7

1250 Words
"Oiya," Sean menjeda sejenak ucapannya, membuat Aire mengerjapkan mata, menunggu saat laki-laki tinggi itu melanjutkan, "Jaga-jaga kalau kamu lupa. Kali ini, saya bakal ikut serta dalam proyek." Aire menggigit dalam pipinya, berusaha tidak mengeluh karena sepertinya Sean saja bisa mendengarnya bernapas. Betulan kah Sean ikut dalam proyek? Sejak kapan? "Sejak kemarin." Jawaban Sean membuat Aire agak terlonjak. Sebentar! Apakah Sean Abraham ini bisa membaca pikiran? "Ngga usah kaget. Kan saya udah bilang di rapat kemarin." Masa sih? "Kamu ngga nyimak ya?" tuding Sean dengan mata memicing. "Uhm, nyimak kok, Pak. Tapi mungkin ngga semua karena... saya kurang fokus," jawab Aire susah payah. Ya ampun! Kenapa suaranya jadi tercekat begini sih? Sean kemudian mengangguki jawaban Aire dengan wajah serius, bergumam, "Benar juga, kamu pingsan kemarin." Boleh tidak Aire nyungsep ke bantalan sofa yang ada disana? Kenapa harus diingatkan soal kejadian pingsan kemarin coba? Aire saja tidak menyangka bakalan pingsan karena melewatkan makan malam dan sarapan. Sean kemudian menaruh iPad-nya di meja, lantas melirik jam tangan di pergelangan. "Apa agenda kamu hari ini?" "Eh- survei tanaman, Pak." "Dimana?" "Bogor. Bukan- maksudnya di sekitaran Jakarta juga ada, Pak." Sean menaikkan sebelah alis. Dia berdiri untuk menghampiri Aire. Entah pegawainya itu memakai blush on atau tidak, tapi Sean melihat ada rona cantik disana. Serasi dengan bibirnya yang ternyata cukup ranum. "Kamu maunya kemana?" "Jakarta, Pak." "Oke, kita ke Bogor." Loh?! Kok Bogor?! Sebentar. Kenapa setiap ada Sean, Aire mendadak lemot? Apa keberadaan laki-laki itu menyabotase radar berpikirnya dan menghalangi kelancaran sinyal? Tanpa mengindahkan Aire, Sean sudah meraih iPad yang tadi di meja, menatap pegawainya sambil lalu. "Ngapain bengong? Kita berangkat sekarang." "Pak, sebentar. Saya harus ijin ke Pak Arjuna-" "Saya bosnya Arjuna." Iya juga sih. *** Hengkangnya Sean Abraham dari ruangan Arjuna rupanya tidak luput dari pandangan beberapa staf di lantai 27. Mereka kemudian juga memandangi Aire yang baru keluar dari ruangan yang sama. Menghampiri kubikelnya, Aire meraih tas dan membereskan map yang berisi daftar tanaman yang akan dia survei. Iya, survei dulu. Belanjanya nanti setelah membuat proposal dan dana cair. Dan yang paling penting, survei dari jauh hari tidak akan membuatnya tergesa saat pembangunan sudah mencapai tahap finishing. "Re, lo mau kemana?" tanya Bila dari kubikel sebelah. Kepo. "Survei tanaman." "Sama Pak Sean?" Aire mengiyakan. "Berarti bener ya? Pak Sean kali ini bakal turun langsung ke proyek." Lagi-lagi, Aire mengiyakan. "Bil, nanti kalau Pak Arjuna tanya, bilangin ya aku berangkat survei," pesan Lyra tanpa menoleh. Sedang menyimpan file yang tadi dia garap, lalu mematikan komputer. Beres. "Re?" "Ya?" "Survei tanaman apa nge-date sama Pak Sean?" Bila cekikikan duluan. Aire langsung cemberut. Dia kemudian beranjak ke loker sepatu. Mengganti alas kakinya yang sekarang dengan sepatu kets. Kan tidak mungkin Aire mengenakan flat shoes seharga jutaan rupiah itu buat turun lapangan. Bagaimana kalau dia harus datang ke lahan lagi dan banyak lumpur menempel? Mungkin Sean Abraham bakal langsung menjulukinya sebagai pegawai tidak tau diri. Cewek itu bergegas ke arah lift. Mulanya dia tidak tau harus kemana karena tidak tau pula harus menyusul Sean kemana. Tapi... laki-laki itu di depan lift yang terbuka, tidak kunjung masuk. Begitu melihat Aire, Sean berdesis. "Ngga bisa lebih cepat lagi ya?" Dan kemudian langsung masuk lift. Aire buru-buru menyusul sebelum mulut Sean yang agak s***s itu makin s***s. Tangan Sean terulur menekan tombol menuju basement. Selama beberapa saat, tidak ada yang bicara. Dan tidak ada sesuatu buat dibicarakan. Hanya hening. Dan Aire kembali mengenali aroma parfum dan aftershave Sean yang memikat. Aire melirik sosok tinggi di sebelahnya. Tinggi sekali sampai dia hanya sebatas dagunya. Sean Abraham hanya berdiri santai. Tapi bahu lebar dan punggung tegapnya membuat laki-laki itu terkesan gagah. Padahal yang selama ini Aire temui, laki-laki tinggi biasanya terkesan kurus dan jangkung. Tapi Sean... Uh, bagaimana bisa ada laki-laki dengan bahu lebar sekeren itu? "Pak?" "Apa?" "Untuk survei... masih bisa dengan tanaman yang ada di Jakarta aja, Pak." Agaknya Aire masih keberatan dengan pergi ke Bogor bersama Sean. Satu ruangan saja mati kutu, apalagi pergi bareng. Dan semakin keberatan saat tau kalau ternyata mereka hanya pergi berdua. Leon tidak ikut karena Sean menyuruhnya untuk tugas lain. Yang membuat Aire ingin menjedukkan kepala ke pintu mobil adalah, Sean tidak memakai supir! Tentu saja itu amat sangat mengherankan untuk ukuran direktur utama sekelas Sean kan? Pada akhirnya, sekarang, hanya ada mereka berdua di Lexus milik laki-laki itu. Sean mengemudi tanpa bicara. Mata kecilnya menatap tajam ke jalanan di depan. Dia bahkan tidak menyetel radio untuk memecah hening! Membuat tangan Aire gatal ingin menyalakannya. Masa iya sampai Bogor dengan situasi sehening ini? Apalagi mereka bakal ke Bogor Selatan. Ke tempat penjualan tanaman hias terbesar di Indonesia berada. Memikirkan akan sejauh itu perjalanan kalau hanya dilalui berdua saja, Aire menelan salivanya susah payah. Dibasahi bibirnya yang terasa kering dan memanggil, "Pak Sean?" "Kenapa lagi?" Jutek sekali, Bosku. "Kalau ke Bogor jauh." "Saya yang nyetir, kenapa kamu yang keberatan?" Duh, Aire mau bilang apa? Masa iya dia mengutarakan kalau tidak nyaman pergi berdua saja dengan bosnya itu? Jangan-jangan nanti Sean malah mencap Aire sebagai pegawai yang suka berpikir macam-macam soal atasannya. "Saya juga mau ke Bogor," tambah Sean. "Mau survei tanaman juga, Pak?" "Ya ngga lah," sahutnya, masih dengan kesan dingin-dingin jutek yang membuat Aire ingin mematikan AC mobil. Duh, memang banyak mau sekali Aire ini. Habisnya dingin. "Saya cuma pengen jalan aja." Aire jadi melamun lagi. Jangan-jangan kalau Sean melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri atau ke tempat manapun, itu sebenarnya hanya untuk jalan-jalan semata? Hmm, kalau sudah begini, apa gaji yang diterima Sean termasuk gaji buta ya? *** Sean semakin yakin kalau pegawainya ini memang punya dunia sendiri dalam benaknya. Sudah begitu, hobi bengong pula. Untung kinerjanya bagus. Kalau tidak, dia mungkin bakal menegur Arjuna yang diam-diam membujuk kepala HRD untuk menerima Aire Senjakala di tim arsitek. Iya, diterimanya Aire di perusahaan itu karena hasil dari nepotisme. Sekali lagi, untung kinerjanya bagus. Terus juga lumayan rajin meskipun suka tergopoh. Sekarang sudah lewat jam 11 siang. Mereka sudah memasuki kawasan Bogor. Lagi-lagi terjebak di jalanan padat seperti di Depok. Jari telunjuk Sean mengetuk setir mobil dengan berirama. Sesekali kaki kirinya melepas rem agar mobil maju perlahan di tengah padatnya jalan sebelum lampu merah. Mau dibilang emosi gara-gara macet, tidak juga. Toh nyatanya dia agak-sedikit menikmati perjalanan ini. Hanya sedikit. Setidaknya dia tidak menyesal karena tidak memakai supir. Sayangnya, manusia yang duduk di sebelah Sean sudah tertidur lelap sejak setengah jam lalu. Tepatnya waktu baru tiba di Cibinong dan mata mulai terasa segar karena bisa menikmati pemandangan hijau sesekali. Gara-gara Aire tidur, mobil jadi makin sepi. Tangan kiri Sean terulur untuk menyalakan radio yang menyetel lagu-lagu Indonesia tahun 2000-an. Lagu yang menemani masa-masa kuliah Sean, dulu. Sebagai bagian dari proses pemulihannya. Sean baru sadar kalau AC di sebelah kiri mengarah tepat ke Aire. Jadi laki-laki itu menoleh ke kiri. Ini kali pertama dia menoleh dan mengamati Aire sejak mereka meninggalkan kantor. Dan, pandangannya bersua dengan kepala Aire yang terkulai ke pangkal sabuk pengaman. Benar-benar lelap. Agaknya juga kedinginan karena kemejanya tidak terlalu tebal. Kedua tangan Aire bersedekap, menghalau dingin. Apalagi di luar mendung gelap dan gerimis. Memang pasti dingin. Sean menatap lagi ke depan. Masih ada 75 detik sebelum lampu hijau. Dia melepas jas hitam, kemudian menyampirkannya di bahu Aire. Merasa kurang, Sean juga merebahkan sandaran kursi cewek itu. Sudah bisa ditebak, tidurnya makin pulas saja. Sampai tidak terasa kalau tadi hidung mancung Sean sempat mendarat di pipi Aire waktu merebahkan sandaran kursi. Iya, untuk sesaat, Sean sempat menyurukkan wajahnya di cerukan leher Aire dan menghidu aroma beri vanila cewek itu. Candu. *** []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD