasar!" pekik Mirza. Kata-kata itu keluar dengan penuh amarah, membuat udara di ruangan semakin tegang.
Suara bentakannya memecah keheningan. Indriana, yang berada di dekatnya, mendelik. Matanya menatap Mirza dengan amarah yang terbakar. Keheningan yang semula mengambang kini dipenuhi ketegangan yang kian memuncak.
Mirza terkejut, merasakan tatapan tajam dari neneknya yang langsung menghantamnya. Ketakutan mulai menyelimuti dirinya. Rasa cemas menyebar di sekujur tubuhnya.
"Apakah Yoeja sudah memberitahukan semuanya?" pikirnya. Rasa khawatir semakin mendalam. Dia takut neneknya mulai mencurigai perlakuannya semalam, dan itu bisa berakhir sangat buruk baginya.
"Kamu kenapa, Mirza? Kenapa menatap Yoeja seperti ingin memakannya?" tanya Indriana dengan tatapan penuh kebingungan.
Sorot matanya begitu tajam, seolah ingin menemukan jawaban yang tak terucapkan. Mirza merasa salah tingkah di hadapan neneknya. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Nggak... papa, Oma," jawab Mirza cepat, berusaha menenangkan situasi.
Mirza buru-buru menjauh dari meja makan, berharap Indriana tidak melanjutkan pertanyaannya. Kecemasan mulai menguasai dirinya, dan dia berusaha menghindari perhatian lebih jauh.
Mirza berjalan cepat menuju dapur, matanya tertuju pada Yoeja yang sedang sibuk dengan tugasnya. Tanpa peringatan, dengan kasar, pria itu menarik rambut Yoeja, membuatnya terkejut dan kesakitan. Matanya penuh amarah, tatapan bengis yang membuat suasana semakin mencekam.
"Awas saja kalau kamu buka mulut," ancam Mirza dengan suara rendah penuh kebencian.
"Aku tidak akan segan-segan menghabisimu." Kata-kata itu seperti pisau yang mengiris, membuat Yoeja menelan saliva. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Setiap detik terasa seperti siksaan. Rambutnya ditarik dengan kasar, dan Yoeja meringis menahan sakit. Perasaan terperangkap dan takut begitu mendalam. Tubuhnya gemetar, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ingat baik-baik, jangan sampai ada yang tahu tentang masalah ini!" Suara Mirza yang berat menggetarkan udara. Cengkeramannya semakin membuat Yoeja merintih kesakitan. Tangannya yang kasar menekan rahang Yoeja, semakin menambah penderitaan fisik yang dirasakannya.
"Tuan... lepaskan..." Yoeja mencoba memohon dengan suara yang terputus-putus. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Setiap detik berlalu terasa seperti siksaan yang tak berakhir. Tubuhnya semakin lemah dalam genggaman Mirza.
Mirza menatapnya sebentar, lalu suara beratnya kembali terdengar. "Saya akan melupakan masalah ini," katanya. Kalimat itu terucap begitu datar, namun diiringi dengan air mata Yoeja yang mulai menetes di pipinya.
Melihat ketakutan yang tergambar jelas di wajah wanita itu, Mirza akhirnya melepas tubuh Yoeja dengan kasar, seperti membuang benda yang tidak lagi berguna.
Yoeja terhuyung mundur. Tubuh rampingnya terbanting ke sudut meja dengan keras. Pinggangnya terasa nyeri luar biasa.
"Aduh!" keluhnya, mengusap pinggangnya dengan lemah.
Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan perasaan jijik yang memenuhi hatinya. Kenangan tentang kejadian semalam datang kembali, dan setiap detik itu membuat Yoeja semakin merasa kotor dan tak berharga.
"Yoeja!" suara Indriana terdengar memanggil dari kejauhan.
Yoeja cepat-cepat mengusap air matanya, membasahi wajahnya dengan air dari wastafel, dan kemudian mengeringkannya dengan tergesa-gesa.
Langkah kakinya gemetar saat melewati Mirza yang menatapnya tajam, seolah setiap gerakan yang dia buat diperhatikan dengan penuh kebencian.
"Aku tidak segan-segan membuatmu menderita," ujar Mirza dengan suara pelan namun penuh ancaman. Raut wajahnya menatap tajam seperti pisau yang siap mencabik-cabik mangsanya.
Rasa takut yang mendalam merayapi hati Yoeja, membuatnya semakin tergesa-gesa. "Kenapa lama sekali?" desak Indriana, suaranya penuh kekesalan, seolah mempertanyakan setiap detik yang terbuang.
Yoeja hanya bisa menundukkan kepalanya, mencoba menghindari tatapan tajam pria itu.
"Maaf, Nyonya. Tadi pinggang saya sakit. Sepertinya saya perlu sedikit istirahat," jelas Yoeja dengan suara lembut. Meskipun dalam hatinya, rasa sakit yang ia rasakan jauh lebih dalam dari sekadar fisik.
Indriana menatap Yoeja dengan seksama. Rasa penasaran mulai muncul di wajahnya. Dia melontarkan pertanyaan dengan nada penuh perhatian. "Kenapa bisa sakit?"
Yoeja berusaha menjaga wajahnya tetap tenang. "Tadi saya terpeleset di dapur saat selesai mencuci piring," jawabnya dengan nada meyakinkan.
Penjelasan itu membuat Indriana tersenyum kecil, seolah menerima jawaban tersebut tanpa rasa curiga. "Kalau begitu, kamu istirahat saja. Siang nanti saya akan makan di luar dan bertemu klien. Jadi, tidak perlu menyiapkan makan siang."
Yoeja menundukkan kepala. Rasa terima kasih bercampur dengan kesedihan yang dalam dirinya.
"Tidak, Nyonya. Saya baik-baik saja," jawabnya pelan. Namun, dalam hatinya, rasa sakit yang ia rasakan jauh lebih mendalam, bukan hanya fisik, tapi juga emosional.
Indriana hanya mengangguk sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.
Sementara itu, Mirza kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Ketakutan akan rahasia yang terbongkar terus menghantuinya. Dia tahu betul bahwa jika Indriana mengetahui perbuatannya, posisinya dalam keluarga akan hancur.
Mirza berdiri di depan cermin, menatap bayangannya dengan ekspresi muram. Pikirannya berputar, mencari jalan keluar. "Aku harus memfitnahnya. Kalau Yoeja dituduh mencuri, aku bisa menyingkirkannya tanpa ada yang curiga."
Dia berjalan menuju brankas milik Indriana, mengambil sebatang emas, lalu menyembunyikannya di laci dapur tempat Yoeja sering bekerja. "Semua ini demi menyelamatkan diriku," bisiknya dengan nada dingin.
Tak lama kemudian, Mirza menemui Indriana di ruang tamu. "Oma, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ucapnya, mencoba terdengar serius.
Indriana menatap cucunya dengan perhatian. "Apa itu, Mirza?"
"Saya kehilangan emas batangan dari brankas. Saya curiga Yoeja yang mencurinya," jawab Mirza tegas.
Mata Indriana menyipit, menyiratkan kebingungan dan keterkejutan. "Yoeja? Kenapa kamu bisa berpikir begitu?"
"Dia sering berada di dapur dan beres-beres semua ruangan dekat area brankas, Oma. Tidak ada orang lain yang mungkin melakukannya," lanjut Mirza, suaranya terdengar yakin.
Indriana menghela napas panjang, tampak ragu. "Tapi Yoeja sudah bekerja di sini selama bertahun-tahun. Tidak pernah sekalipun dia menunjukkan tanda-tanda mencuri. Kamu yakin?"
"Saya sudah memeriksa semuanya, Oma. Dan emas itu ada di tempat dia biasa bekerja," balas Mirza, menambahkan keyakinan pada ceritanya.
Indriana termenung sejenak sebelum akhirnya berkata, "Baiklah. Panggil Yoeja ke sini. Kita akan bicara dengannya."
Mirza segera memanggil Yoeja, yang datang dengan langkah gemetar. Wajahnya pucat saat melihat ekspresi tegas di wajah Mirza dan Indriana.
"Yoeja, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Indriana dengan nada lembut namun tegas.
"Iya, Nyonya," jawab Yoeja, suaranya hampir tidak terdengar.
"Apakah kamu tahu soal emas batangan di brankas saya?" tanya Indriana, matanya menatap lurus ke arah Yoeja.
Yoeja tertegun. "Tidak, Nyonya. Saya tidak tahu apa-apa tentang itu," jawabnya dengan jujur.
Mirza melangkah maju, suaranya meninggi. "Jangan bohong, Yoeja! Kami menemukan emas itu di tempat kamu bekerja. Tidak mungkin ada orang lain yang melakukannya!"